Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2015

SERIAL METHA : RATU KECANTIKAN

 

RATU KECANTIKAN

            Hobi Metha makin aneh aja, sebenernya sih nggak aneh-aneh banget, berhubung hal itu tidak umum bagi Metha, jadi anggap aja aneh. Seperti biasa Metha mengagumi bulan purnama. Nah malam inikan malam purnama tentu saja Metha siap menyaksikan idolanya sembari meluk guling bermotif smurf, tak lupa radio mininya.
Layalnya anak TK yang mengagumi pelangi, Metha pun kagum bulan, ia terus mencari falsafah tentang bulan.

Rembulan

Riak ombakpun tunduk padamu
Memberimu kesempatan bercermin dilautnya
Ikan menari menyambut sinarmu….

            “Duh..yang lagi kesengsem sama rembulan, berpuisi ria niye…”
“Mbak ganggu aja, cepet pergi ah!”
“Ye.. ngusir ni. Yang namanya ratu kecantikan tuh gak seenak yang kamu bayangkan, nggak cukup punya wajah cantik, pinter wajib!”
“Kurang cantik gimana nih, body juga oke, tapi…”
“Nah lo, kamu tuh belum cukup pinter”
“Emangnya kudu pinter ya?”
“Harus, nggak pernah lihat Miss Universe atau Putri Indonesia?”
“Kalau itu sih aku biasa nonton, paling-paling pertanyaannya itu-itu aaja”
“Oke deh, mbak percaya kok kalo kamu bias, tapi Metha tau nggak kalo dalam kontes semacam itu salah satu seleksinya pakai pakaian renang, difoto juga, hasil yang bagus dipampang di majalah dewasa”
“Uh, nyebelin. Kapan sih mbak mau dukung Metha, ngiri ya gak punya wajah secantik Metha”
“Bukannya ngiri Metha, mbak berusaha menjaga kamu”
“Bodo amat, sama aja lagi…”
Metha marah, nangis, pintu kamarnya ditutup dengan keras. Gantungan pintu dari kayu yang semula diam, bergoyang hebat. Mery kaget, bingung, harus dengan cara apa lagi menasehati Metha.

*

“Metha sayang, keluar dong, mbak kasih kejutan nih”
“Bodo….!”
“Iya deh, mbak salah, tapi marahnya kok sama pintu, sampai dibanting segala, kan kasihan”
“Kasihan apanya, emang pintu punya nyawa, mo gue banting, gue bakar, bukan urusan lo” huufff gitu deh kalo Metha lagi marah
“Meth…” panggil Mery selembut mungkin
“Apa… Mat met mat met! Emangnya gue komet?” Dasar anak guru IPA, marahpun bawa-bawa benda langit.
“Iya, komet hely, helicopter, muter-muter, nabrak gunung, pilotnya mampus!” jawab Mery sekenanya.
Sementara Metha gak habis piker kok Mbak mery bias ngomong kaya gitu ya. Pengenya sih ketawa, tapi malu, masa habis nangis ketawa, ntar malah diledekin sama mbak Mery lagi. Ah jadi inget waktu kecil, kalo nangis dihibur, kalo udah ketawa diledekin, kamis selasa habis nangis ketawa, kalo udah gitu biasanya Metha nangis lagi, tambah kenceng. Hmmmm masa kecil yang indah.

*
 
“Meth, udah dong diem, mumpung Agus belum pulang”
“Tenang aja mbak, belum saatnya mereka pulang. Kalaupun udah pulang, paling-paling sutradaranya gak ngijinin masuk, tokoh utamanya kan aku”
“Apa-apaan sih, bawa-bawa nama sutradara segala, emang syuting sinetron?”
“Udah deh, mbak aja yang diem, lagian mbak kan Cuma figuran”
“??????”
*

“Cihui…mbak Mery dah pergi, mendingan kencan sama bulan di atas genteng kali ya, pasti gak ada yang gangguin”
Kok bisa-bisanya ya metha naik ke atap, emangnya gak takut jatuh, dasar tuh anak udah lupa kali ya sama cita-citanya, katanya mo jadi ratu kecantikan.
Nggak disadari papa, mama serta satu makhluk yang paling nyebelin di keluarga pak Yudha yang tak lain adalah adik kandung Metha yang bernama Agus pulang dari pasar malam. Nama aslinya sih Satria Bagus Meteora, tuhkan namanya ngambil dari benda langit lagi, untung bukan Satria Bagus Yupiter, bias-bisa nyaingin SBY nanti.
“Dor…dor…dor…!”
“Angkat tangan” Agus menodongkan pistol-pistolan pada Mery
“Hhhhhh… ngagetin aja, Agus mo jadi polisi ya?”
“Gak mau, Agus maunya jadi teroris yang baik”
“Mana ada teroris baik”
“Kan Agus yang jadi terorisnya, nerornya orang-orang yang jahat”
“Contohnya orang yang jahat itu siapa?”
“Teroris”
“Berarti Agus jahat dong”
“Agus kan teroris yang baik”
“Kalo Agus baik kenapa mesti jadi teroris, jadi polisi aja ya?”
“Kalo polisi baik, kenapa ada yang jahat? Kalo jahat kenapa jadi polisi?”
“Ya udah deh terserah Agus mo jadi apa”
“Oya, Agus mo jadi spiderman aja, jadi gak butuh pistol lagi, gak butuh kendaraan, gak butuh rumah, gak butuh jalan, gak butuh premium, gak butuh….”
“Gak butuh makan, ntar Agus makanannya serangga aja ya, nggak usah pake jaring juga, rambut Agus dah persis jaring tuh”
“Enak aja, gini-gini mirip artis lo mbak?”
“Siapa?”
“Edi Brokoli, hehehe….”

*

“Mery,”
“Iya, Pa”
“Metha kemana?”
“Tuh di kamar lagi kencan”
“Hah….. Masya Allah”
“Maksud Mery, kencan ma bulan pa, tau tuh anak lagi kumat apa”
Memang Metha lagi kumat, sekarang gak tanggung-tanggung, gak hanya ngeliatin bulan dari jendela, tapi dari atap, kontan aja mama langsung histeris.

“Aduh, anak cantik mama, ntar kalo jatuh giman, nggak bias jadi model dong”.
Mama selalu saja begitu, berambisi banget anaknya jadi model, maklumlah tukang rias, mungkin cita-cita mama dulu yang gak kesampean jadi model karena keburu dilamar papa. Hmmm ketahuan juga kenapa mama ngotot ngasih nama Qomariyah di belakang Methana Okta meskipun gak match.
“Metha… ngapain kamu di atas malam-malam gini, cepetan turun, ntar malah dikira kuntilanak lagi” Ye…papa tega banget nyamain anaknya sama kuntilanak, ntar kalo dibilang jurig botak baru ngerasa dia.
“Bentar pa…”

*

Sesampainya di bawah, Metha teriak sejadi-jadinya
“Agus………!!!!!!!!” Agus bikin Metha kesel untuk kesekian kalinya. Pindy, boneka panda kesayangan Metha dicorat-coret pake spidol, tapi Agus malah tenang-tenang aja nggak ngerasa berdosa sedikitpun, maklum anak kelas 3 SD.
“Agus, kamu kan udah punya pistol-pistolan ngapain mainin boneka mbak metha” nasehat mama pada Agus.
“Ma Saras kan gak ada temennya, jadi boneka mbak metha tak bikin mirip kucing”
“Mirip apaan, masa panda disamain ma kucing” kekesalan Metha belum juga sirna, gimana tidak, itukan boneka kesayangannya waktu piknik ke Great Wall Cina.
“Meth, Kamu marah sama Agus karena boneka itu, kalo iya sama halnya kamu marah karena Agus bernafas. Belajarlah menerima sesuatu yang nggak mengenakkan dengan sikap filosofis*)”
“Filosofis? Maksudnya?” Tanya Metha
“Maksudnya…apa ya?” Mery bingung
“Dasar psikolog kacangan” ?????

***

Ramadhan 1424/Rewrite Ramadhan 1432


*) Dr. Paul Hauck

Minggu, 12 Juni 2011

SERIAL METHA : REMBULAN

REMBULAN

Malam ini bulan begitu bundar sempurna, sampai-sampai bintangpun dibuat tak bercahaya. Metha masih merenung di teras, sesekali bertanya pada diri sendiri. “sebenarnya yang membuat bintang terang itu kegelapan atau bintang itu sendiri?”
Metha sadar bahwa selama ini Metha salah karena menganggap dirinya paling cantik, karena selama itu pula metha bergaul sama cewek-cewek yang dibawah rata-rata.
Methana Okta Qomariyah, nama itu diambil dari susunan kimia. Kata papanya yang guru IPA sih methane artinya satu, okta artinya delapan dan qomariyah artinya bulan. Kira-kira artinya sih metha lahir tanggal satu bulan satu setelah ngendon di rahim ibu selama 8 bulan. Memang Metha lahir 1 bulan 14 hari lebih awal dari waktu yang diperkirakan oleh dokter. Namanya juga manusia, jadi wajar saja hitungannya meleset. Mungkin karena itu juga metha menjadi anak yang sangat manja, karena kurang puas di rahim ibu.
Sekarang Metha sudah kelas 1 SMA, teman-temannya banyak yang cantik, bahkan lebih cantik dari Metha. Hal itulah yang membuat Metha banyak merenung sekarang atau mungkin juga kedewasaan metha mulai terasah. Metha telah terbiasa menerima pujian sewaktu SMP karena kencantikannya. Maklum ibunya ahli tata rias. Otomatis kondisi tersebut membuat metha jatuh pede.
“Meth….Hidup tuh harus punya tujuan dan kekecewaan. Tujuan akan menuntun hidupmu, dan kekecewaan anggap saja sebagai batu sandungan atau duri merintang di jalanan. Hidup tanpa kekecewaan jelas tidak mungkin, tapi sedapat mungkin kita bisa mengurangi kekecewaan itu”.
“Metha.. kebahagiaan itu bukan fakta, tapi kehendak. Kebahagiaan itu kamu sendiri yang bikin, bukan orang lain, mungkin kamu berfikir punya wajah cantik adalah sumber kebahagiaan mu, tapi kamu mesti sadar bahwa kecantikan itu tak akan abadi”.
“aku ingin seperti bulan…!”
“kenapa?”
“lihatlah,…cahaya bulan bisa mengalahkan bintang”
“lalu?”
“aku ingin jadi ratu kecantikan”
“aduh Metha, kamu tuh kayak anak kecil aja, sekarang tuh bulan udah nggak indah, eh bukannya bulan yang nggak indah ding, tapi semenjak Neil Armstrong berpijak di bulan yang kemudian dengar suara adzan, itu loh seperti di lagu Nasyidaria jaman simbah kita dulu. Dibuktikan bahwa bulan tuh gersang, bergunung-gunung, emang mau dibilang cantik bagai bulan? “
“ih mbak bukan nya ndukung malah jelek-jelekin, mbak aja yang kurang terasah falsafah”
“maksud kamu?”
“soalnya sekarangkan lagi marak-maraknya orang ngomongin inner beauty, nah bulan itu punya inner beauty..!”
“seperti apa coba?”
‘bulan mampu menerangi bumi tanpa harus menyertakan panasnya. Coba kalau bulan sepanas matahari. Menyiksa bangetkan?”
“iya…iya…terus?”
“terus bulan itu gak sombong, dia gak pamer kecantikannya tiap malam, tahukan purnama gak setiap hari”
“cocok…!”
“Metha…”
“apanya?”
“pendapat Metha kan?”
“yeee pede. Maksud aku bulan tuh kayak kamu, bukannya nggak sombong tapi krisis pede”
“kok bisa?”
Yaeya lah, coba kalo bulannya pede, pasti nongol tiap malam. Tapi serkarang bulannya udah nggak pede lagi, yang biasanya keluar malam, eh sekarang malah bengong.” Kata Mery dengan nada sedikit nyindir karena Metha tuh sering keluar malem, ijinnya sih ngaji atau belajar bersama, taunya mejeng.

Serial Metha;2003

Empowering & Leadership

  “Bila ada bursa jual beli organ tubuh manusia, yang paling mahal adalah otak, jarang dipakai sih. Sementara, yang paling murah adala...