Jumat, 07 Agustus 2026

PAK HAJI



Saya tidak pernah tahu nama beliau. Orang-orang di terminal hanya memanggilnya Pak Haji.

Saya juga tidak ingat nomor angkot yang beliau kemudikan. Warna angkotnya pun sudah memudar dari ingatan. Wajahnya juga demikian. Yang masih tersisa hingga hari ini hanyalah satu percakapan singkat pada pertengahan tahun 1999.

Saat itu saya dan sahabat saya, sebut saja Nadhif, baru lulus SMP. Sejak kecil kami hampir selalu bersama. Ketika belajar di Madrasah Ibtidaiyah, kami sekelas. Persaingan kami juga tidak pernah jauh-jauh dari angka satu dan dua. Waktu itu masih menggunakan sistem caturwulan, sehingga dalam setahun ada tiga kali pembagian rapor. Kalau saya mendapat peringkat pertama, ia peringkat kedua. Caturwulan berikutnya bisa berganti. Begitulah seterusnya.

Lulus dari MI, kami melanjutkan ke SMP yang sama. Hampir setiap hari saya menunggunya, lalu berangkat sekolah bersama. Setelah lulus SMP, kami kembali memilih sekolah yang sama, Madrasah Aliyah Mu'allimin. Kebersamaan itu seolah berlanjut begitu saja tanpa pernah direncanakan.

Suatu hari, setelah turun dari angkot di terminal, Pak Haji bertanya kepada kami.

"Sekolah di mana?"

"Mu'allimin," jawab saya.

Beliau langsung menatap saya sambil tersenyum.

"Wah... calon ustaz ini."

Lalu beliau menoleh kepada Nadhif.

"Kalau yang ini calon politikus."

Kami hanya tersenyum. Saya tidak terlalu memikirkan ucapan itu. Kami baru saja lulus SMP. Masa depan masih terlalu jauh untuk ditebak.

Waktu berjalan sebagaimana mestinya.

Saya memilih jalan menjadi guru. Dunia pendidikan menjadi tempat saya mengabdikan diri. Sementara Nadhif menekuni usaha kerupuk yang ia rintis sendiri. Kehidupan kami tetap berjalan, meski tidak lagi selalu berangkat bersama seperti dulu.

Suatu ketika, desa kami membuka seleksi perangkat desa.

Yang mengajak saya mendaftar justru Nadhif.

Belakangan saya tahu alasan utamanya cukup sederhana: mengurangi saingan.

Hahaha...

Mungkin ia menganggap status saya sebagai guru akan membuat calon lain berpikir dua kali. Padahal saya sendiri tidak pernah benar-benar berniat menjadi perangkat desa. Saya sudah merasa cukup dengan profesi yang saya jalani.

Ternyata dugaan itu memang ada benarnya. Mendengar saya ikut mendaftar, beberapa calon memilih mengundurkan diri. Hingga akhirnya hanya tersisa dua nama: saya dan Nadhif.

Menjelang pemilihan, giliran saya yang mengundurkan diri.

Akhirnya ia menjadi perangkat desa.

Kalau dipikir-pikir, ini bukan pertama kalinya jalan kami saling bersinggungan.

Dulu, ketika pemilihan Pimpinan Ranting Ikatan Remaja Muhammadiyah, ada tiga calon ketua. Salah satunya adalah Nadhif. Namun pada hari pemilihan ia tidak hadir. Namanya kemudian digantikan oleh saya.

Yang terjadi justru di luar dugaan.

Saya terpilih menjadi ketua.

Kadang saya berpikir, andaikan hari itu ia datang, mungkin cerita kami akan berbeda lagi.

Meski begitu, saya selalu merasa bahwa dalam urusan berkompetisi, kepercayaan dirinya lebih besar daripada saya. Di sekolah kami memang sering bergantian menjadi peringkat satu dan dua, tetapi saya tahu ia tidak pernah gentar menghadapi persaingan.

Kini, setelah lebih dari seperempat abad berlalu, saya baru memahami mengapa percakapan singkat di terminal itu masih saya ingat.

Bukan karena Pak Haji mampu meramal masa depan.

Boleh jadi beliau hanya membaca kesan sesaat dari dua anak yang baru lulus SMP. Atau mungkin hanya bercanda kepada penumpangnya.

Entahlah.

Yang saya tahu, saya benar-benar menjadi guru.

Dan Nadhif benar-benar mengabdikan diri sebagai perangkat desa.

Saya tidak pernah bertemu lagi dengan Pak Haji.

Entah beliau masih mengemudikan angkot atau tidak. Entah beliau masih mengingat dua anak yang pernah turun di terminal pada suatu pagi di tahun 1999 atau tidak.

Namun satu kalimatnya tetap tinggal di kepala saya.

Kadang sebuah percakapan hanya berlangsung beberapa detik.

Tetapi membutuhkan puluhan tahun untuk menemukan maknanya.


Gambar diambil dari https://www.madjongke.com/2022/02/mengenang-mobil-colt-t100-modifikasi.html

ABDEE & SHELLY


 "Udah lama aku mengenalmu sebagai makhluk termanis yang pernah ku jumpai". Kamu bagaikan lolypop. Meskipun kamu protes disamakan dengan permen. Setidaknya kamu memang manis dan penurut. Gak kebayangkan kalo permennya suka berontak? mau dimakan malah loncat-loncat.


 "Seandainya ada dua pilihan, kamu pilih jadi eskrim atau permen karet?". Tapi ternyata kamu tidak pilih keduanya meskipun sifat mereka ada padamu namun sifatmu tidak dimiliki mereka. Ya, menurutmu mereka sama manisnya denganmu. Lagipula kamu tak kalah manis dari keduanya.

 "Sekarang, apa perbandinganmu antara eskrim dengan permen karet?" Eskrim lebih manis dari permen karet katamu. Namun cepat lumer, jauh sekali dengan sifatmu. Sedangkan permen karet manisnya gak lama. Kalau kamu, manisnya awet.

 "Alasan yang sungguh mengagumkan, emangnya kamu belajar dari mana sih?". Katamu, alam yang menjadi gurumu, lalu kamu mengaitkannya soal agama. Mungkin pandanganmu saja yang terlalu sempit menganggap Islam lebih senang mencari ilmu kesaktian, bahkan beberapa pesantren yang kamu sebut beralih fungsi menjadi perguruan kesaktian, menggandakan uang, bahkan seperti praktek kolonialisme yang harus patuh tanpa tahu alasan yang jelas.

 "Ih, omonganmu udah nyinggung sara tuh" Nggak papa katamu, karena dalam agamaku berlaku bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Jadi kamu tidak bermaksud mencampuri agamaku, hanya heran saja. Aku juga heran kenapa kamu juga paham tentang al Quran.

"Dalam surat Ali Imran ayat 19 disebutkan bahwa, Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam. Bagaimana menurutmu?" katamu kamu sebenernya pengen belajar islam lebih dalam. 

"Aku sebenernya pengen juga sih belajar islam lebih dalam". Begitu katamu, tapi mengingat orang tua kalian yang non muslim, kamu jadi ragu

 "Hayo, lagi ngapain?" ssstttt, kayaknya pembicaraan kita terdengar papanya Shelly. udahan ya.


Ini karyaku yang aku temukan di Little Dream tahun 2003. Sebelum mengenal blog, saya mencatatnya di buku tulis. Ceritanya sih 100% fiksi, yang nyata cuma manisnya. Awet sampai sekarang. Gambarnya juga ilustrasi sendiri, cuman minta bantuan Chat GPT untuk merapikan.

APTX 4869



Bagi penggemar karya Aoyama Gosho, APTX 4869 bukanlah barang asing. APTX 4869 adalah racun fiksi yang dikembangkan oleh Shiho Miyano. APTX merupakan singkatan dari Apoptoxin . APTX mengaktifkan telomerase : sebuah enzim yang memperpanjang umur DNA sehingga sel membelah dengan lambat. 4869 dibaca shi ha ro ku (Sherlock), nama seorang detektif (Sherlock Holmes) karangan Sir Arthur Conan Doyle. Pada serial Detektif Conan, sering sekali muncul kode atau pesan kematian berupa angka. Sehingga saya mencoba menghafal deretan angka menggunakan Bahasa Jepang. Begitupun yang dilakukan Prof. Imam ketika membacakan nomor HPnya.

NIM saya 821634647 terasa sulit menghafal deretan angka tersebut, tetapi ketika saya sebut ha ni ichi ro san shi ro shi na terasa sangat mudah. Aoyama Gosho memberikan nama tokoh utamanya Shinichi Kudo (Shin Ichi = kebenaran selalu satu). Sementara Prof Imam memberi nama grup ini IRo Legendum (IRo = ichi ro = 16). 1+6=7. 7= tujuh (tujuan). 7=pitu (pitulungan).  

Maka IRo menurut saya bukan sekedar Imam Robandi, namun juga sebuah pertolongan. Menolong kita semua untuk menjadi besar bersama.


gambar diambil dari https://www.its.ac.id/telektro/id/dosen-staf/daftar-dosen/dosen-teknik-sistem-tenaga/imamrobandi/

FOGGING TIKUS



Saya masih ingat, waktu kecil sering ikut bapak ke sawah untuk mengasapi tikus. Alatnya bentuknya seperti knalpot. Di dalamnya diisi jerami kering dan belerang, lalu dibakar. Di bagian belakang ada pedal yang diputar agar asap terus mengalir ke dalam liang. Moncongnya diarahkan ke salah satu lubang di pematang sawah.Tak lama kemudian asap muncul dari lubang-lubang lain. Dari situlah kami tahu, lubang-lubang itu saling terhubung. Satu per satu ditutup dengan tanah sampai tak ada lagi asap yang keluar. Dulu saya mengira, begitulah cara manusia mengalahkan tikus.

Sekarang saya sudah jarang melihat cara itu dipakai. Entah karena tikus sawah sudah berkurang atau karena cara memberantasnya sudah berubah.

Kadang saya membayangkan, mungkin tikus juga belajar mengikuti perkembangan zaman. Ketika manusia masih menyimpan gabah, mereka mencuri gabah. Ketika manusia mulai menyimpan nasi, mereka mendatangi warung. Dan ketika manusia mulai menyimpan uang, mereka pun tahu harus tinggal di mana.

gambar diambil dari shopee

Sabtu, 01 November 2025

Empowering & Leadership

 



“Bila ada bursa jual beli organ tubuh manusia,

yang paling mahal adalah otak, jarang dipakai sih.

Sementara, yang paling murah adalah hati

karena telah hancur berkeping-keping sejak remaja”

 

 

Kegiatan Empowering and Leadership FKKS SD/MI Muhammadiyah Jawa Tengah telah diprogramkan sejak awal tahun 2022 dan telah disosialisasikan di grup FKKS Jateng maupun grup-grup sejenisnya. Namun hingga H-7 peserta yang ditargetkan jauh dari kuota. Ada wacana untuk reschedule, mengingat banyak Kepala Sekolah yang berminat namun telah memiliki agenda lain. Reschedulepun belum tentu menambah jumlah peserta, bisa jadi yang sudah mengunci tanggal tersebut malah tidak bisa ikut. Maka kita tetap lanjut apapun yang terjadi.

Seiring berjalannya waktu, detik-detik terakhir kuota tutup mulai ada penambahan peserta. Mungkin sudah menjadi ciri bangsa merdeka yang punya slogan “Belanda masih jauh” sehingga terkesan santai dalam menghadapi apapun. Maka untuk melawan slogan tersebut, dibuatlah slogan baru, “sing keri cokot boyo” yang berarti yang terlambat digigit buaya. Padahal boyo saiki nek nyokot keri (buaya sekarang kalau menggigit, geli).

Materi awal disampaikan oleh Raden Ridwan Hasan Saputra tentang kecerdasan suprarasional. Kecerdasan suprarasional adalah konsep yang ditemukan beliau merujuk pada tingkat kecerdasan yang melampaui kemampuan rasional atau logika semata. Dalam pandangannya, kecerdasan ini tidak hanya didasarkan pada kemampuan berpikir secara rasional dan analitis, tetapi juga mencakup pemahaman yang lebih dalam tentang aspek-aspek non rasional dalam kehidupan, seperti  intuisi, perasaan, dan pengalaman spiritual.

Yang menarik bagi saya dari penjelasan Pak Ridwan adalah selain kwadran X dan Y ternyata masih ada lagi kwadran Z. Kwadran X mewakili kekuatan, Y otak atau pikiran, Z hati. Atau kalau boleh saya sebut sebagai triple H (Head, Hand, and Heart).

                Orang yang bekerja hanya mengandalkan kekuatan, hasilnya akan terbatas. Pun demikian , yang hanya mengandalkan otak saja, juga terbatas. Tetapi kalau dilandasi dengan hati, maka hasilnya akan maksimal. Istilah sekarang disebutkan sebagai kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Dengan keikhlasan, maka ridho Allah selalu menyertai.

Kenyataannya pada zaman serba rasional ini, masih banyak yang tidak menggunakan akalnya sehingga banyak terjadi korban penipuan, entah yang berkedok investasi maupun give away.  Atau justru karena Mengagungkan akal sehingga menggunakan akal untuk hal yang negatif, menipu, memanipulasi, dan lain sebagainya.

Lantas bagaimana dengan hati? Dalam hati ada perasaan cinta, empati, kepedulian namun juga ada rasa benci, dendam, serta ketakutan yang tidak rasional. Banyak hati para remaja yang hancur berkeping-keping karena putus cinta. Berubah jadi benci, dendam, ataupun trauma.

Maka, bila ada bursa jual beli organ tubuh manusia, yang paling mahal adalah otak, jarang dipakai sih. Sementara, yang paling murah adalah hati karena telah hancur berkeping-keping sejak remaja.

                Eits, tapi otak dan hati bukan buatan manusia yang bila dipakai terus akan aus. Yang ini istimewa, semakin dipakai, diasah, semakin berkembang. Dengan pengetahuan kita bisa membedakan yang benar dan salah. Dengan hati bisa menempatkan sesuatu dengan tepat. Dalam falsafah Jawa dikenal  bener durung mesti pener. Untuk njlentrehke falsafah Jawa tersebut, sepertinya Syech Pujiono lebih paham.

PAK HAJI

Saya tidak pernah tahu nama beliau. Orang-orang di terminal hanya memanggilnya Pak Haji. Saya juga tidak ingat nomor angkot yang beliau kemu...