Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Agustus 2026

ABDEE & SHELLY


 "Udah lama aku mengenalmu sebagai makhluk termanis yang pernah ku jumpai". Kamu bagaikan lolypop. Meskipun kamu protes disamakan dengan permen. Setidaknya kamu memang manis dan penurut. Gak kebayangkan kalo permennya suka berontak? mau dimakan malah loncat-loncat.


 "Seandainya ada dua pilihan, kamu pilih jadi eskrim atau permen karet?". Tapi ternyata kamu tidak pilih keduanya meskipun sifat mereka ada padamu namun sifatmu tidak dimiliki mereka. Ya, menurutmu mereka sama manisnya denganmu. Lagipula kamu tak kalah manis dari keduanya.

 "Sekarang, apa perbandinganmu antara eskrim dengan permen karet?" Eskrim lebih manis dari permen karet katamu. Namun cepat lumer, jauh sekali dengan sifatmu. Sedangkan permen karet manisnya gak lama. Kalau kamu, manisnya awet.

 "Alasan yang sungguh mengagumkan, emangnya kamu belajar dari mana sih?". Katamu, alam yang menjadi gurumu, lalu kamu mengaitkannya soal agama. Mungkin pandanganmu saja yang terlalu sempit menganggap Islam lebih senang mencari ilmu kesaktian, bahkan beberapa pesantren yang kamu sebut beralih fungsi menjadi perguruan kesaktian, menggandakan uang, bahkan seperti praktek kolonialisme yang harus patuh tanpa tahu alasan yang jelas.

 "Ih, omonganmu udah nyinggung sara tuh" Nggak papa katamu, karena dalam agamaku berlaku bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Jadi kamu tidak bermaksud mencampuri agamaku, hanya heran saja. Aku juga heran kenapa kamu juga paham tentang al Quran.

"Dalam surat Ali Imran ayat 19 disebutkan bahwa, Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam. Bagaimana menurutmu?" katamu kamu sebenernya pengen belajar islam lebih dalam. 

"Aku sebenernya pengen juga sih belajar islam lebih dalam". Begitu katamu, tapi mengingat orang tua kalian yang non muslim, kamu jadi ragu

 "Hayo, lagi ngapain?" ssstttt, kayaknya pembicaraan kita terdengar papanya Shelly. udahan ya.


Ini karyaku yang aku temukan di Little Dream tahun 2003. Sebelum mengenal blog, saya mencatatnya di buku tulis. Ceritanya sih 100% fiksi, yang nyata cuma manisnya. Awet sampai sekarang. Gambarnya juga ilustrasi sendiri, cuman minta bantuan Chat GPT untuk merapikan.

APTX 4869



Bagi penggemar karya Aoyama Gosho, APTX 4869 bukanlah barang asing. APTX 4869 adalah racun fiksi yang dikembangkan oleh Shiho Miyano. APTX merupakan singkatan dari Apoptoxin . APTX mengaktifkan telomerase : sebuah enzim yang memperpanjang umur DNA sehingga sel membelah dengan lambat. 4869 dibaca shi ha ro ku (Sherlock), nama seorang detektif (Sherlock Holmes) karangan Sir Arthur Conan Doyle. Pada serial Detektif Conan, sering sekali muncul kode atau pesan kematian berupa angka. Sehingga saya mencoba menghafal deretan angka menggunakan Bahasa Jepang. Begitupun yang dilakukan Prof. Imam ketika membacakan nomor HPnya.

NIM saya 821634647 terasa sulit menghafal deretan angka tersebut, tetapi ketika saya sebut ha ni ichi ro san shi ro shi na terasa sangat mudah. Aoyama Gosho memberikan nama tokoh utamanya Shinichi Kudo (Shin Ichi = kebenaran selalu satu). Sementara Prof Imam memberi nama grup ini IRo Legendum (IRo = ichi ro = 16). 1+6=7. 7= tujuh (tujuan). 7=pitu (pitulungan).  

Maka IRo menurut saya bukan sekedar Imam Robandi, namun juga sebuah pertolongan. Menolong kita semua untuk menjadi besar bersama.


gambar diambil dari https://www.its.ac.id/telektro/id/dosen-staf/daftar-dosen/dosen-teknik-sistem-tenaga/imamrobandi/

Minggu, 31 Maret 2024

PAK CIK

“Semua gambar diawali dari sebuah titik”

Pak Cik aku memanggilnya, bukan sebutan paman dalam Bahasa Melayu. Beliau adalah Pak Mucikno, Guru Matematikaku saat duduk di kelas 2B SMP Negeri 4 Kedungwuni (sekarang SMP 3). Mungkin bagi sebagian siswa Pak Cik termasuk salah satu guru yang ditakuti, meskipun aku tak yakin mereka benar-benar takut, mungkin lebih kepada mata pelajarannya saja yang tidak disukai. Suatu ketika, Bu Hesti Nurhayati Guru Bahasa Indonesia kami tidak masuk kelas, Pak Cik yang menggantikan. Kalau tidak salah materi saat itu membuat puisi. Saya berkesempatan membacanya pertama kali, karena memang nama berawalan A selalu nomor 1 di daftar hadir. Saya masih ingat betul puisi yang saya bacakan.

Menangis tiada artinya

Airmata tiada guna

Meskipun betapa sedihnya

Menghadapi kenyataan

Tuhan telah menentukan hidup ini

Tiada yang mampu menghindari

Biarlah semua terjadi

Mungkin harusnya begitu

Tak usah menyesali diri

Yang lalu biar berlalu

Takkan mungkin selamanya menderita

Esokpun pasti ada bahagia

Sesungguhnya jalan ini masih panjang

Dunia inipun masih luas terbentang

Hanya waktu yang belum sampai saatnya

Mungkin suatu hari nanti

Tercapai sudah segalanya

Pak Cik memuji saya habis-habisan, tapi aku tak terlalu bangga. Bahkan lebih tepatnya malu. Itu bukan puisi karya saya sendiri, tapi lirik lagu yang saya hafal dari soundtracknya Saint Seiya.

Mungkin dari situ saya mulai belajar puisi, memperbanyak kosa kata, padan kata, metafora, dan sebagainya.

Pagi ini saya bertemu beliau lagi, dalam acara lokakarya orientasi PGP di SMA 1 Kedungwuni. Pada sesi perkenalan, setiap peserta diminta menggambar sebuah benda dan menerangkan artinya. Pak Cik menggambar titik di sebuah kertas, beliau menjelaskan bahwa sebuah gambar diawali dari sebuah titik. Titik-titik membentuk garis, bisa lurus atau lengkung, kemudian membentuk bangun, tekstur, bahkan warnapun terbentuk dari gabungan berbagaimacam titik. Namun titik tetaplah titik, tidak akan berubah apapun bila kita berhenti, pada, satu, titik.

Mudisar_Ceria, 23 Maret 2024

Selasa, 29 Desember 2015

SANG SURYA

SANG SURYA
“Menyinari dunia tanpa minta balas jasa”
Aku hanyalah seorang anak kecil. Sekarang berhadapan dengan banyak anak kecil. Mereka murid baruku di kelas III. Pada hari Sabtu, 4 Agustus 2004 Kepala sekolah mengantarku ke kelas, memperkenalkanku sekilas, lalu menyerahkan kelas itu kepadaku. 32 anak,  lebih dari tiga kali lipat ketika aku kelas VI SD, pikirku apakah aku mampu mengendalikan mereka, sementara 10 siswa saja pada masaku gaduhnya luar biasa.
Pelajaran pertama matematika, tak ada yang bersuara, haa bingung akupun bingung menuliskan cerita kebingunganku pada saat itu.
Besoknya olah raga, karena belum ada guru olahraga, jadi guru kelasnya masing-masing yang mengajar. Padahal aku paling tidak suka. Anak-anak sudah mulai mengenalku, mereka tanpa ragu mengajakku bermain kasti. Giliranku memukul, stikku malah mengenai anak yang jaga di belakang Akhsanul Fikri namanya. Dia nangis, guling-guling ahhh kesalahan pertama. Selepas itu kepala sekolah menasehatiku karena aku mengajar pakai celana doreng dan kaos oblong US Marine warna hijau army.
Hari-hari  berikutnya tampaklah sifat asli mereka, seringkali aku salah sebut nama karena kecenderunganku mengenal seseorang melalui sepatunya (maklum ghadul bashar,hehe..) tapi sepatu anak jaman sekarang kan gonta-ganti, tidak seperti jamanku dulu yang pakai sandal jepit kala musim hujan. Maka aku mulai mengubah cara mengenal mereka dengan menyamakan wajah mereka dengan orang-orang yang aku kenal.
Sebelum menceritakan lebih jauh tentang mereka, ada baiknya saya absen murid saya satu per satu
1.       Musaini
2.       Sapii Turahharjo
3.       Sofiyanto
4.       Eka Sari Khasanah
5.       Khoirul Anas
6.       Wahyu Andi Wijaya
7.       Akhsanul Fikri
8.       Ainun Ma’ruf
9.       Bintari Astuti
10.   Devi Herawati
11.   Dzikrul Ghofilin
12.   Eka Oktaviana
13.   Femina Putri Meetaliasari
14.   Imawati
15.   Khusnul Fitriani
16.   Laela Komariyah
17.   Maulana Aditya
18.   M. Ibnu Dzaki
19.   M. Sholeh
20.   M. Ismail Yusuf
21.   Nahida
22.   Nur Khatun Khasanah
23.   Rezky Ikhwan
24.    Siti Wulandari
25.    Sri Hartati
26.    Tri Buana Tungga Dewi
27.   Tyas Eko Widiyantoro
28.   Vina Handayani
29.   Wahyuni Ismiani
30.   Widya Sasi Karani
31.   Yonda Dwi Maulana
32.   Dedi Surya Winata

Suatu ketika, pelajaran olah raga saya awali dengan pemanasan lari-lari kecil keliling kampung, ada salah seorang warga yang nyeletuk, “Itu kelas berapa kok besar sendiri?” Kebetulan Musaini, anak paling tinggi dan besar, bahkan tingginya hampir menyamaiku, tidak masuk kelas, sehingga Saya yakin celetukan itu karena melihatku. Lantas dijawab “itu kan gurunya”, “Lah, kok kecil banget!”. Dalam hati saya tersenyum, memang begitulah orang tua, tidak pernah konsisten dengan pendapatnya sendiri. Seringkali orang tua membangunkan anak dengan berkata sudah siang, ketika anak sudah bangun kemudian minta es, dikatakan masih pagi gak boleh minum es. Barangkali pendidikan kejujuran memang harus ditanamkan sejak dini tanpa melihat situasi dan kondisi. Tidak ada istilah bohong itu baik, berbohong demi kebaikan, dan istilah lain yang serupa. Bagiku bohong tetap saja bohong dan termasuk perbuatan yang tidak terpuji. Menurutku daripada berbohong lebih baik mengalihkan perhatian anak seperti dalam kasus tadi, misalnya dengan menawarkan the hangat atau susu kental manis. Upps! Terlalu melebar ya pembicaraannya.


BERSAMBUNG……………

Minggu, 01 Maret 2015

CERITA CURIAN

MEMBAYANGKAN DUNIAKU TANPANYA
oleh : Gigih Setianto
Sebetulnya aku mengenalnya belum lama, belum genap lima tahun. Namun, banyak orang yang menyangka bahwa kami adalah sahabat lama dari kecil, itu karena kami sering bersama dan hangat dalam bersahabat. Persahabatan kami berawal semenjak ia baru mengabdi di SD didesaku. Selang beberapa minggu setelah kedatangannya, karena SD tersebut adalah almamaterku dulu maka aku sering silaturrahim ke SD tersebut sekedar bercengkerama dengan guru-guruku yang dulu pernah membentukku menjadi seperti ini, aku menemukan dua sosok baru muncul di SD itu dan setelah aku tanyakan kepada pak kepala ternyata kedua sosok itu adalah guru baru SD itu. Wajah kedua guru itu begitu teduh dan menyiratkan makna kebapakan, Guru yang luar biasa, itu pikirku setelah sekilas memandangnya.
Salah satu guru baru itu bernama Abdul Sukur, nama yang tidak asing sekali ditelingaku, sebetulnya aku dulu pernah sekilas mengenalnya sewaktu ada kegiatan IRM di Rogoselo namun secara samar-samar karena waktu itu kita berbeda Pimpinan Ranting jadi hanya sekedar memandang saja, tapi aku masih ingat kalo tidak salah dulu ia pernah berambut gondrong seperti vokalis grup band. Aku sempat suudzon karena rambut gondrongnya itu, dengan mengatakan bahwa ketua Pimpinan Ranting IRM ko’ rambutnya gondrong apa bakalan IRM bisa maju, tapi untungnya tidak aku katakan kepada siapapun sehingga ia tidak tahu kalau aku telah suudzon kepadanya.
Pertemanan kita berlanjut namun belum intens, karena aku sendiri sibuk sekolah dan berorganisasi disekolah, belum ditambah sekolahku yang jauh di kota pekalongan jadi seringkali berangkat jam 6 pagi dan pulang jam 6 sore. Sehingga kita hanya bertemu saat-saat tertentu saja seperti ketika aku bermain ke SD, ada rapat IRM dan secara tidak sengaja ketemu dijalan.
Persahabatan kita semakin erat ketika pada saat KONPIRAN IRM cabang Doro aku didaulat menjadi Ketua Umum PC IRM menggantikan ketua sebelumnya yang memang tidak aktif, sebelumnya aku menjadi sekretaris umum. Ia menjadi ketua bidang KPSDM. Pasca resafel itu tidak tahu sebabnya, aku mulai tertarik pada dunia IPM, mungkin saja karena ada ia. Ide-ide baru untuk IPM mulai mengalir begitu derasnya. Otakku mulai berproses merangkai ide-ide tersebut menjadi sebuah kenyataan. Namun aku tidak mau mengatakan bahwa yang membuat kenyataan atas ide-ideku itu adalah aku, sebuah kebohongan besar jika aku mengatakan demikian. Kenyataan menunjukan bahwa ialah yang membuatnya. Buktinya waktu itu aku belum punya motor secara pribadi, ia yang selalu menyambangiku saat mau rapat, ia yang memboncengkanku dengan motor L2 Supernya yang gagah seperti dirinya saat mau turba ke Pimpinan Ranting-Pimpinan Ranting. Saat itu Pimpinan Cabang IRM doro mempunyai 6 Ranting yang kesemuanya aktif yaitu Ranting Wonosari tempatku tinggal, Ranting Kutosari tempatnya tinggal, Ranting Simbang, Ranting Pejaten, Ranting Doro dan Ranting Rogoselo, dimana jarak antar pimpinan Ranting tersebut lumayan jauh. Dan lagi dia juga yang selalu mengetik surat dengan mesin tik inventaris cabang IRM yang sangat tidak bersahabat sekali. Sehingga karenanya organisasi bisa berjalan dengan baik bahkan program-program kerja unggulan dapat terlaksana dengan sukses.
Melihat keaktifannya tersebut aku sempat optimis kelak ia akan menjadi aktifis besar, makanya ketika menjelang Musda XVII ia kami minta untuk ikut berjuang di Pimpinan Daerah IRM. Dan tidak tanggung-tanggung oleh formatur ia ditempatkan di Bidang PIP. Sungguh bangga IRM Doro punya kader seperti dirinya. Aku sendiri jangan ditanya, jangankan punya bayangan masuk di Pimpinan Daerah yang harus ngurus remaja Muhammadiyah se Kabupaten Pekalongan, ngurus diri sendiri saja belum bisa, sudah pasti tidak akan bisa masuk PD IRM.
Saat dia aktif di Pimpinan Daerah itulah ia aktif juga di cabang, posisinya sebagai aekretaris umum periode Muscab VIII dan kebetulan saja yang menjadi ketua umumnya aku, sebetulnya aku sangat belum pantas menduduki amanah itu. Dan disinilah hampir setiap perang dan damai aku lewati bersama dirinya.
Berlanjut sampai Musda XVIII pun ia dipercaya menjadi tim formatur dan berkat sikapnya yang luar biasa akhirnya amanah Ketua Bidang ASB pun diserahkan kepadanya.
Anak ketiga dari lima bersaudara ini mempunyai sifat yang sangat sederhana, kesederhanaanya tampak dari tutur katanya, tingkah lakunya, cara berpakaian, cara makan dan semua hal yang ada dalam dirinya. Pernah suatu saat ketika kebetulan saja aku punya rejeki lebih karena baru saja aku terima beasiswa supersemar, aku tawarkan kepadanya kira-kira mau makan apa sebagai balas budi karena sudah tidak terhitung ia nraktir aku makan , dengan senyuman yang khas ia menjawab kalau ia ingin makan nasi megono saja. Padahal uang yang ada dalam dompetkupun cukup kalau mau digunakan makan di Lamongan atau warung sate. Tidak hanya itu dalam berpakaianpun ia tidak berlebihan, setiap kali acara formal ia tidak mengada-ada harus memakai pakaian yang wah, ia pakai yang ia punya, tidak seperti aku yang kadang masih pinjam atas nama penampilan. Sehingga dengan seperti itu ia terkesan polos, mungkin saja saking polosnya ia belum punya dosa sama sekali.
Remaja yang saat ini berusia 24 Tahun ini juga mempunyai sifat yang penyabar, tidak hanya ketika ia menjelma menjadi seorang bapak untuk 170 anak SD, namun dalam perjuangannya di IRM juga sama, pernah suatu saat sehari menjelang KSIP, sebuah program kerja unggulan di bidangnya, Sebetulnya sudah ada kesepakatan kalau hari itu seluruh panitia wajib berkumpul di Lapangan Sinangohprendeng untuk checking akhir lapangan dan gladi bersih, namun sudah berjam-jam ditunggunya ternyata belum ada lima orang yang datang padahal hari itu harus memasang spanduk, mangapling, membuat pagar dan membuat secretariat. Dengan sifat yang ramah dan penuh senyuman ia mulai pimpin teman-temannya untuk menyelesaikan itu tanpa ada rasa menggerutu sekatapun, bahkan sebagai ketua panitia ia rela mencopot bajunya, meminjam kapak dan memotong bamboo serta dibawanya sendiri ketengah lapangan. Luar biasa. Butuh proses untuk menjadi orang sepertinya.
Remaja yang memulai karirnya dengan menjadi buruh sablon di perantauan itu memang dari awal punya sifat pekerja keras dan pengertian. Pernah suatu saat semalam sebelum pelatihan jurnalistik IRM, waktu itu ia punya janji denganku untuk menyelesaikan backdrop bersama, namun aku ternyata harus tergeletak karena kehabisan tenaga selepas mendampingi PKD TM I Pekajangan dan Talun selama tiga hari. Ia selesaikan sendiri dan memintaku untuk istirahat saja karena ia berpikir bahwa besok aku harus fit karena harus sambutan. Pengertiannya inilah yang akhirnya menyalakan sumber energiku yang kemudian jam 11 malam setelah back drop jadi kita berdua segera ke Kajen.
Sifat baik lainnya masih banyak yang ada dalam dirinya yang sudah menyatu dalam kehidupannya. Didukung dengan kedalaman ilmunya dan kekreatifitasannya menjadikan siapa saja ingin bersahabat dengannya. Menjadikan siapa saja ingin menauladani kebaikan-kebaikannya. Termasuk aku yang menempatkan dirinya sebagai guru besar dalam kehidupanku. Satu kata yang selalu aku ingat darinya “Ora Pareng ndisiti kersa” ini aku tafsirkan bahwa yang namanya manusia itu harus berusaha agar ia mendapatkan yang dicita-citakannya, tidak hanya berkhayal karena yang namanya berkhayal itu berarti mendahului takdir, bukankah manusia diperintahkan Allah untuk berusaha mengubah dirinya dan kaumnya menjadi lebih baik (QS Ar Ro’du:11). Sekali lagi berusaha, bukan berkhayal. Konsep inilah yang kemudian perlu dikaitkan bahwa kita tidak boleh berputus asa karena disamping tidak menyelesaikan masalah, juga tidak ada satu ayatpun didalam al-Quran yang memerintahkan kita untuk putus asa. Oleh karena itu konsepnya sangat relevan dengan konsep “Berani Hidup bukan Berani Mati” yang biasa aku koar-koarkan.
Semoga saja bidadarinya yang masih jauh disana lekas menemuinya agar bisa lebih menyempurnakan lagi kebaikan-kebaikannya dan bisa mencipta Abdul Sukur- Abdul Sukur yang lebih banyak lagi.
Dia pasti berharap aku tidak akan menuliskan seperti ini, karena sifatnya yang rendah hati, namun aku bukan bermaksud membesarkannya, aku hanya membayangkan jika duniaku tanpanya pasti tidak akan bermakna.


Kamis, 29 Januari 2009 jam 23.00-24.00

Jumat, 22 Juli 2011

MAHFUDH FAUZI, KREATIF DAN PEDULI


Teman yang stu ini memang kreatif, segala bidang bisa ia jalani dan berhasil dengan baik. tak heran bila rumahnya dijadikan markas, tempat ngumpul kita-kita. tak jarang pula ketika ada penjual bakso lewat, kita ditraktir. apalagi pas dapet proyek besar.

GIGIH SETIANTO, BAIK HATI DAN TIDAK SOMBONG


Rasanya tak perlu diceritakan lagi, anda bisa baca sendiri di "ANAK ITU BERNAMA GIGIH"

YULIANTO, PENDENGAR YANG BAIK



Dia adalah pendengar yang baik, tak herah bila banyak cewek yang betah berlama-lama dengannya. tak jarang juga menjadi kekasihnya. padahal menurutku wajah biasa saja, hehehe.. sory. yah mungkin memang kita lebih butuh orang yang pintar mendengar ya, dari pada yang pintar bicara. nyatanya wakil kita pandai bicara tapi tak mau mendengar kita. bukankah begitu?

Senin, 01 Februari 2010

BOM DI MAM PEKAJANGAN

BOM DI MAM PEKAJANGAN
Sebuah nostalgi sepuluh tahun silam

Jauh sebelum ada bom di Legian Bali 12 Oktober 2002 silam, Hotel J.W. Mariot 5 Agustus 2003, bahkan baru baru ini hotel itu kembali jadi sasaran pemboman. MAM Pekajangan, sekolah yang dikelilingi pohon kelapa dan pohon mangga sudah lebih dulu jadi sasaran BOM.
Masih teringat jelas di benakku ketika aku memutuskan sekolah di MAM Pekajangan Jujur itu bukan pilihanku. melihat jarak yang cukup jauh, lagi pula aku tak begitu tertarik. Bukan karena bukan sekolah favorit, bahkan terlalu favorit Sebelum bermetamorfosis menjadi MAM Pekajangan, Madrasah Mualimien Muhammadiyah adalah sekolah yang sangat terkenal di berbagai penjuru. Entah mengapa bisa berubah menjadi Madrasah Aliyah. Mungkin karena tuntutan zaman. Apalagi di zaman seperti sekarang ini orang tak lagi memikirkan masalah pendidikan Agama, sehingga keberadaan Madrasah Aliyah termarjinalkan dari sekolah-sekolah umum. Ditambah dengan dukungan pemerintah secara besar-besaran tentang Sekolah Menengah Kejuruan, sehingga tumbuh kembang SMK laksana cendawan dimusim penghujuan. wah wah, sepertinya akan ada produksi buruh secara besar-besaran nih. Bukankah iming-iming dari SMK adalah lulus langsung kerja, benar-benar deh!
Tapi saya yakin kemunculan SMK-SMK Muhammadiyah di Kabupaten Pekalongan akan menjadi aset tumbuh kembangnya kader-kader muda Muhammadiyah yang siap menjawab tantangan zaman, tidak sekedar menjadi buruh di perusahaan asing, ketika habis kontrak kembali menjadi pengangguran. Saya yakin output dari Sekolah Muhammadiyah lebih unggul dari sekolah lain, meskipun tidak mesti ditulis diatas kertas sebagai tolak ukur lulus atau tidaknya seseorang. Nilai tetap saja nilai, hanya angka-angka di atas kertas saja.
Terlepas dari favorit atau underdog, mungkin ini memang jalan Tuhan. waktu itu tak pernah terpikir dibenakku untuk sekolah lagi, meskipun DANEM SMP ku tergolong tinggi. ya... semula aku ingin sekolah di SMA Negeri Doro saja. Saya berpikir untuk biaya harian saja, kalau sekolah dekat banyak keuntungannya. yah paling tidak bisa berangkat naik sepeda meskipun gak punya uang saku. Tapi ternyata keinginanku tak sejalan dengan pikiran bapak. Menurut bapak, dari pada sekolah di SMA Negeri lebih baik mondok saja. Wah, kalau ini justru sangat jauh lagi dari bayanganku semula. Rasa-rasanya masih ada trauma yang tinggal di benakku ketika masih di SMP 4 Kedungwuni (sekarang SMP 3) dihukum berdiri didepan kelas gara-gara tidak hafal 20 sifat wajib bagi Allah, padahal pada waktu saya di MIM Kutosari, sifat wajib bagi Allah ada 13. Gak kebayang deh kalau sampai mondok, harus berapa kali dapat hukuman?
Melihat teman-teman sibuk mendaftar kesana kemari, saya hanya diam diri di rumah. Menimbang harus mondok, madrasah, atau tidak sekolah sama sekali. Pernah terlintas untuk tidak sekolah saja. Terlebih ketika mendengar bahwa waktu pendaftaran telah usai. Semua sekolah sudah menutup pendaftaran, memang tahun itu waktu pendaftaran sangat singkat. Mungkin bersamaan dengan pelaksanaan pemilu 1999. tapi ternyata sekolah yang satu ini tak ada batas pendaftaran. bahkan setelah mendaftar saya langsung disuruh berangkat tanggal 17 Juli 1999 langsung memakai seragam SMA.
Hari pertama masuk sekolah, kami sempat kebingungan, pasalnya dimana-mana anak yang baru masuk sekolah masih memakai seragam biru putih, sementara kami langsung mengenakan seragam SMA seperti pada umumnya. Sekolah tanpa pagar bumi telah menanti, ya benar-benar tanpa pagar bumi maupun gerbang sekolah. Hanya pohon mangga dan pohon kelapa yang berdiri megah mengelilingi sekolah itu, menyiratkan sebuah keluasan. Luas fikir, luas amal dan luas segalanya. Nyatanya aku bisa leluasa sekolah disitu.
Tahun pertama aku jalani dengan semangat yang membara. Entah karena masih terbawa nostalgi masa lalu atau iklim belajar yang berbeda. Sungguh luar biasa, sekolah ini masuk lebih awal dari sekolah lain yang umumnya masuk jam 7 pagi. MAM Pekajangan masuk pada pukul 06.45 dengan alokasi waktu 15 menit untuk tadarus Al-Qur’an, mungkin karena inilah siswa-siswi di MAM Pekajangan hampir tidak ada yang nakal. Saya benar-benar merasakan hal yang berbeda di sekolah ini. Meskipun,...yang namanya remaja tetap saja ada keusilannya.
Pernah sekali waktu pada saat pelajaran matematika, kebetulan gurunya galak banget, kata temen-temen sih.... tapi bagiku tidak, beliau termasuk salah satu guru favoritku. Sebut saja bu DK, nama aslinya sih Dewi Kartika. Bu DK juga guru SMA 3 Pekalongan pada saat itu. Yah....tadarus yang biasanya hanya 15 menit, dibuat sampai setengah jam membaca surat Yasiin.
Pada jam olah raga, pak Tri Martono yang mengajar. Kebetulan musim hujan, olah raga sepak bola di lapangan becek. Wal hasil, setelah itu semua anak laki-laki mbolos. Tapi kembali lagi ke sekolah pada jam ke-7 setelah semua pakaian kering. Atas kejadian itu, tidak ada lagi pelajaran olah raga untuk kami sampai kami kelas III, sebagai gantinya, setiap hari Rabu pulang lebih awal.
Pak Sunaryo Slamet, guru Fisika dan Kimia juga tidak lepas dari keusilan siswa, beliau lebih suka memandang ke bawah ketika mengajar sehingga sering di usili murid-muridnya. Padahal menurut saya itulah bentuk dari gadhul bashar beliau kali ya, mengingat beliau masih lajang, takut kecanthol muridnya kaleee...
Bu Nur Tavifah guru bahasa Indonesia kami, juga guru bahasa Indonesia di SMA Muhammadiyah 2 Pekalongan ketika mengajarpun tidak begitu diperhatikan oleh siswa lain. Tapi bagiku asik kok mendengarkan bu guru berbicara bahasa Indonesia berlogat Tegal.
Pak Shodiqien Syafi’ie guru Sosiologi dan biologi agaknya guru yang paling disukai murid-muridnya, dengan metode pembelajaran yang berbeda membuat siswa asik dalam belajar Sosiologi. Adapun pada saat pelajaran Biologi, saya merasa lebih senang lagi karena mendapat dispensasi tidak mencatat materi pelajaran, ya karena aku diberi tugas khusus menggambar anatomi hewan atau penampang tumbuhan untuk tugas kuliah beliau.
Pak Sumarto Maksum, kepala sekolah sekaligus guru Aqidah Akhlak adalah guru yang sangat sabar,...beliau hampir tidak pernah marah. Tidak sabar bagaimana coba, naik motor saja bisa disalip dengan sepeda. Hehehe...
Pak Syukron Madani, guru besar kami... haha ya memang guru besar karena beliau guru yang bertubuh paling besar di MAM Pekajangan. Beliau guru Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an menjadi sangat menyenangkan, karena disela-sela mengajar pasti ada sisipan cerita-cerita lucu yang membuat pikiran fresh.
Bu Roichun, guru fiqih kami, meski beliau perempuan umurnya juga sudah tua, tetapi semangatnya tetap muda. Pernah beliau bersepeda dari Batang ke Pekajangan untuk mengajar kami. Beliau sempat kebingungan ketika mengintrogasi 3 siswa yang ketahuan mbolos. Satu orang menjawab pergi ke acara ulang tahun temannya bernama Siska. Siswa yang kedua menjawab pergi kerumah Donna, dan siswa ketiga mengatakan pergi ke rumah Mea. Sebetulnya pergi kemana sih.....? dijawab aja sekenanya pergi ke rumah Amelia Donna Siska.
Pak Sulaiman Achmad, guru Antrophologi. Paling suka meninggalkan tugas catatan kepada para muridnya. Kemudian diteliti satu persatu di depan kelas. Kalau kebetulan menjumpai draft surat cinta di dalamnya, tidak sungkan-sungkan dibacanya sehingga si empunya merah padam.
Pak Kismun, guru sejarah kami. Mungkin kalau disamakan dengan tokoh wayang beliau adalah Bilung atau Togog, tokoh wayang yang ngemong Bala Kurawa. Lagian, pak Kismun sering menyebut kami Bala Kurawa mungkin karena saking usilnya kali ya!
Pak Tajuddin Arghubi, guru bahasa Arab biasa di panggil pak TA. Tapi sepulang dari Makkah al-Mukarromah beliau menyebut dirinya TAM yang artinya sempurna. Dulu pertama kali diajar pak TA setiap siswa disuruh perkenalan dengan bahasa Arab. Ada teman yang dari MTs Wali Songo ketika menyebut sekolahnya semua di bahasa Arabkan menjadi almadrosatul mutawasithoh al islamiyah waliyun tis’ah kontan saja menjadi bahan tertawaan teman-teman.
Pak Anwar, guru Ekonomi dan Akuntansi merangkap di SMUHA, pernah membuatku menangis, ketika aku ditanya apakah sudah melihat hasil rapor cawu itu, aku jawab saja sejujurnya belum bisa melihat hasil rapor karena masih nunggak infaq bulanan selama 4 bulan. Kata beliau aku mendapat nilai Akuntansi tertinggi.
Satu cerita yang tak terlupakan, tepatnya tanggal 24 April 2001. Saat itu pelajaran Bahasa Inggris, bu Eva Farida yang mengajar. Kata teman-teman sih beliau mirip Dina Lorenza. Ada ciri khas dari bu Eva ketika mengajar. Yaitu tidak pernah tidak mengucapkan kata ”yah”... dalam dua jam pelajaran mungkin 50an kata yah yang keluar bahkan saya dan teman sebangku sering kali iseng menghitungnya....hehehe.
Ketika semua sedang berkonsentrasi, tidak tahu konsentrasi dalam hal apa, bisa memperhatikan pelajarannya, atau yang mengajar, atau malah menghitung kata yah tadi... tiba-tiba dikejutkan oleh suara yang lumayan keras....titititit berkali-kali (awas loh membacanya jangan dipenggal-penggal) yah hampir semua siswa berhamburan keluar kalau saja bungkusan yang ada di laci meja salah satu siswi tidak buru-buru dibawa keluar. Yah...kotak itulah yang semula dianggap sebagai bom, ternyata kado yang berisi jam wekker yang alarmnya masih aktif. Wah...dibongkar lagi deh kadonya, jadi gak surpraise dong. Huffff... untung saja bukan bom beneran ya!
Yah,....(loh kok malah ikut-ikutan bu Eva nih) meski tidak sedikit siswa yang usil, alhamdulillah mereka semua jadi orang. Meskipun MAM Pekajangan di cap sebagai sekolah buangan karena hampir tiap tahun pasti ada anak-anak nakal atau drop out dari sekolah lain yang ternyata masih bisa diterima di situ, tapi saya mengatakan MAM adalah sekolah yang paling peduli. Yah hanya MAM Pekajanganlah yang berani mengambil resiko itu, kalau anak yang drop out tidak diterima lagi di sekolah, akan jadi apa mereka coba?. Tapi nyatanya anak-anak pindahan dari sekolah lain justru merasakan betah sekolah di situ. Yah karena para guru di MAM Pekajangan tidak hanya mengajar dengan akal mereka, tetapi dengan hati mereka juga, dengan keikhlasan mereka, dengan ketulusan mereka, do’a-do’a yang tulus dari mereka, sehingga kami para muridnya yang bisa dikatakan durhaka selama menjadi murid bisa menjadi seperti ini.
Terima kasih Ayahanda/Ibunda guru MAM Pekajangan tahun 1999 s.d 2002. bu Nur Hajaroh guru bahasa Indonesia,Ekonomi, Akuntansi ku di kelas I. Pak Dawari, Guru Matematikaku saat kelas I yang rajin sholat dhuha, aku yakin dalam do’a mu kau pintakan supaya kami menjadi anak-anak yang pintar. Pak Budi, sebagai pengganti pak Sunaryo untuk sementara pada saat beliau melanjutkan studi. Pak Irfan Guru SKI pada saat kelas III. Pak Sumairi Sundrus guru Tata Negara yang disiplinnya melebihi tentara Belanda. Mohon berjuta maaf bila kelakuan kami sempat menoreh luka di hati, meski saya yakin pendendam bukan sifat engkau. Maafkan kami ayahanda dan ibunda guru. Mohon maaf bila ada bapak/ibu guru yang belum saya sebut.
Terima kasih Ayahanda/Ibunda guru MAM Pekajangan tahun 1999 s.d 2002. Baktimu terus ku kenang, ijinkan aku meneruskan cita-citamu, mencerdaskan kehidupan bangsa. Restui aku agar istiqomah di jalan ini, ajari aku menjadi orang sepertimu yang senantiasa tulus, ikhlas, dan sabar dalam menghadapi murid seperti kami pada saat itu.
31 Januari 2010,23:16 tidak terasa sudah 8 tahun ternyata.

Sabtu, 23 Januari 2010

MALAM PERTAMA

MALAM PERTAMA

Setahun sudah aku menunggunya. Lamaran tahun lalu belum sepenuhnya diterima. Saya bilang belum diterima karena memang tidak ada kata penolakan. Jadi selama setahun itu saya merasa sedang melewati sebuah titian yang tak berujung, menanti kepastian yang tak kunjung datang.
Sebetulnya aku tidak terlalu percaya diri untuk melamarnya. Apa sih yang diharapkan dari seorang pengangguran seperti saya. Yang meninggalkan amanah karena tuntutan kerja. Ya aku meninggalkan organisasi yang aku tekuni dari kelas 2 SMP. Waktu kelas 3 SMA aku terpilih sebagai ketua. Periodeku 2 tahun lamanya, tapi selepas lulus aku merantau ke Jakarta.
Di mana-mana orang yang tidak bekerja seperti tak ada nilainya. Bersyukurlah bagi siapapun yang sudah bekerja, sesusah apapun, sekecil apapun bayarannya, setidaknya masih lebih baik dari seorang tuna karya. Maka, meski tanpa pengalaman aku mengadu nasib ke Ibu Kota. Biarlah jadi tukang cuci piring, dari pada tukang cuci uang. Aku bayangkan hari-hari yang menyenangkan di sebuah restoran. Tapi bayangan tetap saja bayangan, tetap hitam tanpa wujud yang nyata. Di sanapun tetap saja menganggur. Bukan karena restorannya tidak rame, tapi lebih parah lagi. Restoran yang dijanjikan tidak benar- benar ada. Percuma kalau putus asa, apa saja kulakukan untuk bertahan hidup disana. Sudah 3 hari belum dapat kerja sementara saku dari rumah kian menipis. Singkatnya, aku dapat kerja di konveksi milik orang cina pada hari ke-4, tapi pagi harinya langsung dipecat. Semena-mena, menjadi raja di negara saya. Memangnya punya hak apa dia di Indonesia? Tapi ya sudahlah, saya malah bersyukur bias lepas dari sana. Buat apa di terus-teruskan kalau malah membuat sengsara, sehari saja tidak bisa apa-apa selain membersihkan benang dan melipat kaos lalu memasukkannya kedalam bungkus. Masih untung sehari semalam dibayar sepuluh ribu rupiah.
Hari berikutnya aku terdampar dalam dunia warna-warni, duniaku dulu. Memang tempatnya tidak terlalu bersih, tapi bagiku permasalahannya bukan pada tempat tapi suasana. Dinding yang penuh cat, gambar, tulisan, membuatku memutuskan untuk tinggal di situ. Ya di sebuah sablon kain. Tempat produksi kaos bermerk dan daster ekspor ke timur tengah. Dilihat dari ukurannya saja sudah kentara, bila dibentangkan setinggi saya 163 cm ditambah bentangan tanganku ke atas, yah hamper dua meteran. Tapi toh bayaranya tak seberapa. Per hari cuma dua belas ribu rupiah. Bisa di bayangkan nilai uang segitu di ibu kota. Maka demi menekan pengeluaran tiap hari makan 2 kali. Pagi dan malam hari. Sementara siangnya cukup sepotong roti. Tapi aku merasa senang, meskipun tiap malam mesti dilangkahi werog (tikus besar:sebesar kelinci kaleee). Warna-warni yang membuatku betah disitu. Meskipun sama-sama bekerja pada orang cina, tapi koh asiong lebih perhatian dibanding bos konfeksi yang dulu. Bekerja disini aku jadi lebih berotot, kalau produksi kaos mesti angkat-angkat triplek tiap hari. Kalau yang diproduksi daster, mesti loncat-loncat naik ke atas meja untuk jemur dasternya, yah jadi mirip-mirip tobey meguire gitu deh.. itu loh pemeran spiderman wkwkkkkkk :-D . Tapi saying….kerja disana hanya berlangsung lima bulan. Selepas pasar tanah abang kebakaran kami dipulangkan.
Di rumah kembali seperti dulu lagi. Nganggur, atau paling-paling ke sawah, sekedar panen kacang, ketimun, atau menyemprot tanaman itu. Kegiatan rutin yang harus ku jalani tiap harinya tanpa mendapat sepeserpun dari hasil panen. Tapi aku masih bias mencukupi kebutuhanku kalau ada pesanan dekorasi. Hasilnya pun bias kunikmati berhari-hari, bahkan untuk menambah modal hingga sedikit demi sedikit usaha dekorasiku semakin berkembang. Kesibukan masih terbagi antara sawah dan dekorasi. Sampai-sampai aku lupa pada lamaran tahun lalu.
Ya hari ini lamaranku dipertanyakan lagi. Masihkah aku punya niat untuk melamarnya? Aku mulai bimbang, jangan-jangan seperti tahun kemarin, tak ada keputusan, menggantung selama setahun. Haruskah aku melamarnya lagi? dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya kembali mengajukan lamaran, hasilnya……..DITERIMA.
Pada malam pertama lamaran saya diterima, kembali saya berpikir apakah saya sudah siap dipanggil bapak oleh anak-anakku nanti? Bukan anak dari istri, tapi dari orang tua wali. Ya karena saya melamar sebagai guru di SD Muhammadiyah Wonosari.

Lebih banyak cerita di jendelakamarkita.blogspot.com

Kamis, 25 Juni 2009

ANAK ITU BERNAMA GIGIH

ANAK ITU BERNAMA GIGIH
Oleh: Abdul Sukur (www.jendelakamarkita.blogspot.com)

Apa yang kita lihat terlebih dahulu dalam mengenali seseorang? Tentu saja wajah. Tapi bagi saya tidak, karena saya termasuk anak yang pemalu, lebih parahnya minderlah, sehingga lebih sering melihat ke bawah dari pada ke atas. Hal itulah yang membuat saya berbeda dengan yang lain, yaitu cara mengenali seseorang tidak seperti teman-teman pada umumnya, saya lebih mudah mengenalinya melalui sepatu. Saya sampai hafal sepatu teman-teman saya semasa di SMP Negeri 4 Kedungwuni, yang sekarang berubah menjadi SMP N 3 Kedungwuni. Dari situ saya mengambil kesimpulan sendiri bahwa anak yang memakai sepatu merk Speed warna hitam adalah anak yang cerdas. Katakanlah teman SMP saya, kakak kelas saya Agus Setiawan pake sepatu itu, dia anak cerdas. Lantas teman sekelas saya Ristiningsih juga memakai sepatu itu, dia juga juara kelas. Memang sih itu kesimpulan ngawur yang tanpa dasar. Tapi tetap saja melekat sampai SMA. Selama SMA ku habiskan waktu di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Pekajangan, itu pun cara mengenal seseorang juga masih lewat sepatu. Hehe…kayak gak ada kerjaan aja ngamatin sepatu.
Meskipun sudah SMA tetap saja tubuh saya tidak seperti pada umumnya. Yah, masih panteslah bergaul sama anak kelas enem SD. Bahkan saat Fortasi (Forum Ta’aruf dan Orientasi, kalo di sekolah negeri namanya Masa Orientasi Siswa pada waktu itu) saya termasuk siswa termuda, terkecil, dan terimut.
Kembali kemasalah sepatu,...
Satu ketika pulang sekolah, dalam angkutan desa (kol guwo, dulu belum pake mikrolet untuk trayek Kedungwuni - Doro) tepat di depanku duduk seorang anak pake sepatu Speed warna hitam. Saya langsung menyimpulkan bahwa anak tersebut adalah anak yang cerdas, yang selalu juara kelas. Ketika kuluruskan pandang, tertangkap oleh mata sosok tubuh tegap, gagah, atletis, termasuk besar untuk ukuran anak SMP bahkan bisa dikatakan lebih besar dia dibandingkan dengan saya pada saat itu. Saya sempat berpikir negatif tentangnya, “Anak SMP kok dah segede ini. Pasti masuk TKnya telat, anaknya manja, sehingga sering tidak naik kelas semasa SD. Tapi dia pakai sepatu Speed warna hitam berarti dia anak cerdas”. Kulihat lagi dengan teliti, baru ku ketahui anak itu bernama GIGIH, GIGIH SETIANTO lengkapnya, itu yang aku tangkap dari papan nama di bajunya. Saya pikir orang tuanya salah ngasih nama mungkin. Mestinya dikasih nama GAGAH saja, mungkin itu lebih tepat. Lagian gak kelihatan gigihnya, orang pendiam gitu. Masih ingat pelajaran Bahasa Indonesia kan? Peribahasa “air tenang menghanyutkan” ya itulah Gigih. Dia siswa SMP N 1 Kedungwuni, Termasuk SMP favoritlah.
Next………..
Kisah ini dimulai dari debut kepemimpinan di Ikatan Remaja Muhammadiyah, aku mulai mengenalnya lebih dekat saat kegiatan IRM. Katakanlah saat kegiatan Gema Romadlon di Rogoselo, saat itu dia sebagai Sekretaris PR IRM Wonosari dan saya Ketua IRM Ranting Kutosari. Berlanjut Musyawarah Cabang, Dia sebagai Sekretaris dan saya sebagai Sekbid KPSDM. Ternyata kepemimpinan pasca Muscab ke-7 bisa dikatakan berhenti total. Sehingga setahun kemudian diadakan Konpiran dan dia sebagai Ketua Umumnya menggantikan Irmawan Wiryo Pranoto yang study di luar kota. Atas inisiatif bersama, untuk membangkitkan ghiroh berorganisasi maka diadakanlah kegiatan tadabbur alam ke perkebunan the Pagilaran. Diluar dugaan, peserta membludak hingga 100% dari yang di targetkan. Dengan modal semangat dan beberapa rupiah sisa kegiatan tadabbur alam, mulailah diadakan Musyawarah Cabang Bersama, yah Muscab Istimewa, karena selain IRM, arena Muscab itu juga milik Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah. Hasil Muscab ke-8 tersebut, terpilihlah Gigih Setianto sebagai Ketua dengan suara terbanyak 39 dari 50 pemilih.
Proses Muscab ke-8 membuat persahabatan ini semakin erat, bagaimana tidak. Laporan pertanggungjawaban hanya dibuat oleh 2 orang, saya dan Gigih. Mungkin atas dasar itulah aku dipilih sebagai Sekretaris. Masa-masa indah di Pimpinan Cabang IPM Doro. Rapat pimpinan rutin tiap bulan. Biasanya malam kamis, minggu kedua atau kalau tidak tiap tanggal 17. Seperti biasa dengan menu rapat sego megono mbak Ida. Saya berani menjamin bahwa kepemimpinan Gigih Setianto adalah sample Ikatan Remaja Muhammadiyah yang Ideal, semua Bidang berjalan sesuai lahan garapnya masing-masing, namun ketika ada event besar toh bisa saling membantu antar bidang. Pada kepemimpinan Irmawan Gigih bisa jadi IRM dengan struktur terlengkap satu satunya di Indonesia : mungkin. Tiap Bidang punya Lembaga, taruhlah bidang Kaderisasi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (KPSDM) yang dikepalai Irmawan Tohirin ( Sekarang Perangkat Desa Kutosari), punya lembaga Laboratorium Mental yang mengkaji permasalahan intern organisasi maupun personal anggota sekaligus sebagai mediator problem solving. Bidang Studi Dakwah Islam yang dikepalai oleh Andi Rusfianto (Alumni Ponpes Gontor, Almarhum), punya Sekolah Sosial yang dinamai dengan Social Relegius Institute (SRI) dengan dosen-dosen Bapak-bapak Muhammadiyah Cabang Doro. Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) yang dikepalai oleh Fahmi Abdurrozaq (owner Schoolmart) punya lembaga penerbitan bulletin bulanan IRMAGAZINE dan kelompok studi Bahasa Inggris IRMeC (Ikatan Remaja Muhammadiyah English Club) . Bidang Apresiasi Seni dan Budaya dikepalai oleh Andi Musta’in (sekarang caleg salah satu partai) mempunyai kelompok Pecinta Alam yang diberi nama IRMAPALA yang dideklarasikan di Puncak Gunung Condong pada 2 Oktober 2005 oleh Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Remaja Muhammadiyah Doro , Gigih Setianto. Disamping itu juga mempunyai 3 lembaga Istimewa: 1. Lembaga Kewirausahaan yang di ketuai oleh Sobirin ( Sekarang Pengusaha percetakan “Paradise”). Lembaga ini mempunyai Rumah Usaha “SMART” (Surya Manunggal ART) yang beralamat di Jl. Raya Simpang Tiga Kutosari (Sekarang Depo isi Ulang "AMS" milik PCM). 2. Lembaga Kepanduan diketuai oleh Mahfudh Fauzi ( Sekarang Guru SMK Muhammadiyah Doro). 3. Lembaga Jaringan Eksternal, di ketuai oleh Saiful Muttaqin (aktifis Pemuda Muhammadiyah yang lebih aktif di IRM, sekarang damai di surga). 4. Korps Irmawati yang diketuai oleh Nur Hidayah (sekarang Kepala MI Muhammadiyah Kutosari).
Kepemimpinan di PC IPM Doro mengalami transisi juga ketika 4 personilnya masuk Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah Kab. Pekalongan. Mahfudh Fauzi sebagai anggota Bidang HA, Andi Rusfianto sebagai anggota BUMI, Abdul Sukur (saya sendiri…) sebagai Ketua Bidang Apresiasi Seni dan Budaya, dan tentunya Gigih Setianto sebagai Ketua Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah Kab. Pekalongan. Tidak diragukan lagi kegigihannya dalam memimpin Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah Kab. Pekalongan bersama sekretaris PD IRM Kab. Pekalongan, Kharisma Tiarawati, dan teman-teman yang lain sehingga PD IRM Kab. Pekalongan berhasil menyabet beberapa prestasi membanggakan untuk tataran Jawa Tengah, bahkan Ketua Umum Pimpinan Pusat IPM, Moh. Mudzakkir, mengucapkan kesalutannya kepada PD IRM Kab. Pekalongan. Persis Sama gigihnya ketika dia berperang melawan jalanan untuk menimba ilmu di perguruan tinggi. Dia rela menempuh jarak 22 km tiap harinya untuk kuliah di STAIN Pekalongan, jarak yang cukup jauh untuk ukuran sepeda federal yang digenjot tiap harinya baik panas maupun hujan, sehat atau sakit. Dia amat setia pada sepeda federalnya itu, sampai-sampai ia tidak pernah naik angkot atau bonceng teman.
Selain setia pada sepeda federalnya, dia juga sangat setia kawan. Pernah satu ketika, saat persiapan kegiatan Pengkaderan Khusus Kemuhammadiyahan saya, Gigih dan Abdillah yang membagi undangan. Karena hanya 3 orang dan dua kendaraan, maka jalur selatan - barat saya yang pegang dan jalur utara- timur Abdillah dan Gigih yang pegang. Saya pulang lebih awal karena hanya dua surat saja yang saya antarkan, PC IRM Wonopringgo dan PC IRM Karanganyar, tapi tidak langsung pulang, melainkan mampir dulu dirumah Mahfudh Fauzi. Ternyata sampai disitu ban motor saya bocor, lantas saya sms dia, “bos ban e bocor kye !”, tak ada balasan saya pikir juga masih sibuk. Eh ternyata mencari saya dulu. Padahal bocornya kan nggak di jalan. Yah paling tidak itu bisa dijadikan contoh. Yang lain tentunya lebih banyak lagi.
Dari kecil dia memang cerdas. Kecerdasan itu tidak didapatnya dengan mudah. Ia cerdas karena rajin membaca. Bahkan Gigih Setianto yang ketua OSIS di SMPnya sekaligus juara kelas sempat hafal buku paket karena seringnya dibaca. Disamping itu, Bu Ukhrowiyah, guru Agama semasa SD (di SD Muhammadiyah Wonosari) mengatakan hal yang sama, bahwa Gigih adalah anak yang cerdas. Tak terkecuali Pak Jarkasi yang pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Wonosari, juga mengatakan hal itu. Kecerdasannya tidak hanya di SD, atau SMP saja, bahkan ia termasuk lulusan terbaik SMK N 3 Pekalongan (STM JOETEX) tahun 2005. Di STAIN pun demikian, nilainya selalu cumlaude meskipun disibukkan dengan organisasi tingkat Kabupaten.
Yah, dialah Gigih Setianto yang lahir pada hari Ahad, 26 Juli 1987, anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak M. Kuswani dan Ibu Nur Khayah. Semua hari yang ada memang baik, tapi ada keistimewaan tersendiri bagi orang yang lahir hari ahad. Dalam bahasa Inggris, Ahad disebut Sunday, atau kalau dikembalikan lagi kedalam bahasa Indonesia berarti hari matahari, maka tak heran Gigih Setianto mempunyai sifat-sifat matahari, menerangi dunia tanpa pilih bagian bumi mana yang harus disinari, pekerja keras, santun, berwibawa, setia, cerdas dan kebaikan-kebaikan lain yang belum sempat kuketahui. Ya…anak itu bernama Gigih. Nantikan episode ke-2 dengan cerita yang lebih canggih. Nyuwun pamit nggih, sanes wekdal mugi kepanggih.
Alas Kembang, 1 Rajab 1430 H @ 03:12 a.m.
tulisan ini telah diedit pada 5 Oktober 2023 12.09

PAK HAJI

Saya tidak pernah tahu nama beliau. Orang-orang di terminal hanya memanggilnya Pak Haji. Saya juga tidak ingat nomor angkot yang beliau kemu...