Tampilkan postingan dengan label kataku ku katakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kataku ku katakan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Agustus 2026

APTX 4869



Bagi penggemar karya Aoyama Gosho, APTX 4869 bukanlah barang asing. APTX 4869 adalah racun fiksi yang dikembangkan oleh Shiho Miyano. APTX merupakan singkatan dari Apoptoxin . APTX mengaktifkan telomerase : sebuah enzim yang memperpanjang umur DNA sehingga sel membelah dengan lambat. 4869 dibaca shi ha ro ku (Sherlock), nama seorang detektif (Sherlock Holmes) karangan Sir Arthur Conan Doyle. Pada serial Detektif Conan, sering sekali muncul kode atau pesan kematian berupa angka. Sehingga saya mencoba menghafal deretan angka menggunakan Bahasa Jepang. Begitupun yang dilakukan Prof. Imam ketika membacakan nomor HPnya.

NIM saya 821634647 terasa sulit menghafal deretan angka tersebut, tetapi ketika saya sebut ha ni ichi ro san shi ro shi na terasa sangat mudah. Aoyama Gosho memberikan nama tokoh utamanya Shinichi Kudo (Shin Ichi = kebenaran selalu satu). Sementara Prof Imam memberi nama grup ini IRo Legendum (IRo = ichi ro = 16). 1+6=7. 7= tujuh (tujuan). 7=pitu (pitulungan).  

Maka IRo menurut saya bukan sekedar Imam Robandi, namun juga sebuah pertolongan. Menolong kita semua untuk menjadi besar bersama.


gambar diambil dari https://www.its.ac.id/telektro/id/dosen-staf/daftar-dosen/dosen-teknik-sistem-tenaga/imamrobandi/

FOGGING TIKUS



Saya masih ingat, waktu kecil sering ikut bapak ke sawah untuk mengasapi tikus. Alatnya bentuknya seperti knalpot. Di dalamnya diisi jerami kering dan belerang, lalu dibakar. Di bagian belakang ada pedal yang diputar agar asap terus mengalir ke dalam liang. Moncongnya diarahkan ke salah satu lubang di pematang sawah.Tak lama kemudian asap muncul dari lubang-lubang lain. Dari situlah kami tahu, lubang-lubang itu saling terhubung. Satu per satu ditutup dengan tanah sampai tak ada lagi asap yang keluar. Dulu saya mengira, begitulah cara manusia mengalahkan tikus.

Sekarang saya sudah jarang melihat cara itu dipakai. Entah karena tikus sawah sudah berkurang atau karena cara memberantasnya sudah berubah.

Kadang saya membayangkan, mungkin tikus juga belajar mengikuti perkembangan zaman. Ketika manusia masih menyimpan gabah, mereka mencuri gabah. Ketika manusia mulai menyimpan nasi, mereka mendatangi warung. Dan ketika manusia mulai menyimpan uang, mereka pun tahu harus tinggal di mana.

gambar diambil dari shopee

Senin, 03 Februari 2025

MAC GYVER JUNIOR

Dulu, dulu sekali saya pernah mendapatkan gelar Mc. Gyver Junior. Seingatku waktu kelas 4 atau kelas 5 MI. Sore itu kami mau bermain bola, namun bola kami pecah. Kami ingat bahwa sekolah punya bola baru yang tidak boleh kami pinjam. Maka kamipun berencana meminjam bola tersebut tanpa ijin. Caranya dengan membuka jendela kantor Kepala Sekolah. Memanfaatkan sebilah bambu pagar dan plastik es yang ditarik sehingga menjadi seutas tali untuk dijadikan simpul, saya mulai beraksi. Tubuh slimku diangkat, dan tangan kecilku masuk ventilasi jendela. Simpul plastik saya arahkan ke grendel jendela, sekali tarik jendelapun terbuka. Kami masuk mengambil bola yang dimaksud.

Waktu itu sepak bola memang olah raga favorit kami, yah meskipun setiap kali main saya selalu kebagian jadi keeper. Maklum, saya termasuk tipe lelaki yang setia. Gawang saja dijaga, apalagi anak mertua. Sementara teman lain lebih memilih jadi penyerang, yang suka menembak, tak peduli diterima atau ditolak.

Setelah selesai bermain bola, kami kembalikan ke tempat semula. Melihat stempel di meja, teman-temanpun mulai bermain dengan stempel, lengan kiri kanan dicap dengan stempel gudep 71/72. Esoknya kami ketahuan, gara-gara dengan bangganya pamer tato tunas kelapa. Kami disidang, dan diganjar hukuman tawaf keliling sekolah entah berapa kali banyaknya.

Kemarin, saya berangkat lebih pagi dari biasanya, terlihat Pak Mul petugas kebersihan di tempat saya bekerja sedang melakukan sesuatu di depan pintu kelas 2. Ternyata pintunya tidak bisa dibuka dari luar karena slot pintunya rusak. Sementara pintu tembus ke kelas sebelah tertutup rak buku. Sayapun mencoba kemampuan lama saya. Bermodal rantai dan kabel bekas yang saya temukan di gudang, sayapun melakukan cara yang sama seperti saat meminjam bola tanpa ijin.

Tenang saja, kali ini kepala sekolah tidak akan menyidang dirinya sendiri. Pintupun bisa dibuka dari dalam, tepat ketika satu dua anak mulai berdatangan.

Gambar diambil dari https://encrypted-tbn2.gstatic.com/

Minggu, 31 Maret 2024

PAK CIK

“Semua gambar diawali dari sebuah titik”

Pak Cik aku memanggilnya, bukan sebutan paman dalam Bahasa Melayu. Beliau adalah Pak Mucikno, Guru Matematikaku saat duduk di kelas 2B SMP Negeri 4 Kedungwuni (sekarang SMP 3). Mungkin bagi sebagian siswa Pak Cik termasuk salah satu guru yang ditakuti, meskipun aku tak yakin mereka benar-benar takut, mungkin lebih kepada mata pelajarannya saja yang tidak disukai. Suatu ketika, Bu Hesti Nurhayati Guru Bahasa Indonesia kami tidak masuk kelas, Pak Cik yang menggantikan. Kalau tidak salah materi saat itu membuat puisi. Saya berkesempatan membacanya pertama kali, karena memang nama berawalan A selalu nomor 1 di daftar hadir. Saya masih ingat betul puisi yang saya bacakan.

Menangis tiada artinya

Airmata tiada guna

Meskipun betapa sedihnya

Menghadapi kenyataan

Tuhan telah menentukan hidup ini

Tiada yang mampu menghindari

Biarlah semua terjadi

Mungkin harusnya begitu

Tak usah menyesali diri

Yang lalu biar berlalu

Takkan mungkin selamanya menderita

Esokpun pasti ada bahagia

Sesungguhnya jalan ini masih panjang

Dunia inipun masih luas terbentang

Hanya waktu yang belum sampai saatnya

Mungkin suatu hari nanti

Tercapai sudah segalanya

Pak Cik memuji saya habis-habisan, tapi aku tak terlalu bangga. Bahkan lebih tepatnya malu. Itu bukan puisi karya saya sendiri, tapi lirik lagu yang saya hafal dari soundtracknya Saint Seiya.

Mungkin dari situ saya mulai belajar puisi, memperbanyak kosa kata, padan kata, metafora, dan sebagainya.

Pagi ini saya bertemu beliau lagi, dalam acara lokakarya orientasi PGP di SMA 1 Kedungwuni. Pada sesi perkenalan, setiap peserta diminta menggambar sebuah benda dan menerangkan artinya. Pak Cik menggambar titik di sebuah kertas, beliau menjelaskan bahwa sebuah gambar diawali dari sebuah titik. Titik-titik membentuk garis, bisa lurus atau lengkung, kemudian membentuk bangun, tekstur, bahkan warnapun terbentuk dari gabungan berbagaimacam titik. Namun titik tetaplah titik, tidak akan berubah apapun bila kita berhenti, pada, satu, titik.

Mudisar_Ceria, 23 Maret 2024

Rabu, 25 Oktober 2023

DEWI KUNTI _ WELAS ASIH

Saya tidak suka menonton pagelaran wayang, tapi saya sangat tertarik dengan cerita dan segala filosofi di dalamnya. Maka ketika di Wisma Rarasati saya melihat sebuah buku tentang wayang yang ditulis oleh Ki Dalang Subur Widadi ayahanda Bu Welas Rarasati, langsung saya baca. Pada salah satu sequelnya ditulis tentang Dewi Kunti.

Dewi Kunti adalah ibu dari 3 orang pandawa, Yudhistira, Werkudara, dan Arjuna. Nakula dan Sadewa lahir dari rahim Dewi Madrim. Meskipun Nakula dan Sadewa bukan anak kandung Dewi Kunti, Dewi Kunti mengasihinya melebihi cinta kasihnya kepada putranya sendiri.

Suatu ketika, Nakula dan Sadewa kelaparan. Tidak ada makanan. Maka Dewi Kunti menyuruh kedua putranya Werkudara dan Arjuna mencari makanan untuk adiknya.

Arjuna kembali lebih dahulu membawa dua bungkus nasi rames dan menyerahkan kepada ibunya. Sebelum disuapkan kepada Nakula dan Sadewa, Dewi Kunti bertanya asal-usul nasi rames tersebut. Arjuna menceritakan bahwa nasi tersebut pemberian dari Kepala Desa Kedungwuluh karena merasa kasihan dengan Nakula dan Sadewa. Dewi Kunti menolaknya. Ia tidak mau memberi makanan kepada Nakula dan Sadewa atas dasar belas kasihan seseorang.

Werkudara datang terlambat karena harus membereskan dua raksasa di Cilacap. Membawa dua bungkus nasi padang untuk Nakula dan Sadewa. Tidak lupa Dewi Kunti menanyakan asal usul nasi tersebut. Werkudara menceritakan hal ihwal dua bungkus nasi padang yang ada pada genggamannya. Nasi tersebut adalah pemberian dari Bupati Cilacap sebagai hadiah karena Werkudara berhasil menumpas dua raksasa. Sang Bupati menawarkan putrinya yang bernama Teh Ikah sebagai hadiah, namun Werkudara menolak. Ia hanya minta dua bungkus nasi padang saja untuk makan siang kedua adiknya.

Dewi Kunti menerima nasi padang yang dibawa Werkudara, kemudian memberi nasihat kepada para putranya bahwa kita semua harus bekerja keras, jangan menggantungkan belas kasih orang lain dengan cara meminta-minta.

Belajar juga dari keluarga FKKS SD/MIM Jawa Tengah ketika Rapat Kerja di Wisma Rarasati, Banyumas. Kita membawa makanan khas daerahnya masing-masing, saling memberi. Bukan karena rasa kasihan, tapi memang karena rasa welas asih yang telah mendarah daging. Dudu sanak, dudu sedulur nanging bisa semanak semedulur.

Cerita ini sebagian fiktif belaka, kalau ada kesamaan nama dan tempat, anggap saja disengaja.

BERENDAM SAMBIL KULIAH

Pagi yang dingin mengajakku menarik selimut kembali, menawarkan kehangatan di baliknya. Namun hangat mentari dan aroma laut mampu membujukku untuk menyisirnya. Pendirianku goyah ketika melihat Tadz Indra Principal Maharaja sedang asyik masyuk berenang keliling kolam. Maka saya putuskan berenang saja. Pakaian basah kemarin sore yang saya tiriskan di balkon, saya pakai kembali. Berjalan santai menuruni anak tangga dari lantai tiga sebagai pemanasan agar tidak terjadi cedera. Saya tidak bawa handuk saat itu. Catat ya, tidak bawa handuk. Jadi kalau nanti ada yang kehilangan handuk dengan asumsi ketinggalan di kolam, itu bukan saya.

Sampai di bibir kolam, saya melakukan pemanasan lagi. Peregangan mulai kepala, pundak, lutut, kaki. Kepala, pundak, lutut, kaki. Kepala, pundak, kepala, pundak, kepala, kepala, kepala. Kepala saja terus yang piknik, gurunya gak pernah diajak. Sebelum nyemplung ke kolam secara kaffah, usahakan kaki terlebih dahulu masuk ke air. Ini penting dilakukan karena menurut hasil survey di 138 negara, 9 dari 10 perenang yang mendahulukan kepala masuk kolam, terjadi cedera ; minimal benjol. Selain daripada itu, mendahulukan anggota tubuh bagian bawah ketika berenang memastikan tubuh tidak kaget ketika terjadi perubahan suhu. Konon kabarnya mandi yang diawali dengan menyiram kepala terlebih dahulu, rentan terkena masuk angin.

Sambil kungkum, Tadz Indra mulai bercerita. Dulu, sebelum perut segede blebedan sarung, renang muter kolam 10 kalipun terasa ringan. Sampai suatu ketika, berenang diiringi manula yang sedang jalan santai di tepi kolam, Tadz Indra berusaha mendahului namun terkejar. Lagi, dan lagi. Hingga memutuskan untuk mengikuti manula tersebut, dengan berenang santai. Tanpa terasa, lebih dari dua puluh putaran. Niat untuk mendahului atau merasa hebat sendirian ternyata salah. Mungkin kita kuat, tetapi kekuatan bisa dikalahkan oleh konsistensi. Dan bergabung dengan orang-orang hebat, salah satu cara untuk menjaga konsistensi tersebut.

Cerita Tadz Indra tersebut mengingatkanku pada dua orang penebang kayu. Seorang pemuda yang gagah dan kuat serta orang tua yang terlihat lemah. Satu, dua pohon telah ditebang oleh seorang pemuda. Sementara orang tua belum menyelesaikan satu pohonpun. Seorang pemuda menebang terus tanpa lelah. Sementara orang tua mengasah kapaknya setiap kali berhasil menebang satu pohon. Di akhir cerita, hasilnya tidak jauh berbeda. Seorang pemuda heran padahal telah mengerahkan seluruh tenaga tanpa istirahat, sementara orang tua selalu istirahat setelah selesai menebang satu pohon. Orangtuapun berkata, “Kamu melupakan satu hal anak muda, kapan terakhir kali kamu mengasah kapakmu? Sementara saya selalu mengasah kapak setiap kali istirahat”. Barangkali kegiatan kita kali ini seumpama istirahat sambil mengasah kapak. Serius atau santai di FKKS seperti tidak ada bedanya. Rapat yang serius bisa saja sambil guyonan dan kungkum santai membicarakan hal yang serius.

Pangandaran, 29 November 2022

Minggu, 08 Mei 2022

KAROMAH SANG KYAI


 

“Bayang – bayang selalu ada bersama cahaya”

 

Selasa, 18 Agustus 2020 saya mendapat pesan dari Ustadz Daryono berupa Konsep Susunan Organisasi FKKS SD/MI Muhammadiyah Jawa Tengah. Namaku tercantum dengan amanah wakil Pemberdayaan Teknologi Komunikasi dan Informasi.

Selagi saya mampu, saya berusaha tidak menolak amanah. Namun karena susunan organisasi tersebut ada di tingkat wilayah tentu banyak yang lebih mumpuni. Sayapun mencoba merekomendasikan nama lain yang memang lebih mumpuni di Kabupaten Pekalongan, ternyata nama yang saya rekomendasikan sudah tidak mengajar lagi karena mendapat beasiswa S2.

Meskipun saya pribadi siap, namun tetap butuh pertimbangan dari orang lain. Rekan guru dan Dikdasmen Ranting mengijinkan. Istri juga mengijinkan. Maka saya mantapkan, Insya Allah siap bergabung dengan orang-orang hebat.

Rabu, 19 Agustus 2020 Jam 06.00 saya siap melaju karena sudah janjian jam 07.00. Ketika saya tinggalkan uang yang tinggal selembar di dompet untuk istri saya, dia tidak mau menerimanya. Buat cekelan saja katanya,  lagi pula masih ada uang belanja untuk hari ini. Padahal saya bisa saja mampir sebentar di ATM untuk mengambil uang. Namun dicegah juga, jangan biarkan Ustadz Daryono menunggu katanya. Sayapun urung mengambil uang di ATM.

Saya melaju mengendarai Prima istimewa dengan kecepatan sedang. Mampir sejenak di sekolahan untuk copy KTAM. Jam 06.58 sampai di stasiun, segera saya kabarkan. Saya tunggu di halte depan stasiun Pekalongan. Saya kira Ustadz Daryono datang dari arah barat setelah menjemput Ustadz Wahyudi di Ponpes Al-Manar Pemalang. Ternyata lewat tol. Ini yang kedua kalinya kata Tadz Daryono. Kalau sudah dua kali, biasanya yang ketiga dan seterusnya akan mudah.

Waktu menunjukkan pukul 07.19 Ustadz Wahyudi menghubungiku, menyebutku Syaikh. Sangat berlebihan, memangnya Syaikh cap apa yang tidak hafal juz amma. Pukul 07.30 Ustadz Daryono menghubungiku memastikan lokasi penjemputan. Kemudian pada jam 07.38 Ustadz Wahyudi bertanya pintu keluar tol dan minta shareloc. Pukul 07.40 Ustadz Daryono mengabarkan kalau pintu keluar tol Kajen ditutup. Tepat pukul 07.51 kami bertemu.

Di SD Mapan disambut oleh Ustadzah Alifia bersama mitra kerjanya dengan penuh suka cita. Sementara saya merasa gagap gempita. Iya gagap, bertemu orang-orang hebat. Dari sekian peserta saya hanya mengenal beberapa nama. Ustadz Sukaryo - SDM Sudagaran Wonosobo, meski berkali-kali singgah dan sempat separuh hatiku tertinggal di Jalan Dieng KM.9, namun pertama kali merasakan lezatnya mie ongklok justru di SDM Sudagaran. Ustadz Mustaqim - Mutual Dua Kota Magelang, kota di mana sepenuh hatiku tertambat di situ. Dan, Ustadz Daryono SD Musabangga yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena beliau lakonnya dalam cerita ini.

Inti acaranya biar diceritakan yang lain saja, karena telah kita saksikan bersama betapa hebatnya Sang Hafidzah Cilik yang tentu di balik kehebatannya ada guru-guru yang hebat pula.. Tentang semangat para penggerak, Ustadz Latif dan Ustadzah Welas yang berangkat paling gasik tapi sampai paling akhir. Meski paling akhir tapi tetap tepat waktu, waktunya makan siang. Syaikh Pamuji (kalau yang ini Syaikh aseli), dan Kyai Mas Jamaluddin Kamal (jangan lupa dal nya tasydid ya) sebagai lokomotifnya, biar kita-kita yang jadi batu baranya.

Tak biasanya sesiang ini sudah makan 3 kali. Sebelum berangkat saya sempatkan sarapan sego megono. Dalam perjalanan, jam 09.30an sarapan lagi nasi padang ditraktir oleh Ustadz Wahyudi. Dan makan siang, ayam kecap atau apa ya yang lezatnya luar biasa jamuan dari Ustadzah Alifia. Betul-betul over dosis bagi saya yang kapasitas lambungnya terbatas. Hingga sajian coffebreak tidak tersentuh sama sekali. Maka tak heran bila dalam perjalanan pulang saya terlelap.

Saya tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Ustadz Wahyudi dan Ustadz Daryono di balik kemudi Datsun Go. Baru saya ketahui bahwa ternyata, Ustadz Daryono mentransfer ilmu dan jurus -jurusnya kepada Ustadz Wahyudi, sementara saya masih terlelap. Rugi dong, di atas roda yang sama dengan orang hebat malah terlelap.

Tapi tidak juga, saya berkesempatan bicara apa adanya, jujur saya katakan kepada Ustadz Daryono bahwa saya merasa tidak mampu mengemban amanah ini. Meskipun saya tahu di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Saya tahu itu. Tapi saya tetap merasa bayang-bayang besar mengikutiku, tentang kemampuan yang terbatas, bagi tugas yang belum tuntas, banyaknya amanah yang belum tertunaikan, baik di sekolah, Pemuda Muhammadiyah, dan sebagai panitia pembangunan Masjid Al-Huda Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kutosari yang membutuhkan dana setidaknya 1,5M sementara dana yang sudah terkumpul sekitar 700an Juta dengan progres pembangunan mencapai 70%. Tentu saja yang 25%nya belum terbayar,  dan lain sebagainya. Namun dengan tenang Ustadz Daryono mengatakan, “Selama antum berjalan menuju cahaya, bayang-bayang tetap ada di belakang antum. Ketika antum menjauhi cahaya justru bayang-bayang itu akan menghadang di depan antum, bukan mengikuti di belakang lagi. Jadi, teruslah melangkah menuju cahaya maka bayang-bayang itu akan hilang dengan sendirinya ketika antum menjadi bagian dari cahaya tersebut”.  Terima kasih Ustadz, Insya Allah saya kembali mantap.

Tok – tok - tok..., sepertinya ada tamu Tadz. Seketika saya terbangun dan melihat Ustadz Daryono dan Ustadz Wahyudi sedang menggedor pintu, bagasi, ban dan seluruh bagian Datsun Go-nya karena ada yang tidak beres. Sementara saya masih bingung sendiri di dalamnya.

 Jadi, yang tadi itu cuma mimpi ya?. Yah,... barangkali begitulah Karomah Sang Kyai, tetap bisa adil membagi ilmunya meskipun berbeda dimensi. Kalau beda dimensi saja bisa berbuat adil, bagaimana dengan yang nyata ya? Sungguh luar biasa.

Mudisar, 28 Agustus 2020. 02:04

 

 

Kamis, 10 Februari 2022

PANEN MELON MAHADIA


 dening Dul Sukur
(Wakil Ketua Bidang Teknologi, Komunikasi dan Informasi FKKS SD/MI Muhammadiyah Jawa Tengah)

Rasane uwis sesasi punjul ora krungu glowehane Nini Dakem. Mula, 26 Nopember 2021 wingi inyong maring Banyumas. Jebul Nini Dakem lagi sibuk-sibuke panen melon. Sing jarene melon golden aroma.

Gene melon duwe omah barang ya, ana payone, ana pagere, nanging ora thukul sakjroning lemah. Jarene kuwi sing diarani melon hidroponik, mergo ditandhur kanthi media banyu.

Nang kana uwis rame mbanget, ana Pak Pahri Ketua PP FGM, ana Pak Pamuji Raharjo ketua FKKS SD/MI Muhammadiyah Jawa Tengah, lan ketua FKKS SD/MI Muhammadiyah Kabupaten/Kota se- Jawa Tengah, pokoke ruame mbanget.

“Ni, melone didum gratis apa?”

“Ya didol lah”

“Pira?”

“Telung puluh ewu sekilo!”

“Njajal siji kene”

Barang uwis dijukutna melon sing bobote sekilo patang ons, ternyata, wujude melon cuilik.

“Nini, iki melon apa jeruk?”

“Lha weruhe rika apa?”

“Melon sak upil kok patang puluh loro ewu”

“Angger upile rika gedhene sak melon, tek bayar 11T”

“Hahaha...aja sewot bae lah Ni”

“Rika durung icip kok muni larang, cicip disit kana, angger ora enak ora usah bayar”

Barang uwis tek cicipi, rasane kok beda karo melon biasa. Melone Nini Dakem luwih gurih, luwih manis, sekang aromane bae, jan mingin-mingini pokoke.

“Bener kandane rika Ni, iki melone renyah mbanget. Manis pisan, pantes regane larang. Tapi ya, janjane ora pati larang ari rasane seenak ini. Inyong yo wani bayar satus ewu patang kilo”

“Patang kilo satus rong  puluh ewu, Dul !” Nini Dakem ngegas karo nunyul endhasku.

Minggu, 07 Februari 2021

ROKOK



“Merokok bukan berarti pria sejati dan tidak merokok bukan berarti banci” 

        Aku lahir pada pertengahan tahun 80an. Ayahku perokok, begitu pula nenekku. Dua kakakku juga merokok. Maka secara tidak langsung aku sudah terkader sejak dini untuk menjadi seorang perokok. Apalagi ketika kelas 5 SD sudah mencoba menikmati rokok. Tentu saja dengan sembunyi-sembunyi, karena untuk membeli rokok aku memakai uang infak ngaji. 

        Malam itu aku bolos ngaji bersama teman-teman, uang infak dikumpulkan dan dibelikan sebungkus rokok. Harga rokok pada saat itu Rp 100,00 perbatang. Kulihat teman-teman bisa menikmatinya, rokok disedot dan dihembuskan asapnya dari mulut. Kalau bisa mengeluarkan asap dari hidung sudah termasuk prestasi bagi pemula. Apalagi asapnya sampai berbentuk donat, langsung diangkat jadi master. Namun bagiku tidak. Jangankan menikmatinya, baru satu sedotan saja membuatku terbatuk-batuk. Hingga akhirnya aku dikatakan banci. 

        Aku tak mau lagi kalau diajak merokok, apalagi sampai bolos ngaji dan ngutil uang infak. Biarlah dikatakan banci oleh teman-teman. Merokok atau tidak merokok adalah hak seseorang. Namun sebisa mungkin hak yang diterima tidak mengganggu hak orang lain, seenaknya saja mengatakan orang yang tidak merokok sebagai banci. Aku tak mau menganiaya diri sendiri demi sebutan lelaki sejati. Orang yang tidak merokok juga berhak menghirup udara bersih. 

        Lulus SMA aku merantau ke Ibu Kota. Malam Minggu pertama, aku sempatkan ke pasar tumpah di bawah jembatan layang. Sekadar cari angin atau cuci mata. Tapi perasaan mataku tidak tambah bersih, karena di sepanjang jalan kulihat banyak banci yang memegang lintingan berapi dengan mulut penuh asap. Sempat terpikir, ternyata banci merokok juga. Tapi aku mencoba berbaik sangka, mungkin saja mereka memang lelaki sejati yang kebetulan sedang menyamar jadi wanita.

Rabu, 17 Juni 2020

BONGGAN GELEM DADI UWONG


Sebetulnya saya bukanlah manusia. Saya seekor kera yang berevolusi menjadi manusia. Tidak usah mendebat teori Darwin, barang kali yang diteliti oleh Darwin memang keturunan saya, bukan keturunan Nabi Adam.

Ceritanya begini, di komunitas hewan ada Singa Sang Raja Hutan, Gajah Sang Patih, Kera sang Prajurit, dan hewan-hewan lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Saya termasuk prajurit yang ngeyelan, setiap kebijakan Sang Raja Hutan yang tidak berperi kehewanan pasti saya lawan. Tentu tidak dengan tangan saya, dilihat secara kasat mata jelas saya kalah. Kengeyelan saya membuat Sang Raja Hutan gerah. Padahal saya menyuarakan keberatan hewan lain, mengapa hewan harus makan hewan. Karena itulah saya diusir dari dunia fauna dan sekarang menetap di dunia fana sebagai manusia.

Tidak mudah menjadi seorang manusia, saya harus belajar berjalan tegak. Sayapun harus merelakan ekor belakang saya, sementara ekor yang lain saya sisakan untuk menyambung generasi. Dalam hal makan, saya masih mengandalkan berburu dan meramu, tentu saya tidak berburu hewan lain karena saya masih berperi kehewanan. Saya tidak bisa lagi seenaknya mengambil makanan dari pohon lain yang tidak saya tanam. Saya mesti bersabar menanam, menuai, dan apabila lahan yang saya tanami berkurang kesuburannya saya mesti berpindah tempat. Hingga akhirnya saya terdampar pada zaman ini, yang untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak hanya mengandalkan makanan. Mesti punya pakaian dan tempat tinggal. Bahkan untuk mendapatkan semua itu bisa hanya dengan menukar lembaran kertas yang mereka sebut uang.

Uang, benda ajaib yang bisa mengubah apapun. Jelek jadi cantik, klasik jadi menarik, fakir jadi tajir, Bahkan kalau punya uang yang banyak, mudah saja menjadi seorang pemimpin selama menggunakan pemilihan langsung. Mengapa? Karena yang dibutuhkan pemilih adalah uangnya, bukan yang dipilihnya. Bisa saja kemiskinan memang diciptakan agar manusia mudah dikendalikan dengan uang. Maka jangan coba-coba yang miskin menulari yang kaya. Kalau yang kaya ketularan miskin siapa yang mau berderma?

Tidak mudah hidup sebagai seorang manusia, awalnya saya mengira bahwa manusia yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, baik fisik maupun psikis mempunyai kebijaksanaan yang luar biasa ternyata sama saja. Ada yang memang bijaksana dan ada juga yang hanya bijak di sana, di sini tidak. Tapi begitulah Sang Pencipta, seadil-adilnya pemberi keadilan. Belum tentu yang adil di mata manusia ternyata tidak menurut Sang Pencipta.

Maka saya bertekad kembali menjadi kera, membawa ilmu manusia dan akan saya kembangkan di dunia satwa. Saya bercerita tentang suksesi kepemimpinan. Pemimpin tidak diwariskan tapi diciptakan. Biarkan mereka memilih pemimpinnya sendiri sesuai hati nurani. Aku kampayekan sekaligus mohon doa restu untuk mencalonkan diri, namun ternyata jawaban mereka mayoritas sama, berani bayar berapa?.

Rabu, 13 September 2017

BAJA

“Sekuat – kuatnya baja, akhirnya patah juga”

Hari itu ada penjual arit dan alat pertukangan mampir di sekolahan. Saya tidak begitu tertarik karena biasanya barang yang di iderkan harganya lebih mahal dari harga pasar. Kalaupun lebih mahal sebetulnya sih tidak terlalu, karena kita dimudahkan tanpa meluangkan waktu dan biaya transportasi serta parkir ketika harus ke pasar. Namun saya berubah pikiran ketika pedagang menawarkan harga 25 ribu rupiah, menurut saya itu harga sudah murah dibanding harga pasaran yang 35ribu rupiah, belum lagi biaya lain-lain yang harus dikeluarkan apabila beli di pasar.

Saya memilih satu arit bagong untuk menebas semak-semak karena memang saya belum punya. Sedangkan arit biasa untuk potong rumput saya sudah punya. Saya pilih yang gagangnya kayu keras, karena yang di jual di pasar kelemahannya ada pada gagangnya, sering pecah. Akhirnya saya putuskan beli satu dengan gagang kayu jati. Saya coba menyayat ke punggung arit lain yang ada di sekolah, luar biasa, semuanya tergores namun arit yang ada di sekolah saya coba goreskan di arit yang saya beli tidak tergores sedikitpun. Saya bayar dengan harga pas tanpa menawar.

Sesampainya di rumah, saya coba babat semak di kebun. Ternyata tidak setajam yang saya perkirakan, maklum masih baru belum diasah ulang. Saya asah setajam-tajamnya saya coba untuk memotong kayu yang lebih keras, bahkan ujungnya sempat mengenai batu, namun tidak bengkok sedikitpun. Benar-benar kuat arit ini. Padahal arit yang saya punya ketika kena batu sedikit saja sudah bengkok. Lalu saya coba untuk memotong bambu. Dalam waktu singkat patah, bukan bambunya, tapi aritnya.

Ternyata sekuat-kuat baja akhirnya patah juga, justru ketika memotong bamboo, bukan batu yang sama-sama kerasnya.

Doro, 11 September 2017

Rabu, 06 September 2017

KOLEKTIF KOLEGIAL

“Kalo cuman elo yang aktif, elo juga yang bakal ketiban sial”

Malem ini sebetulnya gue udah ngantuk, lampu udah gue matiin, tinggal nge-off-in mata; merem. Belom sempet gue merem, terdengar ketukan dan salam, gue jawab lalu gue persilain masuk. Ternyata dua adekku nganterin undangan, ada pesta katanya. Ya pesta dua tahunan yang gue sendiri pernah jadi ketua panitianya. Agendanya bulan ini, tinggal beberapa hari lagi, sebenernya sih gue keberatan coz dah punya agenda di tanggal yang sama. Namun, bagaimanapun juga gue pernah menjadi bagian dalam pesta itu, ngerasain susahnya jadi panitia. waktu rapat yang dateng cuman empat. Kalopun sampe sebelas, amblas satu persatu hingga tinggal tujuh, itu jumlah maksimal.

Sedikit ngenang masa taon 2008an, ngomongin panjang, lebar, luas, tinggi, dan isi. Panjang jalan yang mesti ditempuh para aktivis, kadang kagak nyadar tubuh dan isi kantong kian menipis. Mesti lebar pantat nungguin temen mo molai rapat, belom datang udah bilang telat, rapat jam satu datang jam empat, gimana kagak lebar nih pantat. Luas, elu-elu pade kudu awas, kudu punya agenda pribadi sebelom pribadimu diagendakan, yakin yang namanya organisasi kagak ada ngetemnya, justru ngetemnya tuh kebanyakan karena nungguin temen-temen yang pada mau rapat. Waktu rapat nih biasanya yang dibicarakan tinggi-tinggi sekali kiri-kanan nggak liat-liat lalu jatuh ke jurang (kayak lagu naik-naik ke puncak gunung aja ya?) ya emang gitu sih, maklum darah muda darahnya para remaja yang selalu merasa gagah tampil di muka bilangnya ogah (sembari bersenandung kidungnya Wak Haji Oma Irama). Lah kalo kayak gini gimana visi yang tinggi bakal tercapai? Okelah gak usah tinggi-tinggi yang penting berisi, kalo gini tumbuh ke atas apa ke samping? Apapun bolehlah yang penting pas ada kegiatan jangan menyamping, orang jawa bilang “Melu keplok ora melu tombok”. Ternyata apa yang gue rasain juga dirasain oleh adek-adek gue. Gak iklas kali ye! Iklas gak iklas, coba bayangin. Yang punya organisasi pelajar, anggotanya pelajar, yang merancang program juga pelajar, bisa-bisanya waktu semesteran malah mikirin rapat kegiatan, gak heran kalo dulu ada plesetan IRM (Ikatan Remidi Matematika), hahaha. Kalo gue sih matematika gak pernah remidi, maklum gue anak IPS, mo ambil computer takut kesetrum. Nah ini nih yang bikin kolektif kolegial gak berjalan gimana mestinya. Biasanya yang aktif mesti terlibat dalam setiap program bidang meski bukan bidangnya sendiri. Kalo tidak terlihat mesti dicurigai, udah molai mementingkan diri sendiri, gak loyal lagi, gak setia sumpah janji pas pelantikan, kudu mentingin organisasi di atas kepentingan pribadi dan golongan, what? Lo kira organisasi penjara baru? Organisasi tuh memerdekakan, bukan membelenggu. Meringankan, bukan merongrong keuangan. Menggembirakan, bukan menggeringkan badan, maklum kebayang dulu beratnya cuman 35Kg, Alhamdulillah sekarang udah nambah, 45Kg sudah, namun selalu ditolak kalo mo donor darah).

So, kalo cuman elo yang aktif, elo juga yang ketiban sial, bukan kolektif kolegial namanya. Kolektif kolegial gak sekadar pimpinan yang aktif, elo-elo pade para anggota juga kudu aktif, pan elo juga yang milih pimpinan. Jadi kagak ada lagi peribahasa “ringan sama dijinjing, berat elo yang pikul”. Udah saatnya kite serukan “ Bersatu kita teguh, bercerai jangan sampai!” (nyarinya lagi susah soalnya, hehe).

Dimanapun jari ini melompat, antara pertengahan Desember 2016 – 6 September 2017 (00:44)

*) sorry, sengaja keluar dari pakem Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadi tidak patut ditiru ya!

KACAMATA TEMBUS PANDANG


“Pada saat tertentu kita perlu menutup mata kepala, mengoptimalkan indera bathin dan kekuatan pikiran untuk menemukan jalan yang sesungguhnya (Abdul Mubarok - Founder Omah Cendekia)”

Abdul Mubarok, Founder Omah Cendekia dan Sap7a Warna Plakat dan Trophy adalah teman saya semasa di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) (sekarang IPM). Pertama kenal ketika PD IRM Kabupaten Pekalongan menjadi tuan rumah Musyawarah Wilayah Ikatan Remaja Muhammadiyah Jawa Tengah. Mas Barok begitu sapaan akrabnya menjadi sekretaris eksekutifnya mas Nasyith yang jadi Ketua Panitia Penyelenggaranya. Dia kelihatan lebih tua dari usianya, dengan rambut gondrong sebahu, kumis khas Alejandro Zorro. Ah hampir-hampir seperti Bang Iwan Fals waktu muda. Mas Barok ini gudangnya sulapan dan cerita lucu, di sela-sela istirahat kegiatan IRM selalu saja ada cerita lucu.

Alkisah di Negeri Antah barantah hiduplah seorang cewek yang malu punya pacar pelo, gak bisa bilang R. Sudah berkali-kali ia dibuat malu oleh kekasihnya yang tidak bisa bilang R. Maka untuk menghindari huruf R mereka mesti diskusi dulu ketika mau melakukan sesuatu. Urusan makan misalnya paling pesannya bakso, soto, mie ayam, teh manis, kopi susu, pokoknya yang tidak ada huruf Rnya.

Tapi lain dari biasanya, malam ini si cewek mau nasi goreng. Sang cowok mesti menghafal dulu, sambil jalan sembari berbisik nasi gorrrrreng, nasi gorrrreng, nasi gorrrreng. Sampai di tempat sang cowok pesan “nasi gorrrreng 2 Bang!”, si cewek tersenyum melihat perubahan sang cowok yang sudah mulai bisa bilang R. “Minumnya Mas?” Tanya Abang Nasgornya. “Es Jeyuk”. “Arrrrgghhhh!” si Cewek Histeris “Kita putus!”.

Kita memang tak pernah menduga apa yang akan terjadi nanti, meskipun kita telah berusaha mempersiapkannya sejak awal. Tidak ada manusia yang sempurna, pun tak ada manusia yang selalu salah. Pada saat tertentu kita perlu menutup mata kepala, mengoptimalkan indera bathin dan kekuatan pikiran untuk menemukan jalan yang sesungguhnya. Tak perlu kacamata tembus pandang yang bisa melihat jauh ke depan tanpa terhalang. Bisa jadi halangan yang ada di depan mata justru tidak terlihat, yang membuat kita tersandung, jatuh, dan terjatuh lagi.

Kamis, 17 Agustus 2017

DINAMIKA

Selama hidup ada terang dan redup. Sukses dan gagal gembira dan sedih. Ketika redup, bukan malah ditutup agar tidak kelihatan. Begitu pula gagal bukan untuk dibenamkan agar orang tidak tahu bahwa diri ini gagal, bukan pula untuk dipamerkan. Gagal ya gagal saja bukan kesuksesan yang tertunda. Kesuksesan akan diraih bila bangkit dari keterpurukan, keberanian untuk jatuh dan bangkit, putus asa dan harapan, membuat kita jadi manusia seutuhnya, bukan sekadar segenggam tanah, setetes nutfah,dan segumpal darah.

Kamis, 24 Mei 2012

KATAK

"Dibolak-balikpun, katak tetap saja katak" Banyak definisi ketika menyebut kata katak, misalnya saja binatang amphibi, binatang yang ber metamorfosis sempurna, atau binatang yang enak dimakan bagi sebagian orang. Atau bisa saja disebut sebagai binatang yang tidak bisa berjalan karena memang bisanya melompat. Melompat-lompat merupakan hal yang wajar bagi katak. Tapi bagaimana jika yang melompat-lompat adalah kanak-kanak, pasti sudah buru-buru dicap hiperaktif,pecicilan,gak bisa diam atau sebutan-sebutan lain yang lebih kasar tentunya. Bisakah kita melarang katak untuk tidak melompat? Jika demikian tutup saja dengan tempurung. Lalu bagai mana dengan anak yang hiper aktif? Apakah harus dijadikan katak dalam tempurung juga? Bila hal ini yang terjadi, orang yang melakukannya bisa saja disebut sebagai penjahat. Bagaimanapun juga katak tetap saja katak, dibaca dari belakangpun tetap saja katak, begitupun kanak-kanak, ah binatang yang jujur nyanyiannya lebih jujur ketimbang kampanye. Bagaimana dengan ibu? Nah itulah, mestinya ibu berperan sebagai ibu saja, jangan berubah jadi bui bagi anak-anaknya. Kalau masa kanak-kanak saja sudah merasa dibui, bisa saja masa remajanya seperti residivis. Kalau masa kanak-kanak sudah dikurangi jatah bermainnya, bisa jadi akan mencari kepuasan saat dewasa nanti. Bila sejak kanak-kanak sudah disibukkan dengan les ini-itu bisa jadi masuk sel karena bermain itu-ini. Pistol-pistolan sampai pistol beneran, pedang-pedangan sampai pedang beneran, perang-perangan sampai perang beneran, orang-orangan sampai orang beneran. Nah kalo udah mempermainkan orang nih yang bahaya. Memang sih tidak semuanya begitu, karena potensi anak kan beda-beda jadi biarkan mereka berkembang sesuai tingkat perkembangannya. Cukupi kebutuhan mereka dengan porsi yang berbeda sesuai kebutuhannya. Tapi kalo urusan cinta dan kasih sayang, porsinya harus sama.

Minggu, 02 Januari 2011

SURAT SAHABAT

KALAU ADA WAKTU MAIN KE RUMAH YA?
“Dimana kawanku, inginku menyapa. Beri aku ruang, tempatkan diriku.
Dimana kawanku, semakin menjauh. Beri aku arti, tak ingin berbeda.”(Padi)




Kemajuan teknologi seakan-akan mempersempit dunia ini. Yang jauh jadi dekat, yang dekat semakin dekat. Menurutku pernyataan itu tidak sepenuhnya benar,bahkan bias jadi sebaliknya: yang dekat jadi jauh, yang jauh semakin jauh. Dengan kemajuan teknologi, untuk berkomunikasi tidak mesti bertatap muka. Bias lewat tetefon, HP, atau chating via internet. Teman bicara tidak hanya tetangga depan rumah saja, bahkan bias saja dari mancanegara. Hal inilah yang sedikit banyak berpengaruh terhadap pergaulan. Silaturrahmi jadi berkurang, butuh sesuatu tinggal sms. Kalau kita ambil positifnya sih silaturrahmi tidak mesti bermuwajahah. Komunikasi via surat, telepon, maupun internet juga bisa dikatakan sebagai sarana silaturrahmi untuk saling tanya kabar, uluk salam, serta cerita panjang lebar.
Sarana komunikasi yang kian maju justru membuatku jauh dari sahabat penaku. Layyinatus Syifa, gadis yang aku kenal melalui tabloid Yunior, sisipan Koran Suara Merdeka edisi Minggu di rubric Terminal Puisi, taun 2002 tepatnya. Awalnya aku iseng membuat karu ucapan lebaran, tapi bingung mau dikirim untuk siapa. Ketika ku baca YUNIOR, ku temukan satu nama Layyinatus Syifa. Saya kira masih kelas V SD ternyata sudah kelas I SMA.
Layyinatus Syifa, lama tidak ada kabar, baik-baik sajakah kamu sekarang? Itu suratmu yang kau kirim pada tahun 2002. Sekarang sudah 9 tahun ya. 10 tahun lagi nggak apa-apa kan? Berarti masih 1 tahun lagi.

Kamis, 25 November 2010

KEPALA SEMUT VS EKOR GAJAH

AKU ADALAH KEPALA SEMUT YANG JADI EKOR CICAK
“Meskipun kecil, jadilah pelopor. Jangan asal besar tapi hanya pengekor”


Sore ini aku sedikit bisa santai dari biasanya, bahkan kegemaranku membaca kembali membara. Ternyata hobi membaca yang ada pada diriku tidak sepenuhya sirna. Buktinya aku sempat melahap buku setebal 128 halaman dalam waktu singkat.
Membaca sudah menjadi aktifitasku sejak dulu, buku menjadi teman setiaku, begitu juga diary kecil warna hijau yang telah aku sampuli ulang dengan warna orange dan kuning lemon bertuliskan puisi William Shakesphere dengan mesin ketik.
Kubaca lembar demi lembar, diaryku mengajak kembali pada masa 8 tahun silam. Aku pernah jatuh cinta juga rupanya, tidak pada satu gadis, bahkan empat sekaligus. Yah, hanya sebatas mengagumi, tanpa ambisi untuk memiliki. Lagipula tidak terlalu berlebihan, dengan demikian tak pernah mengganggu aktifitasku sebagai pelajar, malahan dengan adanya mereka, sedikit banyak memberii motivasi positif.
Ada sebuah tulisan yang memaksaku untuk memperhatikannya lebih dalam,

Liena,….aku pernah bilang ke kamu “Mending jadi kepala semut ketimbang jadi ekor gajah” disaat aku jadi kepala semut, aku malah pergi demi sedikit gula. Sekarang, aku tak lebih dari buntut cicak yang dipermainkan kucing liar. Bergerak-gerak tanpa arah dan akhirnya diam.
Liena,…..maafin aku ya, aku nggak bias pegang janjiku.
Temen-temen, maafin aku juga, aku di sini bukan untuk bersenang-senang. Hidup-hidupilah IRM kita!

Ya aku ingat, 17 Oktober 2001 aku terpilih sebagai ketua umum Pimpinan Ranting Ikatan Remaja Muhammadiyah Kutosari yang sebelumnya tidak dicalonkan. Gara-gara calon utama yang diproyeksikan jadi ketua mangkir, bukan dua calon yang lain yang harus dipilih. Justru saya yang dijadikan sebagai gantinya. Musyawirin ternyata memilihku. Jadilah saya Ketua Umum. Bermodal Rp 9.000,00 dari sisa kas periode sebelumnya saya bersama teman-teman yang sama-sama masih awam berusaha mengembangkan IRM. Suka dan duka selalu ada, dari masalah dana sampai personal antar anggota. Untuk mengadakan kegiatan pengkaderan saja harus door to door minta donatur dari warga, tidak jarang pula yang mengatakan IRM kerjanya cuma minta-minta. Tidak jarang pula antar anggota ada gap sementara program yang disusun bersama mesti ditunaikan, dari pengkaderan, lomba-lomba romadhon, bahkan tadabbur alam.
Belum genap setahun kepemimpinanku, 14 September 2002 aku merantau ke Jakarta. Banyak hal yang belum saya tunaikan dalam organisasiku. Ternyata begitu sulit bergerak tanpa dukungan dana dan lebih berat lagi kalau tak ada dukungan dari anggota. Saya benar-benar merasa tidak mampu memimpin IRM. Maka, ketika ada tawaran ke Jakarta, saya putuskan untuk mengambil kesempatan itu.
Tapi ternyata itu bukan sebuah solusi. Apakah semua pemimpin pernah mengalami hal seperti itu? Teringat olehku kisah nabi Yunus yang meninggalkan kaumnya karena tidak mau mengikuti dakwahnya sampai akhirnya ia diuji oleh Allah didalam perut ikan. Ia sadar bahwa meninggalkan kaumnya sama halnya lari dari tugasnya sebagai nabi. Hal ini pula yang kadang jadi alasan, nabi saja seperti itu, apalagi aku yang hanya manusia biasa bukankah itu hal yang lumrah. Tapi ketika saya piker kembali, tantangan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang dialami para nabi dan rasul.
Minggu-minggu awal di Jakarta tak lepas dari air mata. Sesal tiada guna, pulang pun jauh dari rencana. Aku jalani apa yang sudah menjadi jalanku, meski di sini aku harus beberapakali terlempar, keluar masuk pintu, mencari kerja sebagai buruh. Menjadi buruh saja susah, apalagi jadi pemimpin. Ah, rasanya hampir menyerah, namun ketika ku ingat satu kata dalam surat Liena yang aku terima lewat mimpi membuatku kembali berdiri ; STANDING STILL katanya.
Liena,… aku masih berdiri sekarang. Dulu seorang buruh, sekarang seorang guru. Meskipun gajiku sebagai buruh dulu lebih besar dari gajiku sebagai guru SD swasta sekarang, tapi saya selalu yakin bahwa menjadi kepala semut lebih baik dari pada menjadi ekor gajah. 

01:29, 17 Dzulhijjah 1431

Rabu, 15 September 2010

KEZALIMAN DI BATAS KELAZIMAN

KEZALIMAN DIBATAS KELAZIMAN
“benar atau salah bukanlah sebuah ukuran untuk menilai perbuatan seseorang,
karena rupa-rupanya kebenaran yang terjadi saat ini hanya sebatas kelaziman semata.
Salah kaprah,bener ora lumrah”

Menjadi sebuah kelaziman, bila suatu Negara mempunyai dasar Negara. Indonesia misalnya, Negara kita yang subur, makmur, mempunyai belasan ribu pulau dan laut yang terbentang begitu luas dengan segala sumber dayanya, sungguh dapat dikatakan sebagai Negara yang gemah ripah lohjinawi tata tentrem kerta raharja. Namun sudahkah kita nikmati? Yah barang kali hanya sebagian kecil orang saja yang menikmatinya karena justru dari sebagian kecil tersebut mengambil bagian yang sepenuhnya besar yang menyebabkan sebagian besar lainnya tidak kebagian.

Tulisan ini bukan untuk mengadili orang demi orang, tapi coba kita renungkan, adakah nama kita tercatat didalamnya. Di dalam sebuah kotak kezaliman. Zalim pada diri sendiri, orang lain dan melazimkan kezaliman itu sendiri sebagai sebuah hak asasi.

Kita terlalu mengagungkan hak asasi tanpa dasar. Sadar atau tidak, dasar Negara kita yang tiap senin pagi kita tirukan dalam upacara bendera, tak pernah membekas. Hanya sebagai pajangan di depan kelas diapit dua gambar orang terdepan di Negara kita, presiden dan wakil presiden.

Betulkah tuhan kita benar-benar Esa? Tuhan yang patut disembah tiada duanya. Seberapa besar kepercayaan kita kepada tuhan yang maha Esa?. Saya yakin, dan berani menjamin bahwa sebagian besar WNI (Warga Negara Indonesia) percaya bahwa tuhan itu satu. Cukupkah dengan satu tuhan saja?

Mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia yaitu serakah, hingga tuhanpun tak cukup satu rupanya. Kita ciptakan tuhan-tuhan lain; kekuasaan, uang, dan segala kenikmatan duniawi yang tanpa disadari justru menjebak kita sendiri : semakin jauh dari tuhan. Atau, dengan ke-Esa-anNya manusia menganggap tuhan tak mampu mengawasinya, sehingga kita berbuat semaunya, menyebar kezaliman-kezaliman sampai batas kelaziman.
Dengan demikian, dimana letak keadilan? Dimana peradaban manusia sebagai makhluk yang paling sempurna?

Bila keadilan di Negara kita mulai sirna sanggupkah penduduk dari belasan ribu pulau bertahan dalam NKRI? Cukup timor timur saja yang lepas. Kuharap Indonesia masih terus bernafas melanjutkan usianya yang masih muda untuk ukuran sebuah Negara.

Demokrasi macam apakah yang terjadi di Negaraku bila kebanyakan wakil kita hanya tergabung dalam paduan suara lagu setuju, “ah itu kan dulu. Sekarang malah lebih seru tak cukup dengan setuju, kalau perlu sekalian adu tinju”. Atau kita yang kecanduan demokrasi jalan raya yang pada akhirnya berujung korban jiwa. “Jangan terlalu menyalahkan pemerintah toh mereka pilihan kita”. Model pilihan langsung untuk menghindari pilih kucing dalam karung semakin membuat kita bingung, pinginnya pilih semua apa lagi yang ada hadiahnya seperti kecederungan masyarakat kita yang senang dengan iklan, undian, dan belanja di swalayan. Paling-paling kalo kecapean baru komentar kenapa susah-susah pilih sendiri kalau ujungnya sama saja, semua pemimpin bijaksana. Ah kata siapa? Bijaksana kata mereka yang berkepentingan di sana.

Akhirnya kita berharap adanya keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia, tapi masih saja dikejutkan oleh berita-berita di koran, radio dan televisi. Lagi-lagi korupsi. Dengan mudah pelakunya dapat remisi. Sedangkan rakyat pencari (bukan pencuri) cokelat, randu dan semangka entah divonis berapa tahun penjara. Adilkah Negara kita?

Saya kok jadi menghayal kalau-kalau para koruptor sadar menonton berita, rakyat saja dengan kesalahan kecil pasrah divonis berapapun lamanya tanpa menyewa pengacara. Kenapa yang sudah jelas-jelas korupsi justru berbalik mengajukan somasi dengan tuduhan pencemaran nama baik. Gila, bener-bener gila, siapa yang harus dibela?

Tentunya kita harus membela diri kita, jangan sampai ikut-ikutan melazimkan kezaliman, menyianyiakan waktu yang diberikan tuhan. Masih ada waktu untuk berubah, mari kita cegah kezaliman jangan sampai melampaui batas kelaziman; dengan tangan dan lisan. Kalaupun tak mampu, cukup dengan hati saja bagi yang lemah imannya. Doakan mereka, tak perlu dikoreksi kalau hati mereka telah mati. Tetap jalankan misi kita, sebagai generasi masa depan yang akan teruskan cita-cita mereka.
Indonesia Raya…Merdeka Merdeka tanahku negeriku yang kucinta. Indonesia raya merdeka-merdeka hiduplah Indonesia raya.

Indonesia Raya, 17 Agustus 2010

NB : 65 tahun Indonesiaku, benarkah sudah berubah? Atau bertambah parah. Semoga keduanya salah, karena Negara kita tidak berubah, masih tetap gemah ripah, penduduknya ramah-ramah ketika ada masalah selalu diselesaikan dengan musyawarah. Terlebih masalah dengan Negara asing, kita seperti macan yang kehilangan taring. Tapi anehnya ketika berhadapan dengan pedagang kaki lima mendadak berubah menjadi singa.

Selasa, 10 Agustus 2010

IRONMAN

Kisah superhero jauh dari pakem yang sesungguhnya
IRON MAN

“Hidup tanpa kritik, layaknya makan tanpa krupuk.
Hidup penuh kritik seperti kuda lumping makan beling”

Sebuah kritikan sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Tanpa kritik mungkin hidup ini datar-datar saja, tak ada kemajuan yang berarti, bahkan bisa jadi justru lepas kendali. Kendati demikian hidup penuh kritik bukan berarti lebih baik, bisa jadi justru menghambat kemajuan itu sendiri; stagnan.
Di sebuah desa, desanya para Super Hero hiduplah macam-macam Super Hero dari golongan hewan. Saya tidak tahu kenapa lebih banyak hewan yang menjadi Super Hero, bukan manusia. Padahal di situ adalah desanya para manusia. Sebut saja mereka Batman, Robin, Spiderman, Scooby, Silver Hawk, Thunder Cats sekeluarga (Lion-o, Cheetaraa, Phantero, Tigra, dkk), Batgirl, Catwomen, dkk. Sesuai namanya meskipun mereka Super Hero tetap saja punya sisi ke-binatangan-nya. Misalnya; batman yang suka keluar malam, Robin suka berkelana, Spiderman suka merayap dan menunggu mangsa ia tidak mau susah-susah tinggal pasang jaring saja. Tanpa disebut satu per satu, silahkan dipikir sendiri sisi kebinatangan mereka masing-masing.
Selain binatang, disana hidup juga Super Hero yang memang dari golongan manusia. Sebut saja Ironman, Robocop, Zoroo, Robin Hood, Superman, wonder women dkk.
Dalam film, Ironman maupun Robocop sama-sama manusia yang berbaju besi jadi tidak heran bila mereka punya sifat yang sama: keras kepala. Zoroo dan Robin Hood juga hampir sama, sama-sama merampok orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada fakir miskin. Yang paling berbeda justru Superman, dia bukan manusia super seperti dalam cerita, dia hanyalah seorang super angkot saja.
Suatu hari mereka berencana membuat sebuah mushola. Saya salut atas usaha mereka. Meski mereka bukan manusia seutuhnya, tapi mereka berusaha untuk menyembah sang pencipta. Pada rapat yang pertama, muncul beberapa usulan, Spiderman mengusulkan untuk penggalangan dana pasang jaring saja, bisa di jalan, di pasar, atau di keramaian. Menurut Batman yang punya kemampuan ekolokasi ia akan terjun langsung meminta donator masyarakat. Sedangkan Robin mengusulkan untuk mencari dana bantuan pemerintah, kebetulan ia juga aktivis LSM jadi punya banyak link di pemerintahan.
Rapat pertama berjalan lancar, begitu pula tindak lanjutnya. Mereka bekerja sesuai jobnya masing-masing.
Konflik mulai muncul ketika pondasi mushola mulai dibangun. Ironman mencak-mencak gara-gara galian pondasi masuk pekarangannya. Terlebih Zoroo yang dituduh menggali tanah tersebut. Syahdan, pada saat itu juga Zoroo bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di mushola itu sebelum Ironman mati. Agaknya tidak hanya Sudah menjadi sifat dasar Ironman, dia laksana setrika, haus pujian, ia menganggap bahwa baju yang rapi karena jasanya, tanpa melihat jasa detergen, air, ember, dan alat-alat lain pada saat mencuci. Ia tidak berfikir nantinya mushola untuk siapa yang jelas ia ingin berdirinya mushola itu atas jasanya. Bagaimana masyarakat akan menilai seperti itu kalau pekarangan yang tergali saja membuatnya mencak-mencak.
Ditengah pembangunan ternyata mushola itu kekurangan kayu. Dengan mudah Robinhood menjarah hutan jati milik pemerintah, dia pikir inikan bukan untuk kepentingan pribadi, jadi sah-sah saja. Sementara Superman membantu mengangkut kayu-kayu itu. Pembangunan dilaksanakan secara cepat oleh kawanan Thunder Cats dan pemasangan atap dilakukan oleh Silver Hawk. Super Hero wanita seperti Batgirl, Cat women dan Wonderwomen menyediakan konsumsinya.
Mushola sudah jadi, mereka kebingungan untuk menentukan siapa muadzin, dan imamnya. Semua menolak, Super Hero perwakilan dari binatang mengusulkan untuk jadi imam dari golongan manusia saja karena manusia lebih sempurna dari mereka. Untuk muadzin mereka mengusulkan Scooby yang suaranya keras.
Tanpa ditunjuk, Ironman langsung mengajukan diri. Ia paling sempurna diantara super hero lainnya, terutama dari golongan manusia. Zoroo dan Robin Hood, mereka adalah pencuri mana mungkin jadi imam. Robocop juga sebetulnya sudah mati tapi dihidupkan lagi tidak mungkin solat dipimpin oleh mayat. Wonder woman jelas tidak mungkin, emansipasi wanita tidak berlaku dalam hal ini. Sementara superman menolak, cukup ia jadi super angkot saja tidak mau jadi super mushola.
Formasi ini berlangsung selama bertahun-tahun. Ironman sebagai imam dan Scooby sebagai muadzinnya berjalan lancar tanpa ada kendala. Hingga suatu ketika, entah mengapa Ironman tidak muncul juga padahal sudah lewat 15 menit adzan maghrib berkumandang. Akhirnya jama’ah mendaulat Scooby untuk jadi imam. Entah bagaimana ceritanya surat al-Kafirun yang dibaca pada rokaat pertama tidak selesai-selesai, muter-muter tak sampai sampai, membuat jama’ah tertawa terpingkal-pingkal. Solat jamaah rusak, Scooby malu, ia bersumpah tak kan lagi solat berjamaah sebelum Ironman dimakan cacing tanah.
Sudah dua super hero yang lari dari jamaah, zoroo dan Scooby. Peristiwa itu memang sungguh memalukan bagi Scooby ditambah dengan kemarahan ironman membuat suasana menjadi tambah panas selaksa setrika. Scooby dan jamaah kena marah. Esokna jamaah semakin berkurang. Hanya superhero kecil yang sesekali menggantikan adzan dengan suara putus-putus, itupun dilakukan karena tak ada yang menjadi muadzin. Lagi-lagi kena marah, bahkan tidak hanya dari ironman saja, Robocop ikut-ikutan memarahinya. Superhero kecil malas ke moshola, orang tuanya juga.
Sekarang tinggal Ironman dan Robocop yang semakin renta saja yang jamaah. Kadangkala muadzin dan imam didominasi mereka berdua meskipun jamaah tak sampai satu shof penuh. Sementara yang muda kadung kecewa dengan sikap Ironman dan Robocop kepada mereka semasa belia.
Mushola kecil yang dibangun atas kebersamaan, kerukunan antar manusia dan binatang kini telah kehilangan ruhnya seakan-akan mushola itu hanya milik Ironman dan Robocop saja. Ironman mulai sakit-sakitan, Robocop yang ambil kendali, kini ia sadar bahwa melarang anak-anak adzan menyusahkan dirinya sendiri karena tak ada lagi yang mengganti.
Hari itu, tepatnya malam rabu Ironman meninggal dunia. Tak ada duka maupun tangis, tak hanya rela tapi perasaan lega bahkan diselingi kutukan-kutukan dari masyarakat lainnya. Selepas itu jamaah semakin banyak, orang-orang kembali ke mushola, Scooby, Zorroo telah kadaluarsa masa sumpahnya. Ironman telah mati, jamaah mushola ramai kembali.

Depan Baiturrohman, akhir Sya’ban 1431 H

Ada yang bisa dipetik dari cerita tadi? Silahkan dikomentari. Matur nuwun

Kamis, 08 Oktober 2009

kolak gratis

KOLAK GRATIS DIBULAN ROMANTIS

Siang yang melelahkan, sebenarnya bukan waktu siang yang membuat lelah, tapi aktifitas pada malam sebelumnya yang terlalu padat sehingga mewariskan kelelahan pada siang harinya.
Pagi yang cerah, seperti pagi-pagi yang telah lewat aku tetap berangkat ke sekolah meskipun agak terlambat lantaran bangun telat. Sisa lelah masih membekas di pipi kanan, untung saja tak ada sisa peta yang belum selesai aku gambar : tahu maksudnya kan? Hehe…
Tak ada hal yang istimewa di sekolah, hanya saja ada satu pertanyaan yang membuatku terpaksa menampakkan seulas senyum. Pertanyaan tentang batal tidaknya puasa seseorang yang keluar darah. Saya pikir apa , jebule ada yang berdarah karena tergores pames. Walah kalau darah yang itu sih tidak membatalkan puasa tapi kalau darah yang keluar dari….. tidak usah dijelaskan saya piker murid-muridku sudah pada tahu…. Tentu saja membatalkan puasa.
Sampai di rumah, aku rebah.lupa akan janji yang sempat terucap kemarin. Ya janji bahwa sore ini mesti ke Muhi (SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan) ada amanah yang harus diselesaikan perihal analisis SWOT dan Kurikulum SMK dalam rangka inisiasi pendirian SMK Muhammadiyah Doro.
Pukul 17.10 kami sampi di Muhi, tepatnya di asrama putri Jln Sumatra Pekalongan. Sampai di sana ada kesibukan lain ternyata ; bagi takjil di lampu merah jln KHM Mansyur berupa kolpigar sebut saja begitulah, karena memang aku gak tau namanya. Yang jelas sih kolak pisang agar-agar.
Ternyata bulan ini benar-benar romantis ya… romantis karena tiap orang berlomba mencari cinta Tuhan. Sampai-sampai cintanya kepada Tuhan melebar kepada sesama manusia; termasuk bagi-bagi takjil tadi, bukankah itu suatu perbuatan mulia yang bernilai ibadah. Tuhan juga sangat murah hati di bulan ini, tidur saja dapat pahala apalagi beramal, pasti pahalanya berlipat ganda.
Kalau ada kolak gratis dibulan romantis, ada nggak ya sarapan gratis dibulan krisis?

PAK HAJI

Saya tidak pernah tahu nama beliau. Orang-orang di terminal hanya memanggilnya Pak Haji. Saya juga tidak ingat nomor angkot yang beliau kemu...