Jumat, 24 April 2009

Ha Pe

HaPe
Oleh : qolamul ghozi syakuur
Dua huruf yang sering kita kenal sebagai alat komunikasi zaman sekarang. Mengapa saya katakan zaman sekarang? Dulu hape adalah barang mewah yang hanya dimiliki oleh orang kaya saja, bayangkan…harganya saja sampai jutaan. seiring berkembangnya teknologi harga barang yang satu ini menjadi lebih murah. Bayangkan lagi saja, masak beli pulsa dapat hape, padahal untuk beli kartu perdana saja dulu harus menyediakan paling sedikit 300 ribu perak. Coba bayangkan lagi(perasaan dari tadi bayangkan mulu ya… ini dah yang ketiga kalinya loh!) nha sekarang perdana saja ada yang tiga ribu perak, itupun dengan isi pulsa lima kali lipat dari harga perdananya. Hayo,…piye jal?

Perkembangan teknologi tentunya menimbulkan dampak baik positif maupun negative. Positifnya sih kita bias berkomunikasi lebih mudah, yah katakanlah seperti tidak ada jarak, apalagi sekarang sudah ada fasilitas triji. Nggak nyangka loh, dulu waktu kecil pengen banget punya hape (tapi dulu nyebutnya bukan hape, tapi telpon hawa…ih lucu ya, kayak istri nabi adam saja) kayak punyanya april, donatelo, Michael anggelo, Leonardo dan Raphael, kita semua tahukan siapa mereka? Siapa lagi kalo bukan kura-kura ninja. Tapi ini merupakan malapetaka bagi kantor pos, sahabat pena jadi males mbales surat, otomatis omzet prangko menurun drastic dong, tapi aku tetep kok pake jasa pos. paling tidak untuk kirim-kirim barang misalnya. Thanks mr postman.

Tapi,…tetep aja hape punya peranan penting dalam sejarah masa depan manusia (loh,…sejarah kok masa depan sih?, tau ah bacanya tulisan ini seratus tahun lagi aja, kan jadi sejarah…hee) ya…sekali lagi punya peranan penting. Siapapun tidak pandang bulu kaya, miskin, sama saja hape menjadi kebutuhan primer. Maka tidak salah bila di kemudian hari muncul kepanjangan baru dari Hape….ya….Harus Punya ! bukankah begitu????????? Maybe
Ujung pagi, 15 Dzulqa’dah 1429

INDIE SENDIRI

Lagu-laguku yang sempat tercipta tapi belum sempat diperdengarkan (2001-2008)


“BIDADARI”
Indah wajahmu
Ku ingat selalu
Engkaulah, bidadariku

Indah bibirmu
Ketika kau tersenyum
Engkaulah, yang slalu ku rindu

Reff:
Cahaya rembulan
Hiasi malam sepiku
Ingin segera kumiliki dirimu
Karena aku cinta padamu
Engkaulah, bidadariku

Indah suaramu
Ketika kau bernyanyi
Engkau yang menemani sepi

*)back to reff

Copyright 2001


BINTANG KEJORA
Kau gadis berjilbab
Yang anggun dan memikat
Laksana bintang kejora
Nun jauh diangkasa sana

Kharisma yang kau pancarkan
Membutakan pandangan
Pada yang lain)*

Reff:
Ingin kumiliki dirimu, seutuhnya
Karena aku cinta padamu, selamanya
Engkaulah bidadariku, satu-satunya

Terlalu lama ku memendam rasa cinta ku kepadamu
Karena ku tak kuasa mengatakan hal itu
Kini ku terpenjara cintamu
Dan terbelenggu rindu

Back to reff

Sya lalalalalalalala,....syalala...la...3x

Copyright 2001

)* ambil lirik dari lagu malaysia,...jahat ya


MASA INDAH PULANG SEKOLAH
Masa indah, pulang sekolah
Kembali hiasia angan ku
Waktu engkau senyum padaku
Waktu engkau pandangi aku

Terbayang senyuman manismu yang
Terbayang tatapan matamu yang menusuk hatiku
Terbayang...pesonamu yang menghanyutkan diriku
(waduh kok lupa ya lanjutannya)

Copyright 2001


(belum ada judul)
Reff:
Hari-hariku terasa indah... Akan kehadiran dirimu...
Namun akankah selalu indah ...Andai kau tak bersama diriku....
...............

Usah kau ingat lagi
Semua cerita dimasa silam
Saatnya kini kau harus berdiri
Aral merintang pasti kau hadapi
Indahmu,...Damaimu,...
Akankah,...selalu bersamaku....
.........................
Copyright 2001


BINTANG JATUH
Menemanimu menghitung bintang
Membingkai khayal seusai senyum
Bila satu bintang jatuh ke bumi
Kan ku katakan aku butuh cintamu kini

Menemanimu dimalam ini
Menggapai cinta menepis mimpi
Tak ku biarkan cinta berhenti
Yang ku inginkan cinta abadi

Reff:
Bila satu bintang jatuh ,
aku berharap semoga engkau dapat kumiliki
bila semua jadi nyata,
aku kan bangga dan bahagia
dapat memilikimu)*

Copyright 2003
)* lagu ini tercipta setelah membaca puisinya mbak Retno Wahyuning Ratri. Universitas Muhammadiyah Magelang.


MENUJU CINTA
Melangkah, selangkah demi langkah
Berlari, dan coba untuk terbang
Menuju cinta
Menggapai rasa
Bersamamu

Terdiam, sesaat ku terdiam
Berkhayal, dan coba tuk wujudkan
Yang kuimpikan
Saat indah
Bersamamu

Reff:
Bersamamu... kurasakan keindahan dunia
Bersamamu... kurasakan kedamaian dunia
Bersamamu....kutemukan arti cinta sesungguhnya

Copyright 2003

***

ANGAN KITA JAUH BERBEDA
Terlepas... Terhempas...
Dirimu tanpa diriku
Terlempar ...tenggelam
Wajah indahmu dari anganku

Reff:
Ku ingin kau pergi dariku
Ku ingin kau cepat berlalu
Ku ingin kau pergi jauh dariku
Tinggalkan,..semua
Anganmu tentangku

Kusadar...kukejar
Dirinya yang jauh disana
Ku ingin...dapatkan
Rasa cinta dari dirinya
Copyright 2002


***


SIMPAN SAJA TANGISMU
Mungkin perpisahan ini
Terlalu berat bagimu tapi
Akan lebih berat lagi bagiku
Bila ku tak pergi

Memang salahku menerimamu di saat seperti ini
Tapi ku kan slalu mencoba
Menjadi yang terbaik untukmu

Telah kerap aku menaifkanmu
Dan kerap pula kau sandarkan bebanmu dipundakku
Telah kerap aku buatmu menangis
Bahkan saat terakhirpun masih saja kau menangis

Reff : Simpan saja tangismu
Sampai aku kembali
Hingga yang ada bukan tangis sedih
Bila seusai pengembaraanku
Aku kembali kepelukanmu
dan kau menangis
Kumaknai tangismu sebagai penawar rindu

Percayalah....
Aku takkan berpindah kelain hati
Tapi aku tak yakin bila
Tak berpindah ke lain bodi
Hehehe....

Copyright 2003

)* lagu ini terinspirasi dari kisah teman, yang cowok sekarang di Kalimantan dan yang Cewek sudah menikah dengan teman si Cowok tadi

****

SATU DALAM CINTA
Tak ku sesali pertemuan ini
Ku hanya kesal pada kenyataan
Mengapa keakraban hanya terjadi sesaat
Ketika engkau hendak pergi

Ku tak menyalahkan kepergianmu
Karena ada yang salah pada cintaku
Mengapa terlalu dalam aku mencintaimu
Hingga aku tak kuasa
Menahan tangisku saat engkau pergi

Reff:
Ku biarkan engkau pergi
Meninggalkan kisah kenangan
Kenyataan mengatakan kita berpisah
Namun hati kita tetap satu dalam cinta.........

Coda:
Semoga saja kita kan berjumpa lagi
Menuai hikmah yang tersembunyi dibalik semua ini

Copyright 2003

)* yang ini juga, cz lagunya satu paket. bedanya kalo yang tadi cowoknya yang nyanyi, sekarang ceweknya yang nyanyi.



MERPATI KERTAS
Ku ingat kembali...Masa kecilku dulu
Bermain bersama....Teman-temanku
Ku ingat kembali.....masa indah di sekolah
Bermain bersama ....tanpa mengenal lelah

Merpati kertas....
Terbang dengan bebas....
Di angkasa luas....

Bukuku habis....Nggak bisa nulis
Guruku ngomel....Ku kena jewer

Merpati kertas ....Bikin masalah
Merpati kertas .....Perbanyak sampah

Kini aku besar....masih seperti dulu
Bermain dengan kertas....masih kesukaanku

Copyright 2002




TENTANG PELANGI
G C
Saat bercengkerama dikeramaian yang terasa sepi
G C
Saat wajahmu menunduk bagai butiran padi
A Bm C#m G#m f#m
aku suka tempat sepi yang penuh riuh arti
A Bm C#m G#m f#m
dan arti akan memaknai sisi batin kita
dimana setiap batin kita
E Bm C#m G#m
terurai cerita warna-warni bagai bianglala senja
Bm F#m
meski tak seindah pelangi

biar saja sunyi itu jauh pergi
dan katakan apa yang ingin kau ucapkan
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
xxxxxxxxxxxxxxxxx
Copyright 2003

)* ni dah mulai bisa nggitar, tapi ya.... gitu deh. liriknya lupa lagi.


“REBAH”
G A
Aku tak sanggup menjadi laut
G C D
Yang menampung aliran sungai dan air hujan
G A
Tapi setidaknya aku masih
G C D
Bisa menampung derasnya air matamu

C G
# Tumpahkanlah semua
G E A
Biarkan mengering dalam dekapku

G A
Mungkin tubuh ringkihku tak bisa
G C D
Mendekapmu erat, namun pasti engkau rasa



#
C G
Kehangatan yang sama
G E A
Seperti mentari di awal dhuha

Reff : ..................masih di cari liriknya, ....^_^;

Copyright 2008



“INSOMNIA”
Mata ini belum mau terpejam
Meski tampak sisa lelah tadi siang
Mungkin malam tengah menuju pagi
Hingga rasa kantukpun beranjak pergi

Ingin aku berfantasi ke dunia baru
Buang jauh semua beban dipundakku
Ingin aku bercerita sampai bosan
Hingga aku tak merasa kesepian

# Tapi yang aku butuhkan bukan semua ini
Karna yang aku inginkan kudapat tidur lelap malam ini

Reff: Malam,....bantu aku terpejam
Gelap,...bantu aku terlelap
Sunyi,...temaniku bermimpi
Pagi,...sambut mentari, ceria kembali

Copyright 2004


"PAGI"
Kubuka mata, sambut mentari
Sungguh indahnya, alam pagi ini
Sejuknya pagi, membius aku
Menapakkan kaki kembali , kebumi pertiwi

Pagi yang indah menjemput aku
Mengantarkanku pergi ke sekolah
Menuntut ilmu bekal masa depan
Bukan hanya sekedar jajan dan bersenang-senang

Reff
Selamat pagi...bapak ibu guru
Selamat pagi...teman-temanku semua
Kita sekolah, menuntut ilmu
Jangan menyerah, gapailah cita-citamu

Bilaku besar nanti ku akan jadi profesor
Bilaku besar nanti ku akan jadi dokter
Bilaku besar nanti ku akan jadi presiden
Bila ku besar nanti ku akan jadi...............

***

SOBAT KECIL
Hari-hari yang ku lalui kini lebih berarti
Setelah kehadiranmu sobat kecilku
Hari-hari yang ku lewati tak ingin lekas pergi
Saat kau ada disisiku sobat kecilku

Kunang-kunang, terangilah
Setiap langkah, sobat kecilku
Kupu-kupu, temanilah
Setiap resah, sobat kecilku
Malam sunyi, hadirkanlah
Mimpi yang indah, sobat kecilku

)* lagu PAGI dan SOBAT KECIL pernah aku kirim untuk Mega Putri Saraswati (penyanyi cilik asal Jogja) nggak tau di masukan albumnya atau tidak.

OTHERLAND

Ini koleksi puisiku, terserah mau menyebutnya apa, disebut puisi kok nggak pantes, kalo bukan puisi terus apalagi? aku beri judul otherland karena prosesnya memang di luar kota, saat aku jadi kuli sablon di Persima I kalianyar Tambora, Jakarta Barat.



“SAAT KITA JAUH AKU SIMPAN RINDU DALAM PUISI”
Gitar itu masih aku petik,
meski suara sumbang yang keluar
Pergi saja bila tak ingin terganggu,…!
Aku hanya ingin membuang kesal,
bersama alunan melodi gitar tanpa aturan
yang kerap bikin kesal.
Dan kesal itu akan hilang berganti sesal bila,…
Engkau pergi dariku

Bila kau pergi dariku, atau aku yang meninggalkanmu,
tak jadi soal,
karena kenangan kita tersimpan pada awan,
awan mendung.

Biarkan hujan itu turun,
karena air mata yang tersisa akan hilang bersamanya.
Berhentilah menangis karena hujan telah mereda,
jangan bersedih karena langit masih menghiburmu dengan pelangi.
Dan pelangi itu?

Pelangi itu masih menggantung dilangit,
meski hidupku tak tergantung padanya.
Karena hidup pelangi sendiri
tergantung pada matahari.

Aku takkan mendewakan matahari,
meski tenggelamnya matahari
berarti tenggelamnya aku dalam mimpi.
Dan aku takkan mendewikan mimpi,
meski mimpilah yang mengantarkanku
dalam mimpimu…
saat kita jauh.

Saat kita jauh,…
aku simpan rindu
dalam puisi,
meski puisi,…
tak bisa menjelma,
berubah mimpi. (0th3rl@nd)

“KEPADA PUISI”
Kepada lorong kereta api yang selalu gelap
Kepada kegelapan yang penuh misteri
Kepada misteri yang penuh arti
Kepada arti yang tersimpan dalam puisi
Kepada puisi yang menyimpan curahan hati
Puisi…aku pengen curhat nih! (0th3rl@nd)


“SENYUM KECILMU SELAKSA PERMEN KARET”

Masih saja kau beri sesuatu untukku,
walaupun hanya sekedar senyum kecil
selaksa lubang semut yang takkan tergenang air meski banjir mengalun.
Jangan biarkan sapi keluar dari lubang itu,
karena sapi takkan bisa masuk lagi.
Jangan pula kau bawa bangkai cicak yang bisa membuat lubang itu terpolusi.
Bersabarlah menanti gula-gula yang bakal membuat senyummu bertambah manis.
Dan manis itu,…yang bakal melekatkanku padamu. (0th3rl@nd)

“ APA ARTI KEMENANGAN BAGIMU,…?”
Jangan kau lempar lagi mug baru itu.
Selagi mug yang kemarin retak belum kamu lem.
Aku tau kalo kamu lagi emosi, kalo begitu,…
Banting saja mug-mug plastik yang ada didekatmu, biar kamu puas, dengan begitu kamu merasa dirimu menang.
Lalu,…apa arti kemenangan bagimu bila mengalahkan emosi saja kamu nggak mampu!
Aku mengerti,…bila sesaat kemudian kamu menangis, menyadari sesuatu yang telah terjadi. (0th3rl@nd)


“DEMI DIA, AKU…”
Mimpi itu terus menghantui,
meski hantu tak mengerti tentang mimpiku
Pengertian dari mimpiku tak lebih dari sekedar bersama kheisa-kheiku.
Kheisa yang belum sempat aku miliki,
bahkan mungkin takkan pernah kumiliki.
Dan milikku,
bukan hanya mimpi-mimpi bersama kheisa
yang sesekali hadir dalam mimpi.

Kheisa pertama yang sedari dulu kusuka,
mulai menampakkan keakrabannya, ketika aku…hendak pergi.

Akupun pergi tanpa meninggalkan pesan sedikitpun,
terlebih pada kheisa ketiga ku
yang kini lebih suka pada teman baikku.
Terus,…kheisa ke-empat yang kini lebih jauh lagi dariku.

Jarak yang jauh takkan memisahkanku
selagi masih ada pak pos yang setia mengantar suratku untuknya,
dan surat darinya untukku.
Biarpun pak pos nggak ada,
juga masih ada telepon.

Aku nggak suka telpon,
meski dengan telpon aku bisa mendengar suara aslinya
Aku nggak suka telpon
bukan lantaran pulsa telpon mahal
Biarpun pulsa telpon mahal,
nggak bakalan jadi soal,
soale aku udah kerja
meski kerjane payah banget.

Tapi demi dia (0th3rl@nd)



“BERBAGI CERIA DIMANA AJA”
Simpan saja tangismu sampai aku kembali,
hingga…yang ada bukan tangis sedih karena aku meninggalkanmu
Bila seusai pengngembaraanku aku kembali,
dan kamu menangis
Aku maknai tangismu sebagai tangis haru lantaran lama nggak ketemu.
Kemudian,…kita saling tertawa, berbagi cerita, berbagi ceria di mana aja.
(0th3rl@nd)

“LAMPU MINYAK”
Sebatas kemampuanku melihatmu,
kamu tak lebih dari sekedar lilin kecil
yang menerangi sekitarmu.
Sempatkah kamu berpikir bahwa dirimu akan terbakar bersama sinarmu?
Apa arti lelehanmu bila kamu tak berpijar lagi?
Mendingan jadi lampu minyak saja,
meski tak seterang petromak
Setidaknya bila minyak habis, bisa di isi lagi.
Meski harga minyak makin meninggi.
Bila nggak mampu beli minyak lagi
ya….minta subsidi, gitu loh! (0th3rl@nd)


“BIANGLALA DI LANGIT SENJA”
Bolehkah aku membantumu melukis bianglala?
Bianglala yang kau lukis warna merah padam.
Bolehkah aku menambahkan warna kuning untukmu?
Hingga warna merah berubah jingga.
Bolehkah aku tambah satu warna lagi?
Maka akan ku tambahkan warna biru untukmu
Hingga warna jingga berubah ungu.
Dan kamu boleh menambahkan warna hitam untukku,
hingga malam menjelang.
Kemudian…pejamkan matamu,
dan akan kupejamkan mataku
Lalu aku akan datang dalam mimpimu.
Dan hadirmu ku nantikan dalam mimpiku.
Di sana, kita akan bertemu. (0th3rl@nd)


“TENTANG PELANGI”
Saat bercengkerama di keramaian yang terasa sepi
Saat wajahmu menunduk bagai butir padi yang menua
Apa arti perbincangan kita selama ini
Bila akhirnya yang ada hanyalah sunyi

Buang saja sunyi itu jauh pergi,
dan katakan apa yang ingin kau ucapkan.

Aku suka tempat sepi yang penuh riuh arti
Dan arti akan memaknai sisi batin kita
Dimana setiap batin kita
terurai cerita warna-warni
bagai bianglala senja
meski tak seindah pelangi.

Kemudian kamu bertanya:
”apa yang akan kamu lakukan bila putri pelangi turun ke bumi?”
Jawabku : “aku akan pinjam tangga pelangi kemudian kita akan kesana”
“Lalu?”
Tanyamu lagi
“Aku akan menjatuhkanmu dari sana”
: jawabku
“Loh kok gitu sih!”
: gerutu kamu
“Abis…kamu Tanya yang macem-macem sih,
lagian mana ada putri kayangan mandi di kali!” (0th3rl@nd)


“SAYANG …KAMU NGGAK ADA DAN TAK PERNAH ADA”
Skali waktu bila kamu ada
Sesekali aku ingin mengajakmu mengarungi telaga upendi,
Mendengarkan dendang lagu mufasa dan menari bersama
Kemudian akan kuajak kamu ke langit dan singgah di peaceful palace.
Lalu…turun dari langit dan menetap di pride land
Tak ku biarkan outsiders mengganggu ketenangan kita.
Bila perlu…akan ku taklukkan otherland untukmu
Sayang …kamu nggak ada dan tak pernah ada.

Skali waktu bila kamu ada
Sesekali aku ingin mengajakmu pergi ke bulan
Mendengarkan senandung bintang dan berdansa bersama
Kemudian akan ku ajak kamu ke mars dan singgah disalah satu satelitnya
Lalu…kita petik semi lunaris sebagai hiasan dinding
Takkan ku biarkan hati kita terhalang tembok,
Bila perlu…akan ku bangun kamar untuk hati kita.
Sayang…kamu nggak ada, dan tak pernah ada.

Skali waktu bila kamu ada
Mungkin…aku tak kan berani menulis cerita ini
Namun…kamu nggak ada, dan tak pernah ada
Jadi…aku bebas membual, berkhayal, berjanji sesuka hati
Karena…kamu nggak ada, dan tak pernah ada. Da..da…!

(0th3rl@nd)


“PASIR KENCANA 050701”

Rambut lurusmu tergerai, diterpa angin pantai
Tak kalah dengan gadis tiara sunsilk
Sayang,…rambutmu tak sehitam rambut mereka
“Eh jangan salah ya rambutku kuning kan lantaran pantulan dari sinar matahari”
Katamu sambil tersenyum

Semburat warna kuning yang menerpa rambutmu
Perlahan turun, tenggelam di laut, dengan menyisakan bianglala

Tapi kamu masih asyik memainkan kerudungmu,
Berlari – lari di tepi pantai meski hari menjelang sore
“Akan ku kejar senja itu”
Katamu tanpa ragu

Pulanglah…
hari sudah sore,
lagian kaya gak ada kerjaan aja ngejar-ngejar senja.
(0th3rl@nd)



“SEBUAH TITIK AWAL”

Terlahir sebagai ciptaan Tuhan. Bersujud pada kiblat, bukan berarti sesembahan.
Senandung kalimatullah bergema kiri dan kanan.
Kebiasaan yang lumrah seusai kelahiran.
*
Ceritapun berawal lebih dari sekedar dongeng.
Dan bilapun hanya dongeng, bukan berarti sebagai pengantar tidur.
*
Titian-titian waktu yang menghubungkan tahun ke tahun, harusnya menuju jalan yang terang.
tapi ada satu titian yang sulit dilewati, bukan karena terlampau kecil tapi bercabang.
*
Kemudian bila seseorang tak mengerti arti hidup, mungkin lebih baik terjun dari titian tersebut. Dari pada merasakan kebimbangan sesaat.
*
Kebimbangan itu bagai sebuah goncangan yang sewaktu-waktu dapat meruntuhkan wujud bangunan yang selama ini ada.
*
Aku masih berusaha meredam goncangan-goncangan yang mungkin akan meruntuhkan seluruh pundi ketabahan.
*
Mentari tumbuh dari timur, berharap mampu terangi hati, yang sinarnya hampir mati.
(arah timur : sebuah titik awal)


“LIBERTY FI RAIBA”
Waktu…masih memberiku tempat berpijak, meski dirinya tercantum pada sebuah jam. Aku…masih tetap berpijak, meski ketabahan terkikis oleh sebuah keangkuhan.
*
Keangkuhan itu enggan pergi selama aku masih menyimpan secuil dengki: awal sebuah kebencian, nyatakah?
*
Tangis hanya sekedar isak, tak mampu sucikan hati yang ternoda hitamnya rasa iri.
*
Ketabahan itu…akankan tersemai kembali, sikap menerima akankah tetap ada?
(arah timur : sebuah titik awal)

“Pertemuan Kita Kali Ini”
pada satu kesempatan , pernah skali waktu kita bertemu.
Berbincang tentang peristiwa masa silam
Hingga masalah persahabatan yang sedikit retak
Karena bentangan jarak.

Yang membuatku kagum,
Ternyata kamu masih mengenaliku
Meski sebenarnya aku tak begitu kenal dengan mu.

Mungkin,…dulu aku terlalu sibuk menanti senja
Dan mengagumi bianglala.
Hingga langit biru di pagi hari
Terasa tak berarti

Auramu sedikit terpancar
Pada pertemuan kita kali ini….(maia, refleksi kehampaan)


“EPISODE KESETIAAN”
Aku dan kamu, tidaklah berbeda
Kita sama-sama lelaki yang butuh cinta
Benci akan rasa hampa,
Mengutuk kesendirian

Aku dan kamu, tidaklah berbeda
Mengutuk diri dalam sepi
Membentak hampa dalam kekosongan
Menampar cinta dalam dahaga
:mengisak rindu di tepian waktu

Aku dan kamu, tidaklah berbeda
Sama-sama menyimpan kesetiaan
Di kedalaman hati yang terdalam

Tapi kita tidaklah sama
Kau biarkan kesetiaan itu menikam hatimu,
Merobek-robek isi otakmu
Dan buramkan hari-harimu

Sementara kesetiaan yang ku miliki
Ku gadaikan di ujung pagi
Agar dapat ku tebus dengan mahar
Di akad nikah nanti
(maia, refleksi kehampaan))



‘JANGAN BIARKAN IA BEKU”
Tanpa paksa kau ingat lagi masa
Lalu-lalang waktu

Kemarin adalah belajar,
Sekarang mencoba,
Besok menuai

Ladang gambut masih kosong
Apa yang mesti dipanen?

Yang aku bisa
Memetik angan masa silam
Sementara aku tak bisa mengoyaknya
Dengan taringku yang tumpul

Hujan menghapus penyesalan
KarnEa sesal tak harus dihadapi dengan kesal

Bermandi hujan
Sejukkan hati dan pikiran

Jangan biarkan ia beku
(maia, refleksi kehampaan)


“AND…A LITTLE SPARROW SINGING TO ME”
Kepakkan sayapmu, ketika kamu merasa harus terbang.
Raihlah bintang, ketika kamu telah sampai diangkasa.
*
Disini, aku bukanlah dahan yang mungkin kamu hinggapi.
Tapi sebagai ranting, yang mungkin saja enggan kamu singgahi.
*
Aku bukanlah bumi yang memelukmu saat terjatuh.
Tapi setidaknya, aku memapahmu ketika kamu terluka.
*
“Kerelaan tak semestinya diucapkan, karena kerelaan sejati, sesungguhnya ada di hati.
Bila satu kerelaan itu masih saja terucap, maka masih dibutuhkan satu kerelaan lagi”)*
)* kalimat terakhir ini pernah saya baca di buku cerita, tapi dimana ya, sudah lupa. barangkali teman2 ada yang bisa enemukannya.
(arah timur : sebuah titik awal)


“BENALU”
Aku benalu katamu. Baiklah aku takkan marah. Tapi…apakah kamu merasa dirugikan selama bersamaku?

Kamu bilang aku parasit, nyatanya kemanapun aku pergi kau selalu turut. Bukankah kau yang menjadi parasit bagiku, waktuku terbuang hanya untukmu.

Kau katakan lagi padaku kalau aku benalu. Setidaknya benalu masih memberi manfaat pada tiap-tiap burung pemakan kemaduan.

Katakan lagi kalau aku benalu. Maka aku akan hinggap di tubuhmu, dan menjadi parasit bagimu.
(suara alam)


“UJUNG NEGARA 24102003”
Berlari-lari diatas pasir pantai yang terlihat putih karena serpihan kerang.
Meski terasa perih dikaki, tapi aku suka.
*
Terik tak mampu menyentuh kulit, karena semilir angin terasa lebih menarik.
Deburan ombak yang memecah karang terdengar bagai alunan musik.
*
Ah,….kubuang resahku pada kaki langit.
*
Aku benci pada bunga dan kumbang yang bercumbu disiang hari.
Kenapa lautku kalian kotori?
*
Aku benci pada sesaji yang tersaji.
Kenapa tidak disajikan kepadaku saja?
Haha!
*
Kegembiraan hanya sesaat, mengapa harus lupa akan solat jum’at
*
Kenapa juga kekaguman pada alam
mengalahkan kekaguman pada sang pencipta.,
bukankah semua berawal dariNya?
(arah timur : sebuah titik awal)


“GEMA”
Akulah gema,…!singgah di gua-gua, tebing, gunung, lembah, dan hampir disetiap ruang yang kosong. Akulah gema,…! Begitu penurut meskipun terkadang nyebelin juga.

Tanpa aku, terasa sepi. Karena aku kalian semua.

Berteriaklah “hai…!” maka akan kau dengar lagi teriakanmu berkali-kali.

Akulah gema,…! Suara kejujuran yang tak pernah berdusta.

Akulah gema,…! Tak mungkin kau jumpai di stasiun-stasiun, terminal-terminal, ataupun di pasar. Karena aku tidak seperti mereka : mesin, manusia, dan yang ada disekitarnya.

Akulah gema yang mungkin kau jumpai di koridor-koridor sekolah apabila telah sepi, diruang kelas, di kantin-kantin yang telah senyap.

Aku bukan gema, bila kau jumpai di pasar malam. Karena aku hanya ada di malam sepi. Dan malam yang kian mendalam)*

)* pramudya ananta tour


(suara alam)


“KEBEKUAN INI”
Ketika tak ada sesuatu yang harus dibicarakan, kita hanya diam seperti patung candi yang berlumut.

Kesunyian yang kita ciptakan mestinya dapat menenangkan. Tapi mengapa aku yang merasa gelisah karena kebekuan ini.

Seolah-olah aku bukan matahari lagi dihadapanmu yang bisa kembali mencairkan kebekuan ini.

Puluhan pekan telah berlalu, mungkin bukan suatu masalah bagimu. Tapi bagiku?

Sepertinya tak ada lagi yang kubanggakan selain kamu. Terlalu pagi kamu bersembunyi.

Mestinya tak kau sembunyikan gelak tawa yang pernah kau tunjukkan padaku. Dan kini, aku ingin dengar suara itu lagi.

Bentangan jarak terlampau jauh bagi kita. Tapi kuyakin bukan kendala. Terus…sampai kapan kebekuan ini berlanjut?

(suara alam)



“untuk belajar puisi, kita harus belajar aturan. Tapi untuk mencipta puisi, kita harus mendobrak aturan tersebut”



“Menulis cerita adalah upaya menentramkan imajinasi, sedangkan menulis puisi membiarkan imajinasi dalam cerita yang ditulisnya” (Sutardji Calzoum Bachri)

rona-rona

RONA-RONA ANTARA BOJONG SAMPAI MASJID TAQWA
Oleh : abdul sukur*

Satu hal yang paling menyebalkan ketika berkendara bersama Ketua Umum Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan, Gigih Setianto. Ia tidak bisa ngebut dalam kondisi apapun, yang jelas sih motornya yang gak bisa diajak berlari karena memang disetting kayak gitu, maklum motor aktivis jadi mesti di buat seirit mungkin demi kelancaran organisasi yang ditekuninya tanpa gaji. Oleh karena itu aku menyebut kendaraannya sebagai supra bulus, meskipun diantara teman yang lain ada yang lebih kejam lagi dengan menyebutnya supra keong. Mestinya kita bisa mengambil sisi positif dari hal itu, paling tidak kita bisa dengan leluasa mencari sawangan, barang kali ada sesuatu yang bening untuk mencuci mata yang sedari kemarin ngeres terkena debu jalan, maklum aktivis gak ada inventaris mobil. Hahaha….! Kalo gitu caranya, mata dah seger gantian otak yang ngeres. Yah kita bisa dengan leluasa mengamati fenomena yang ada di sekitar kita, mungkin bahkan di Indonesia pada umumnya.

Baru-baru ini, terkait gawe besar PD IRM Kab.Pekalongan, KSIP IX dan TORSENI XI. Saya dan Ketua Umum sering bolak – balik Kajen-Bojong-Pekajangan-Doro, bisa dibilang hampir tiap malam. Semua itu kami tempuh bersama supra bulus, kejem banget ya, padahal kalo dibandingin dengan kakek-kakek marathon lebih cepat supra bulus loh. Perjalanan dari Bojong-Pekajangan memaksa jari-jari ini untuk mengacak-acak keybord komputer Pentium II yang harus rajin-rajin di refresh tiap kali ganti paragraf, karena kalau tidak, dapat dipastikan jari-jari ini bakal lebih kejam lagi membantai tuts dari Esc, F1,F2,F3,urut sampai semua tuts terjamah. Tidak hanya itu saja, telunjukpun takkan puas hanya menjitak enter satu kali saja, paling tidak minimal 14 kali, itupun masih direwangi karo anjrot. Finally, kalau belum puas juga terpaksa tombol restart yang di pencet.

Ya…ada satu hal menarik ketika mengamati pengendara motor. Di bebekan Kedungwuni, Pengendara Honda Supra mengenakan jaket Suzuki Lucky Strike, mungkin bukan suatu hal istimewa bagi orang awam tapi bagi orang yang rawan kelaparan seperti kami, hal itu cukup membuat memeras otak untuk senantiasa berfikir, bagaimana caranya makan gak bayar, hehe…gak nyambung ya. Tepat di traficlight Podo sayapun melihat pengendara Suzuki Smash mengenakan jaket Yamaha Rani Sakti Motor. Tepat didepan Kampus II STIKES Pekajangan kami dikejutkan oleh pengendara Yamaha Mio mengenakan jaket Honda 54 Motor yang tiba tiba menyalip kami dari sebelah kanan, maklum motor bulus gampang disalip.
“tanda-tandane apa fenomena kuwi?” tanyaku
“halah, biasah koyo wong jowo tok, sithik-sithik ndongenge tentang perlambang, ora ono bahasan liyan apa!”
“hu..emange kowe dudu wong jowo? Nek bukan kita sapalagi yang bakal nguri-uri budaya jawa? Opo pingin dijajah maning koyo jamane walondo?, nek biyen dijajah secara fisik, siki jajahane mawi budaya. Rungakna kang, kucing kuwi siki ora ono sing pipise ndhodok, wis podho ngacar kaya segawon lanang. Kuwi pralambang hancurnya tata krama. Opo maneh kucing, lha uwong wae ora nduwe sopan santun blabar pisan!”
“oh,…ngono toh sing mo karepke, kuwi sing disebut kemunafikan massal!” jawab si boss asal
“......??????"



*) Kabid Apresiasi Seni & Budaya Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah
Kabupaten Pekalongan


”THE GIGGLY SCHOOL’S GANK”

Ku ulangi lagi ritual mandi pagiku, terasa ada yang kurang saat aku ganti pakaian. Oh ternyata aku belum sabunan, pantas saja badan ini masih terasa lengket. Tidak biasanya aku begini, selama bertahun-tahun tak pernah lupa urutan mandi dari mulai doa masuk kamar mandi, mendahulukan kaki kiri ketika masuk, menyiram tubuh bagian kanan terlebih dahulu, sabunan, keramas, gosok gigi, tak lupa juga mencuci muka dengan facialfoam dan keluar dari kamar mandi dengan mendahulukan kaki kanan disertai do’a juga. Tapi pagi ini,…benar - benar menyebalkan.

Aku terlambat lagi masuk sekolah. Ada saja alasannya, dari mulai sarapan belum siap, kehabisan bensin di jalan, busi mati, ban bocor dan alasan-alasan lain yang pada intinya hanya akan menyalahkan orang lain saja. Aku menyadari itu, ada yang salah pada locus of controlku. Masih saja aku menggunakan locus of control eksternal, padahal dengan begitu aku menganggap keberhasilan maupun kesialanku disebabkan oleh orang lain. Tak terkecuali pagi ini. Semua ini pasti gara-gara kitty women, meskipun aku sadar tidak sepenuhnya demikian.

Kitty women, Geng sekolah yang beranggotakan 6 cewek popular mulai macam-macam. Entah mengapa akhir-akhir ini mereka selalu mengerjaiku tanpa alasan yang jelas. Nyatanya aku tak ada hubungan sama sekali dengan mereka, satu kelas saja tidak. Akupun bukan termasuk cowok populer yang mungkin saja menyaingi kepopuleran mereka. Lantas atas dasar apa mereka menyebar gosip bahwa aku pacaran dengan Fia. Demi Tuhan, aku senang kalau itu benar-benar terjadi. Tapi yang ini lain, dengan beredarnya gosip tersebut Fia menjaga jarak denganku. Otomatis tak ada lagi pulang bareng, tak ada lagi belajar bersama, tak ada lagi waktu berkunjung ke perpustakaan bersama,tak ada lagi perdebatan, kebiasaan yang lumrah telah berbalik arah.

Biasanya perdebatan kecil mengawali perbincangan kami, tentang semut rang-rang di pohon akasia depan kelas sebelas. Mengapa mereka bisa demikian akrab. Mungkin bahasa mereka satu, budaya mereka satu, pikiran mereka satu, ketaatan mereka satu. Seandainya manusia bisa begitu! Lantas aku bertanya, apa gunanya akal kalau demikian adanya. Pastinya ada-ada saja perdebatan kecil setiap harinya. Entah sekedar mengkritisi burung gereja yang bolak-balik cari rumput kering untuk membuat sarang, …………

Kali ini kitty women berulah lagi, salah satu personelnya gencar mendekati aku, bukannya ge er, hal ini terjadi bukan satu atau dua kali, tapi berkali-kali, terlebih ketika ada fia di situ. Sampai saat inipun aku masih belum tahu apa maksud semua ini. Secara akademis mungkin aku masih bisa bersaing dengan siswa lain. Tapi untuk urusan social bisa dikatakan buta, meskipun aku juga rajin baca buku-buku semacam itu. Namun untuk belajar social tidak hanya belajar dengan membaca buku saja, kitapun harus bersosial karena kadang kala apa yang tertulis di buku tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat. Termasuk masyarakat sekolah.

Kamu tahu kenapa Ina begitu gencar mendekatimu? Tanya Upik suatu ketika.
Tidak ! jawabku singkat (belum selesai nih.... keburu pengen ditampilkan. gak usah ditunggu sambungannya ya.....!!!!)

AYUMI SHINJI

“AYUMI SHINJI”

Setahun sudah aku mengenalnya. Aku tak pernah mengira bahwa hubungan yang terjalin akan sejauh ini.
Pada awalnya aku iseng saja menulis surat untuknya melalui alamat yang aku dapat dari sebuah majalah. Sama sekali tak mengharap balasan, di balas sukur, tidak dibalas juga tidak apa-apa.
Ya setahun sudah aku mengenalnya. Bahkan di awal perkenalan akupun mulai mengenal keluarganya.
“ass. Bnr ni nmrna mz abdl skur, cza adkna mb ayu” satu sms aku terima, entah dari siapa nomor yang muncul tak ada namanya di buku telfon, sempat juga berfikir ayu siapa ya. Setahu saya nama ayu hanya teman kuliah saja, itupun dia tidak punya adik.
“www. Btul, maaf ayu spa ya?”balasku dengan kata-kata singkat karena memang tidak tahu ayu mana yang dimaksud.
“Ayu wsb, mz sukur prnh krm srt tuk mb ayu kan?cza dpt nmr mz dr srt yg mz krm”
aku paham siapa ayu sekarang. Tapi ada yang masih menjadi pertanyaan “cza” saya piker itu nama adiknya.
“ya,3mz. Btw cza tu nama kmu ya? Azizah mgkn?” tanyaku, tak peduli pada pulsa yang sebenarnya mepet, maklum lain operator.
“hihi, cza tu sigktn dr saya, dh y mz dwi mw mndi dlu” baru ku ketahui bahwa namanya dwi.
Hari-hari berikutnya tak ada lagi sms dari Dwi. Untuk memulainya aku mulai tanya-tanya kenapa yang membalas smsku Dwi, bukan Ayu.
“maaf dx sukur ya ni ibunya dwi, maaf dwinya sdg skul, jd ibu yg bls. Ada psn bwt dwi?” satu kejutan lagi, ternyata ibunya yang membalas smsku.
“o, ibue dwi to, nepangaken, kula abdul sukur. Saged ta kekancan kalih lare-lare Ibu? “
“saged mawon, matur nuwun dx sukur purun kekancan 2 lare2 kla, mangga dipun niati ibdh spdos mbtn wntn raos curiga antra dx sukur 2 lare2. nepangakn ugi, kula sumiyati, lare2 bioso nyeluk kula bu’e atw mami. Lare2 ming gesang 2 kula. Bapake pun almarhum.”


Persahabatan ini begitu dalam, meskipun belum pernah bertemu sekalipun. Paling tidak keluarganya sudah mengenalku. Pernah satu ketika, tepatnya 7 Oktober 2008 aku dan teman-teman berkunjung kesana, menjenguk Dwik yang sudah sebulan sakit. Niatan mau langsung pulang, tapi dicegah. Bahkan adik bungsu, arsyad sempat mengunci pintu sebelum kami pamitan. Mau apa lagi, pulangpun tidak memungkinkan disamping hujan,hari beranjak petang. Ya jalan yang paling aman ya ngineplah....! tapi kini dwi telah tiada tepat pukul 5 pagi 12 Januari 2009, kami hanya bisa berdoa supaya dwi mendapat tempat yang layak disana. Tentang Ayu, akhirnya kamipun bertemu pada tanggal 18 Januari 2009. tapi setelah itu, komunikasi jadi kaku. Seakan akan persahabatan yang terjalin selama 18 bulan terlupakan setelah ketemuan 3 jam. Tapi pikiranku tidak benar juga ternyata, karena.... kami masih tetap sahabat. Terima kasih ayu....





PAK CIK

“Semua gambar diawali dari sebuah titik” Pak Cik aku memanggilnya, bukan sebutan paman dalam Bahasa Melayu. Beliau adalah Pak Mucikno, Gur...