Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Februari 2025

MISTERI SIRIH KEMBAR

“Daun sirih yang tulang daunnya bertemu dalam satu ujung dapat mengantarkan kita ke dalam mimpi seseorang, berani coba?”

Pada tahun 1990an televisi adalah barang mewah. Di desa hanya beberapa orang saja yang memilikinya. Namun ketiadaan itu justru mempererat persaudaraan. Para tetangga bisa berkumpul tiap malam dalam satu tempat, meskipun pemilik televisi juga ada yang tidak berkenan; kalau tidak mau dikatakan pelit. Bukan apa-apa sih, kadang penonton juga tidak tahu diri membawa makanan, minuman, bahkan merokok yang akhirnya mengotori rumah pemilik TV.

Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, satu saudara tiri dan dua saudara kandung. Ayahku seorang pedagang, pedagang apa saja terutama hasil perkebunan. Bila musim durian tiba, rumahku penuh dengan buah durian, biasanya teman-temanku ikut melangsir dari rumah sampai ke angkutan. Setelah selesai, ayahku membelah beberapa durian untuk kami makan. Waktu itu harga durian Rp 200,00 – Rp 500,00.

Sebagai anak bungsu, hampir semua permintaanku dipenuhi, kecuali mainan. Maka suatu kali aku minta TV, dibelikan aku TV Sharp 14` hitam putih kalau tidak salah harganya Rp 300.000,00 pada waktu itu.

Televisi membuat aku menjadi anak rumahan. Bagaimana tidak, tanpa keluar rumahpun teman-teman sering main kerumahku. Apalagi kalau malam Jum’at . Acara favorit kami Combat dan film horor Friday 13th. Combat dimulai lebih awal, selisih beberapa jam sebelum Friday 13th.

Seberapa menyenangkannya dirumah, anak-anak tetap saja ingin bebas bermain di luar. Biasanya selisih waktu tersebut kami gunakan untuk bermain petak umpet atau kucing-kucingan. Entah karena kelelahan atau ketakutan, sebelum film horor usai kami terlelap.

Hari Kamis adalah hari yang paling menyenangkan bagi kami. Pelajaran di sekolah hanya 2 : Orkes dan Kertangkes. Sekolah kami sekolah pinggiran yang gurunya tidak genap enam. Maka setiap hari Kamis pelajaran Orkes untuk siswa kelas 1 – 6 bermain bersama. Biasanya bermain bola kasti, atau dibagi dua yang putra sepak bola, yang putri bola kasti atau lompat tali.

Usai pelajaran kami diperbolehkan main di sungai yang sangat jernih dengan syarat pulang membawa batu. Kata Pak Guru batu itu dikumpulkan untuk membuat taman sekolah. Diantara kami tidak ada yang terpaksa melakukannya. Bagi kami mendapat perintah guru adalah suatu kehormatan. Pulang dari sungai pelajaran kertangkes. Biasanya menggambar bebas dan yang sudah selesai boleh pulang lebih dulu.

Entah ide dari siapa, siang itu mereka berencana menginap di rumahku untuk mencoba suatu rahasia. Kata salah satu temanku, daun sirih yang tulang daunnya bertemu dalam satu ujung bisa mengabulkan permintaan kami lewat mimpi. Maka kamipun berburu daun sirih tersebut. Mereka menyebutnya sirih kembar.

Setelah kami menemukan daun sirih kembar, kemudian kami menuliskan nama sendiri dan nama seseorang yang ingin kita temui lewat mimpi kemudian ditaruh di bawah bantal. Ah ternyata dulu aku pernah tertarik kepada seseorang. Seperti apa ya dia sekarang?. Hampir-hampir aku tak ingat lagi wajahnya. Maklum dia bukan orang sini, lagi pula hanya 1 tahun ia sekolah disini. Yang ku ingat pasti dari dia, putih, manis, sesuai dengan namanya, serta hidungnya keringetan, sesuatu yang unik bagiku masa itu. Hmmm....Kau tau apa yang terjadi setelah itu?

Aku pikir aku bakal mimpi bertemu dengannya persis di pilem-pilem India Bazigar atau Afsana Pyar ka, nyanyi-nyanyi, nari-nari, guling-guling di rerumputan. Ternyata,... kau tau tidak apa yang akan terjadi setelah itu? Kalau kau tahu kasih tahu aku ya?

gambar dari tokopedia

MAC GYVER JUNIOR

Dulu, dulu sekali saya pernah mendapatkan gelar Mc. Gyver Junior. Seingatku waktu kelas 4 atau kelas 5 MI. Sore itu kami mau bermain bola, namun bola kami pecah. Kami ingat bahwa sekolah punya bola baru yang tidak boleh kami pinjam. Maka kamipun berencana meminjam bola tersebut tanpa ijin. Caranya dengan membuka jendela kantor Kepala Sekolah. Memanfaatkan sebilah bambu pagar dan plastik es yang ditarik sehingga menjadi seutas tali untuk dijadikan simpul, saya mulai beraksi. Tubuh slimku diangkat, dan tangan kecilku masuk ventilasi jendela. Simpul plastik saya arahkan ke grendel jendela, sekali tarik jendelapun terbuka. Kami masuk mengambil bola yang dimaksud.

Waktu itu sepak bola memang olah raga favorit kami, yah meskipun setiap kali main saya selalu kebagian jadi keeper. Maklum, saya termasuk tipe lelaki yang setia. Gawang saja dijaga, apalagi anak mertua. Sementara teman lain lebih memilih jadi penyerang, yang suka menembak, tak peduli diterima atau ditolak.

Setelah selesai bermain bola, kami kembalikan ke tempat semula. Melihat stempel di meja, teman-temanpun mulai bermain dengan stempel, lengan kiri kanan dicap dengan stempel gudep 71/72. Esoknya kami ketahuan, gara-gara dengan bangganya pamer tato tunas kelapa. Kami disidang, dan diganjar hukuman tawaf keliling sekolah entah berapa kali banyaknya.

Kemarin, saya berangkat lebih pagi dari biasanya, terlihat Pak Mul petugas kebersihan di tempat saya bekerja sedang melakukan sesuatu di depan pintu kelas 2. Ternyata pintunya tidak bisa dibuka dari luar karena slot pintunya rusak. Sementara pintu tembus ke kelas sebelah tertutup rak buku. Sayapun mencoba kemampuan lama saya. Bermodal rantai dan kabel bekas yang saya temukan di gudang, sayapun melakukan cara yang sama seperti saat meminjam bola tanpa ijin.

Tenang saja, kali ini kepala sekolah tidak akan menyidang dirinya sendiri. Pintupun bisa dibuka dari dalam, tepat ketika satu dua anak mulai berdatangan.

Gambar diambil dari https://encrypted-tbn2.gstatic.com/

Minggu, 31 Maret 2024

PAK CIK

“Semua gambar diawali dari sebuah titik”

Pak Cik aku memanggilnya, bukan sebutan paman dalam Bahasa Melayu. Beliau adalah Pak Mucikno, Guru Matematikaku saat duduk di kelas 2B SMP Negeri 4 Kedungwuni (sekarang SMP 3). Mungkin bagi sebagian siswa Pak Cik termasuk salah satu guru yang ditakuti, meskipun aku tak yakin mereka benar-benar takut, mungkin lebih kepada mata pelajarannya saja yang tidak disukai. Suatu ketika, Bu Hesti Nurhayati Guru Bahasa Indonesia kami tidak masuk kelas, Pak Cik yang menggantikan. Kalau tidak salah materi saat itu membuat puisi. Saya berkesempatan membacanya pertama kali, karena memang nama berawalan A selalu nomor 1 di daftar hadir. Saya masih ingat betul puisi yang saya bacakan.

Menangis tiada artinya

Airmata tiada guna

Meskipun betapa sedihnya

Menghadapi kenyataan

Tuhan telah menentukan hidup ini

Tiada yang mampu menghindari

Biarlah semua terjadi

Mungkin harusnya begitu

Tak usah menyesali diri

Yang lalu biar berlalu

Takkan mungkin selamanya menderita

Esokpun pasti ada bahagia

Sesungguhnya jalan ini masih panjang

Dunia inipun masih luas terbentang

Hanya waktu yang belum sampai saatnya

Mungkin suatu hari nanti

Tercapai sudah segalanya

Pak Cik memuji saya habis-habisan, tapi aku tak terlalu bangga. Bahkan lebih tepatnya malu. Itu bukan puisi karya saya sendiri, tapi lirik lagu yang saya hafal dari soundtracknya Saint Seiya.

Mungkin dari situ saya mulai belajar puisi, memperbanyak kosa kata, padan kata, metafora, dan sebagainya.

Pagi ini saya bertemu beliau lagi, dalam acara lokakarya orientasi PGP di SMA 1 Kedungwuni. Pada sesi perkenalan, setiap peserta diminta menggambar sebuah benda dan menerangkan artinya. Pak Cik menggambar titik di sebuah kertas, beliau menjelaskan bahwa sebuah gambar diawali dari sebuah titik. Titik-titik membentuk garis, bisa lurus atau lengkung, kemudian membentuk bangun, tekstur, bahkan warnapun terbentuk dari gabungan berbagaimacam titik. Namun titik tetaplah titik, tidak akan berubah apapun bila kita berhenti, pada, satu, titik.

Mudisar_Ceria, 23 Maret 2024

Jumat, 15 Juli 2022

KAYA DINA BADA

 


Tanggal 26 Nopember 2021 dina sing tek nteni. Atiku bungah banget yakin, bisa ngajak kanca-kanca maring Banyumas. Janjane inyong isin, angger kegiatan FKKS bisane teka ijen bae. Lah piwe maning, laka sing gelem diajak. Pokoke piwe carane nggone eklan. Inyong eklan nek Maharaja kuwi MI paling maju, bilingual class, duwe kebon melon, kepalaeh ngganteng pisan, kaya artis Korea sisih lor, ya beda tipis lah, luwih kandel Kang Indra. Kapan ora pada ya padakpadakna karo presidene Korea sisih Lor. Kejaba kuwi nek bisa mangkat Dina Jumat, apan diajak maring kebon melon duweke Mahadia, kepalaeh wadon tapi setrong kaya Nini Dakem, jenenge Welas Rarasati. Embuh kuwe sapane Nini Dakem.

Wengi Jumate inyong videocall nang grup WA sing anggotane mung uwong enem. Inyong dewek, Tadz Azam Kepala SDM PK Paesan, Tadz Nurdin Sholeh Kepala SDM Tanjungkulon, Tadzah Junaenah Kepala SDM Pangkah, Tadzah Rahma Kepala SDM Tahfizhul Quran Wonokerto, siji maning Tadzah Umi Isrotun Kepala SDM 3 Pekajangan. Disepakati mangkat sekang Paesan jam 10.00. Inyong, Bu Jun, Bu Umi langsung maring Paesan. Bu Rahma ngenteni nang Kajen ngarep Gedung Dakwah Muhammadiyah Kab. Pekalongan.  Pak Soleh ngenteni nang tugu 0km Kajen.

Jam sepuluh punjul mulai mangkat maring Banyumas lewat jalur Kajen – Kesesi – Bodeh - Pemalang. Mampir jumatan nang masjid sing esih dibangun, bejane inyong gawa sajadah, jamaah sing teka keri pada ora olih enggon. Bar Jumatan, mampir madhang nang Randudongkal, eh jebule ketemu tanggane dewek bos kayu sing pada wae lagi madhang, jarene bar mulih seka Guci.

Kira-kira jam setengah papat, rombongan wis tekan Maharaja. Langsung disambut para bidadari Maharaja. Rombongan liya kaya-kayane wis pada siyap maring Green House.

Mari pada rampung solat asar, bidadari kuwe mau nggawakna inyong pecel sak kranjang. Langsung pada dipangan nang jero Avanza. Pecel combrang, lontong, lan bakwan. Hemmm enak tenan....!

Tekane green house jebul rombonganku teka paling disit. Kok esih sepi, apa uwis rampung ya acarane.  Liyane pada maring greenhouse inyong ming ning galengan ngentekna pecel mau. Nembe sak emplokan, rombongan liyane pada teka. Mangkat disit urung mesti tekan disit ya. Kaya slogane mobil Carry, Carry – carry puwo sing penting disit, hahaha.

Bali sekang greenhouse disambut sajian makan malam tahu gecot, ya kaya ketoprak, tahu campur, apa lontong tahu lah. Mari kuwi peserta pada sharing. Masing-masing perwakilan Kabupaten/Kota nyampeake bestpractice e dewek-dewek. Gilirane inyong, bingung apan nyapekakae apa, lha wong best kabeh koh, gayane padahal ora eneng best-best e kejaba luwih tuwa sekolaeh.

Maju mundure sekolahan salah sijine peran kepala sekolah, mung kepala sekolah kuwi dudu Supermen, ora kudu bisonan (nompak Yamaha Bison maksudeh) ya kadangkala Avanzanan senajan dudu Avanzane dewek. Jan pokoke diskusine gayen pisan nganti ora eling wektu.

Mari kuwi isuke diajak Kang Indra maring Bendung Gerak Serayu, sarapan ana kana menune soto karo lontong, ora lali mendoane. Ana sing nyletuk, ndene lontong maning – lontong maning, kaya dina bada bae. Wes lah ora usah reang gari mbadog bae koh, rewes.

Pamitan seka Maharaja, disambut senyuman para bidadarine Maharaja, jarene para bidadari yang buruk tinggalkan saja, yang baik silahkan dibawa. Piwe kiye Kang Indra, bidadarine baik-baik kabeh, apan tek gawa  ora eneng enggone.

Ketrangan foto: Lagi pada sarapan lontong ana Bendung Gerak Serayu
Fotone njukut sekang FBne Ustadz Heru Nugroho (Piyantune sisih tengen ngagem rompi) 
Sing kiwa anggo kaos ijo kuweh Kang Indra Kepala Sekolaeh Maharaja.
Kyai Pamuji Raharjo (Ketua FKKS SD/MI Muhammadiyah Jawa Tengah) ngagem batik kaliyan kopiah.

Rabu, 17 Juni 2020

LDR



“yang sekarang mengalami LDR, bersyukurlah, setidaknya kalian LDR hanya beda kota atau beda negara saja”

Wabah Covid 19 membuatku harus bekerja dari rumah, sementara anak-anak juga belajar di rumah. Mestinya ini menjadi berkah bagiku yang intensitas pertemuan dengan anak selama ini kurang.

Pagi ini, Hari Minggu tidak ada tugas yang menunggu. Untuk menahan anak agar tidak keluar rumah kami membuat papercraft Yamaha M1 milik Valentino Rossi. 34 lembar A4 sudah aku cetak. Urusan memotong kami kerjakan bersama, cukup bagus untuk melatih motorik halus anak. Sementara melipat dan menempel menjadi tugasku. Sembari membuat papercraft, aku mendengarkan radio BSP FM, hingga terdengar sebuah lagu yang liriknya mengingatkanku pada seseorang. Aku tidak tahu itu lagu siapa, mungkin lagu baru atau paling tidak lagu tahun 2004 ke atas, maklum sudah lama tidak update musik.

Penasaran, aku ambil HP Candybarku Andromax Prime, kucari di google dengan kata kunci aku di sini dan kau di sana hanya berjumpa via suara, ternyata lagunya RAN ini liriknya :

Dekat di Hati

Dering telfonku membuatku tersenyum di pagi hari

Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi

Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini

Tawa candamu menghibur saat ku sendiri

Aku di sini dan kau di sana

Hanya berjumpa via suara

Namun ku slalu menunggu

saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana

Kita memandang langit yang sama

Jauh di mata namun dekat di hati

Dia Rara, aku mengenalnya melalui surat pembaca di majalah Annida. Aku mengirim surat untuknya dengan alasan Rara punya perpustakaan pribadi, tentunya itu juga impianku. Yah, smalllibrary yang berarti perpustakaan kecil mulai aku rintis. Mungkin karena aku tidak terlalu percaya bahwa perpustakaan yang aku rintis akan menjadi besar, atau justru aku berpikiran bahwa sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil terlebih dahulu. Barangkali dengan menjalin persahabatan dengan Rara bisa memecahkan permasalahan yang mungkin muncul dalam pengelolaan perpustakaan tersebut.

Beberapa bulan tidak ada balasan sampai aku lupa pernah berkirim surat untuknya. Hingga satu sms masuk dari adiknya, ia menjelaskan bahwa Rara sudah bekerja di Bintan Kepulauan Riau sehingga tidak sempat membalas suratku. Aku merasa dekat dengan keluarganya, ibunya dan kedua adiknya meski via aksara dan suara, ayahnya sudah tiada. Sementara Rara, belum ada kabar apapun. Pada Bulan Agustus 2007, pertama kali Rara menelfonku. Suaranya lembut, sumringah, menyenangkan. Hari-hari berikutnya, hampir tiap dini hari Hpku berbunyi. Maklum seringnya ia bekerja shift malam, dan waktu istirahatnya digunakan untuk menelfonku, sekedar say hello atau bercerita panjang lebar. Ada saja cerita yang ia suguhkan, tentang dirinya, keluarganya, teman-temannya, bahkan kekasihnya. Aku tak terganggu sedikitpun, malah aku yang merasa terhibur dalam kesendirianku. Aku heran mengapa bisa berbincang senyaman ini, meski aku tak yakin bila bertemu nanti rasanya akan sama.

Ternyata benar, Januari 2009 di lereng Sindoro kami bertemu, tapi endingnya tidak sama dengan lagu. Aku tak pandai merangkai kata. Diam. Tenggelam dalam abstraksi yang kuciptakan. Mungkin, Rarapun demikian. Aku tak berani memimpikan yang lebih jauh lagi. Ah, wanita membuatku terlena meski aku tak sepenuhnya memuja, wanita hadirkan rindu meski pertemuan membuatku jenuh.

Barangkali aku salah menyimpulkan atas kediaman Rara. Mungkin kepekaanku saja yang terlalu tinggi, padahal aku telah berusaha menekan kepekaan ini, atau justru aku yang tak punya kepekaan sedikitpun. Kami tidak hanya LDR beda kota, tapi beda hati juga. Ada yang hilang dari perasaanku/yang terlanjur sudah ku berikan padamu// suara Ipang mengalun. Menghentikan nostalgiaku. Aku tak kehilangan apapun. Meskipun hubunganku tidak seperti dulu lagi, ternyata Rara punya rencana lain. Aku tahu dari ibunya. Bagaimana kalau aku dijodohkan dengan teman terbaik Rara katanya.

Rara memang baik hati. Ia telah memilihkan untukku teman terbaiknya. Bidadari dari kaki Gunung Tidar, yang sekarang menjadi istriku, ibu dari kedua anakku.

Tentang istriku, tidak saya ceritakan di sini. Kalau mau dengar ceritanya mampir saja di smalllibrary yang kini telah kuubah namanya menjadi cafebook; bukunya sih sudah ada, cafenya yang belum punya. Tapi tenang saja, saya masih punya secuil kopi papua dan beberapa potong singkong untuk teman nongkrong. Eh, inikan musim corona. Lain kali saja nongkrongnya.

Minggu, 01 Maret 2015

BUKAN IBU

“BUKAN IBU…”
Oleh: Abdul Sukur

Hari masih begitu pagi ketika aku pejamkan lagi mata ini, tak ada hal menarik yang bisa kuselidiki. Paling-paling sebentuk makhluk yang kusebut Rani. Ya, Beraniwati, kedengarannya aneh kan? Mungkin sang ibu memberikan nama itu agar Rani, berani menghadapi kenyataan bahwa seorang ayah yang mestinya bersama, harus musnah dihapus sejarah. Makanya ia dipanggil dengan sebutan Rani.
Dia temen sekelasku yang selalu mengganggu tidurku. Bukan apa-apa sih, gue cewek normal lagi yang mendambakan seribu pria mampir dihatiku yang seluas samudera, ceileee.
Gimana gak terganggu coba, hampir tiap malam dia selalu nginep di rumahku mengganggu jadwalku, tugas sekolah, makalah, laporan kegiatan dan seabreg tugas lain yang belum juga selesai karena kehadirannya. Rani gak banyak cerita kalau bukan aku yang mulai bertanya. Ia lebih suka nulis, entah itu puisi, cerpen, atau apapun yang bisa dijadikannya tempat curhat, makanya kadang komputerku yang dijadikan media.
Sepertinya ia tidak betah dirumah, meskipun aku tahu fasilitas yang tersedia dirumahnya lebih lengkap dari pada disini, di kamar ini. Kamar berukuran 3x3 beralas karpet plastic ber motif papan catur persis seperti lantai kamar kos-kosan. Computer Pentium 2, mousenya juga belum pakai mouse optic, itupun kalau masih waras, kadang-kadang udah ngetik banyak belum sempat nyimpen udah hang, tak ada springbed disitu, jangankan springbed ataupun ranjang, dipan saja nggak ada. Aku lebih senang tidur di kasur tanpa ranjang maupun dipan, meskipun kapuknya sudah mengeras karena jarang dijemur. Kata orang-orang sih kita aman dari godaan setan, teluh, santet, dan lain sebagainya, nyatanya aku sering bangun siang ninggalin solat subuh, apa itu bukan godaan setan namanya. Tapi bukan alasan itu mengapa aku gak pake ranjang, mungkin trauma kali ya soalnya aku pernah jatuh dari ranjang waktu kecil.
Bandingkan dengan kamar Rani, ukuran kamarnya aja seluas lapangan futsal, komputernyapun udah CENTRINO DUO, lantainya marmer motif Cleopatra warna hijau toska, springbednya dobel peer bisa buat latihan salto, penerangannya lampu kristal, mewah. Ingin rasanya bertukar raga dengannya.
Tuh kan kesiangan lagi……
***
Tanpa sengaja aku menjumpainya sedang nulis semacam puisi, kalau nggak salah demikian,

Bukan ibu…
Bila biarkan bayinya
Minum susu sapi
Karena susunya untuk suami
Atau kekasih barunya yang kesekian kali

Aku setengah terperanjat ketika membacanya, Rani yang pendiam sepertinya menyimpan dendam kepada ibunya, mungkinkah?. Hal itukah yang membuatnya tidak betah dirumah, atau sekedar tulisan sebagai bukti obsesinya menjadi penulis. Tak banyak yang bisa aku baca dari pikirannya, hehe jangankan baca pikiran orang lain, baca buku aja males. Mungkin itu suatu kelemahanku dan remaja seusiaku pada umumnya.
“Aku bosan!” tiba-tiba Rani membuka pembicaraan
“Dalam hal apa?” tanyaku
“Dalam hal apapun!” jawabnya
“Aku tak mengerti!”
“Kamu takkan pernah tahu , sebelum kamu merasakannya.”
Hanya itu, dialog pendek yang aku sendiri memang benar-benar tak mengerti “Kamu takkan pernah tahu , sebelum kamu merasakannya”, merasakan dalam hal apa, akupun tak tahu. Pikiranku mulai menerawang, mulai yakin bahwa Rani menghadapi masalah yang tidak kecil (kalau tidak mau dikatakan sebagai masalah besar)
***
Pada kesempatan berikutnya aku mengajak Rani ke pantai, sekedar refreshing atau apalah, computer aja butuh direfresh apalagi otak kita. Pantai Ujung Negara, entah mengapa dikasih nama demikian, padahal Ujung Negara Indonesia paling baratkan Sabang, Hihi jadi inget waktu SD dulu ,”Dari sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Indonesia tanah airku aku berjanji padamu, menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia” aku nyanyikan lagu itu sambil menuruni anak tangga menuju pantai, yah dengan hati yang bergemuruh tentunya. Mungkin orang lain melihatnya aneh kali ya, tapi aku tak peduli. Entahlah kenapa mesti Ujung Negara ya padahal tempatnya di Kabupaten Batang, sebelah timur Kota Pekalongan.
Sampai anak tangga terakhir aku meloncat girang persis anak TK saat pelajaran menggambar.
“Bagaimana, kamu senang?” tanyaku
“Yah, sedikit !” jawab Rani meninggikan alisnya
“Kok sedikit, kamu lihat sepasang kekasih disana? Mereka terlihat bahagia.”
“Sok tahu, bahagia tuh gak bisa diukur dengan indera”
“Kamu tuh yang sok tahu, memang siapa bilang bahagia gak bisa diukur dengan indera?”
“Aku!”
Kemudian kami berlari, diatas pasir yang terlihat putih karena serpihan kerang. Meski terasa perih di kaki tapi aku suka. Terik tak mampu menyentuh kulit karena semilir angin terasa lebih menarik, deburan ombak yang memecah karangpun terdengar bagai alunan musik, terlalu berlebihankah?. Ah….kubuang resahku pada kaki langit. Berharap semua penat tersapu gelombang lautan.


“Aku benci pada bunga dan kumbang yang bercumbu disiang hari” tiba-tiba ia berkata,
“Aku benci pada sesaji yang tersaji” imbuhnya
“Kenapa tidak disajikan kepadaku saja? ” haha…aku menambahkan
“Maunya”
“Kamu tahu kegelisahanku saat ini?” katanya sembari melepas lelah
“Hemm…hem!”jawabku sambil menggeleng
“Tentang ibu?” aku coba menerka
“Salah satunya, tapi aku lebih suka bila tidak membicarakan tentang keluarga di tempat seperti ini.”
“Lantas?”
“Lihatlah!” katanya sambil menunjuk sesaji yang berisi nasi kuning berbentuk kerucut, ayam panggang, kopi pahit, sebungkus rokok Praoe Lajar dan kembang tujuh rupa “Apa maksud semua itu?”
“Setahuku sih sedekah bumi!”
“Sedekah bumi maupun sedekah laut bagiku gak penting, bukankah itu sama halnya dengan memubadzirkan makanan?, padahal diluar sana banyak gelandangan yang kurang makan.” Bisa-bisanya Beraniwati membicarakan hal itu, bukankah ia sendiri sering memubadzirkan makanan dirumahnya. Udah dimasak susah-susah tapi tidak dimakan. Tapi lagi-lagi aku tak berani menyinggung masalah itu. Bukankah aku tak seberani Beraniwati?.
Pulang, membawa seguci kenangan yang meretak di jalanan. Tanpa pikir panjang ku hempaskan tubuh ini di kasur tanpa dipan, sementara Rani lebih memilih jarinya menari di tuts keyboard , menyelesaikan sesuatu. Mungkin puisinya yang belum jadi.
“Oh ya, bagaimana pendapatmu tentang ibu?” aku yang memulai
“Ibu, Ibuku sosok yang harusnya memberikan ASI terbaik malah memberi pengganti dengan air susu lain entah susu sapi atau susu kalengan. Ia lebih memilih menggadaikan kasih sayangnya pada orang lain, mencari pengganti sosok ayah yang belum sempat aku kenali, mengejar karir, mengejar rupiah, untuk masa depanku katanya, tapi ibu tak punya banyak waktu, bahkan nyaris tak ada waktu untukku. Itulah sebabnya aku lebih memilih nginap disini, paling tidak aku nggak ngerasa kesepian, pernahkah kamu merasa sendiri ? jujur aku iri kepadamu, kapanpun kamu membutuhkan kehadiran ibu, bahkan ayah, kakak, adik, mereka selalu ada di sisimu, sementara aku?”
Pertanyaan itu terus melesat tanpa henti, layaknya anak panah Kurawa menghujani tubuh Abimanyu dalam perang bharatayudha. Ada sosok lain dalam dirinya, yang jelas berbeda sewaktu di Ujung Negara.
Sejatining manungsa punika sawang-sinawang, tidak puas dengan diri sendiri dan membanding-bandingkan dengan orang lain. hampir-hampir aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Tapi sebisa mungkin aku mulai menata hatiku lagi setelah berserak saat mendengar ledakan kata-katanya. Tanpa dijawabpun pertanyaan itu juga tidak terlalu butuh jawaban. Hanya saja ada rasa tak enak bila tak menanggapi hal itu.

“Tapi fasilitas….”belum selesai aku bicara, tiba-tiba ia memotong
“Fasilitas bukanlah segala-galanya, kasih sayang ibu tak bisa dibeli dengan mata uang manapun.”
Sontak aku tersadar, meskipun tak sepenuhnya sadar. Yah, kegelisahan itu milikku juga. Ibu yang selama ini tak punya banyak arti bagiku tiba-tiba sangat bermakna, beliau sudah terbiasa ada, jadi tak ada istimewanya kasih sayang yang ibu berikan dengan tulus.
“Ibumu tidak salah, jangan lagi menaruh kebencian padanya ya?” petuahku dengan senyum.
“Syifa…!” Rani menyebut namaku, heran mungkin.

Spontan aku mengambil alih keyboard dan menyelesaikan puisi Rani

Tapi ibu,…
Tetaplah ibu
Setidaknya masih ada surga
Dibawah telapak kakinya


Ujung Pagi, 3 Shafar 1429 H

CERITA CURIAN

MEMBAYANGKAN DUNIAKU TANPANYA
oleh : Gigih Setianto
Sebetulnya aku mengenalnya belum lama, belum genap lima tahun. Namun, banyak orang yang menyangka bahwa kami adalah sahabat lama dari kecil, itu karena kami sering bersama dan hangat dalam bersahabat. Persahabatan kami berawal semenjak ia baru mengabdi di SD didesaku. Selang beberapa minggu setelah kedatangannya, karena SD tersebut adalah almamaterku dulu maka aku sering silaturrahim ke SD tersebut sekedar bercengkerama dengan guru-guruku yang dulu pernah membentukku menjadi seperti ini, aku menemukan dua sosok baru muncul di SD itu dan setelah aku tanyakan kepada pak kepala ternyata kedua sosok itu adalah guru baru SD itu. Wajah kedua guru itu begitu teduh dan menyiratkan makna kebapakan, Guru yang luar biasa, itu pikirku setelah sekilas memandangnya.
Salah satu guru baru itu bernama Abdul Sukur, nama yang tidak asing sekali ditelingaku, sebetulnya aku dulu pernah sekilas mengenalnya sewaktu ada kegiatan IRM di Rogoselo namun secara samar-samar karena waktu itu kita berbeda Pimpinan Ranting jadi hanya sekedar memandang saja, tapi aku masih ingat kalo tidak salah dulu ia pernah berambut gondrong seperti vokalis grup band. Aku sempat suudzon karena rambut gondrongnya itu, dengan mengatakan bahwa ketua Pimpinan Ranting IRM ko’ rambutnya gondrong apa bakalan IRM bisa maju, tapi untungnya tidak aku katakan kepada siapapun sehingga ia tidak tahu kalau aku telah suudzon kepadanya.
Pertemanan kita berlanjut namun belum intens, karena aku sendiri sibuk sekolah dan berorganisasi disekolah, belum ditambah sekolahku yang jauh di kota pekalongan jadi seringkali berangkat jam 6 pagi dan pulang jam 6 sore. Sehingga kita hanya bertemu saat-saat tertentu saja seperti ketika aku bermain ke SD, ada rapat IRM dan secara tidak sengaja ketemu dijalan.
Persahabatan kita semakin erat ketika pada saat KONPIRAN IRM cabang Doro aku didaulat menjadi Ketua Umum PC IRM menggantikan ketua sebelumnya yang memang tidak aktif, sebelumnya aku menjadi sekretaris umum. Ia menjadi ketua bidang KPSDM. Pasca resafel itu tidak tahu sebabnya, aku mulai tertarik pada dunia IPM, mungkin saja karena ada ia. Ide-ide baru untuk IPM mulai mengalir begitu derasnya. Otakku mulai berproses merangkai ide-ide tersebut menjadi sebuah kenyataan. Namun aku tidak mau mengatakan bahwa yang membuat kenyataan atas ide-ideku itu adalah aku, sebuah kebohongan besar jika aku mengatakan demikian. Kenyataan menunjukan bahwa ialah yang membuatnya. Buktinya waktu itu aku belum punya motor secara pribadi, ia yang selalu menyambangiku saat mau rapat, ia yang memboncengkanku dengan motor L2 Supernya yang gagah seperti dirinya saat mau turba ke Pimpinan Ranting-Pimpinan Ranting. Saat itu Pimpinan Cabang IRM doro mempunyai 6 Ranting yang kesemuanya aktif yaitu Ranting Wonosari tempatku tinggal, Ranting Kutosari tempatnya tinggal, Ranting Simbang, Ranting Pejaten, Ranting Doro dan Ranting Rogoselo, dimana jarak antar pimpinan Ranting tersebut lumayan jauh. Dan lagi dia juga yang selalu mengetik surat dengan mesin tik inventaris cabang IRM yang sangat tidak bersahabat sekali. Sehingga karenanya organisasi bisa berjalan dengan baik bahkan program-program kerja unggulan dapat terlaksana dengan sukses.
Melihat keaktifannya tersebut aku sempat optimis kelak ia akan menjadi aktifis besar, makanya ketika menjelang Musda XVII ia kami minta untuk ikut berjuang di Pimpinan Daerah IRM. Dan tidak tanggung-tanggung oleh formatur ia ditempatkan di Bidang PIP. Sungguh bangga IRM Doro punya kader seperti dirinya. Aku sendiri jangan ditanya, jangankan punya bayangan masuk di Pimpinan Daerah yang harus ngurus remaja Muhammadiyah se Kabupaten Pekalongan, ngurus diri sendiri saja belum bisa, sudah pasti tidak akan bisa masuk PD IRM.
Saat dia aktif di Pimpinan Daerah itulah ia aktif juga di cabang, posisinya sebagai aekretaris umum periode Muscab VIII dan kebetulan saja yang menjadi ketua umumnya aku, sebetulnya aku sangat belum pantas menduduki amanah itu. Dan disinilah hampir setiap perang dan damai aku lewati bersama dirinya.
Berlanjut sampai Musda XVIII pun ia dipercaya menjadi tim formatur dan berkat sikapnya yang luar biasa akhirnya amanah Ketua Bidang ASB pun diserahkan kepadanya.
Anak ketiga dari lima bersaudara ini mempunyai sifat yang sangat sederhana, kesederhanaanya tampak dari tutur katanya, tingkah lakunya, cara berpakaian, cara makan dan semua hal yang ada dalam dirinya. Pernah suatu saat ketika kebetulan saja aku punya rejeki lebih karena baru saja aku terima beasiswa supersemar, aku tawarkan kepadanya kira-kira mau makan apa sebagai balas budi karena sudah tidak terhitung ia nraktir aku makan , dengan senyuman yang khas ia menjawab kalau ia ingin makan nasi megono saja. Padahal uang yang ada dalam dompetkupun cukup kalau mau digunakan makan di Lamongan atau warung sate. Tidak hanya itu dalam berpakaianpun ia tidak berlebihan, setiap kali acara formal ia tidak mengada-ada harus memakai pakaian yang wah, ia pakai yang ia punya, tidak seperti aku yang kadang masih pinjam atas nama penampilan. Sehingga dengan seperti itu ia terkesan polos, mungkin saja saking polosnya ia belum punya dosa sama sekali.
Remaja yang saat ini berusia 24 Tahun ini juga mempunyai sifat yang penyabar, tidak hanya ketika ia menjelma menjadi seorang bapak untuk 170 anak SD, namun dalam perjuangannya di IRM juga sama, pernah suatu saat sehari menjelang KSIP, sebuah program kerja unggulan di bidangnya, Sebetulnya sudah ada kesepakatan kalau hari itu seluruh panitia wajib berkumpul di Lapangan Sinangohprendeng untuk checking akhir lapangan dan gladi bersih, namun sudah berjam-jam ditunggunya ternyata belum ada lima orang yang datang padahal hari itu harus memasang spanduk, mangapling, membuat pagar dan membuat secretariat. Dengan sifat yang ramah dan penuh senyuman ia mulai pimpin teman-temannya untuk menyelesaikan itu tanpa ada rasa menggerutu sekatapun, bahkan sebagai ketua panitia ia rela mencopot bajunya, meminjam kapak dan memotong bamboo serta dibawanya sendiri ketengah lapangan. Luar biasa. Butuh proses untuk menjadi orang sepertinya.
Remaja yang memulai karirnya dengan menjadi buruh sablon di perantauan itu memang dari awal punya sifat pekerja keras dan pengertian. Pernah suatu saat semalam sebelum pelatihan jurnalistik IRM, waktu itu ia punya janji denganku untuk menyelesaikan backdrop bersama, namun aku ternyata harus tergeletak karena kehabisan tenaga selepas mendampingi PKD TM I Pekajangan dan Talun selama tiga hari. Ia selesaikan sendiri dan memintaku untuk istirahat saja karena ia berpikir bahwa besok aku harus fit karena harus sambutan. Pengertiannya inilah yang akhirnya menyalakan sumber energiku yang kemudian jam 11 malam setelah back drop jadi kita berdua segera ke Kajen.
Sifat baik lainnya masih banyak yang ada dalam dirinya yang sudah menyatu dalam kehidupannya. Didukung dengan kedalaman ilmunya dan kekreatifitasannya menjadikan siapa saja ingin bersahabat dengannya. Menjadikan siapa saja ingin menauladani kebaikan-kebaikannya. Termasuk aku yang menempatkan dirinya sebagai guru besar dalam kehidupanku. Satu kata yang selalu aku ingat darinya “Ora Pareng ndisiti kersa” ini aku tafsirkan bahwa yang namanya manusia itu harus berusaha agar ia mendapatkan yang dicita-citakannya, tidak hanya berkhayal karena yang namanya berkhayal itu berarti mendahului takdir, bukankah manusia diperintahkan Allah untuk berusaha mengubah dirinya dan kaumnya menjadi lebih baik (QS Ar Ro’du:11). Sekali lagi berusaha, bukan berkhayal. Konsep inilah yang kemudian perlu dikaitkan bahwa kita tidak boleh berputus asa karena disamping tidak menyelesaikan masalah, juga tidak ada satu ayatpun didalam al-Quran yang memerintahkan kita untuk putus asa. Oleh karena itu konsepnya sangat relevan dengan konsep “Berani Hidup bukan Berani Mati” yang biasa aku koar-koarkan.
Semoga saja bidadarinya yang masih jauh disana lekas menemuinya agar bisa lebih menyempurnakan lagi kebaikan-kebaikannya dan bisa mencipta Abdul Sukur- Abdul Sukur yang lebih banyak lagi.
Dia pasti berharap aku tidak akan menuliskan seperti ini, karena sifatnya yang rendah hati, namun aku bukan bermaksud membesarkannya, aku hanya membayangkan jika duniaku tanpanya pasti tidak akan bermakna.


Kamis, 29 Januari 2009 jam 23.00-24.00

VALENTINA ROSSA

VALENTINA ROSSA

Hari ini Rossa kelihatan murung, padahal burung-burung gereja bernyanyi riang. Kontan aja temen-temennya pada heran. Coz tuh anak gak biasannya kaya gitu. Rossa adalah ketua kelas SMU Fave 1. nama aslinya sih bukan Rossa, tapi Rosalinda. Dirasa-rasa nama nama Rosalinda tuh nyebelin banget, soalnya temen temen manggilnya ”SI BINTANG TELENOVELA”, padahal Rossa kan gak suka banget sama Telenovela. Bahkan bisa dikatakan doi adalah cewek tomboy yang feminis....loh bingung kan??? Penulisnya aja gak bisa menggambarkan , haha... so sah-sah sajakan bila dirinya menamakan sebagai ”VALENTINA ROSSA” tettereeeeet teteteeeet,...gubrak!

Teras, 09.17 am
”Ros,...kenapa sih kamu murung gitu?, lagi ada masalah ya,...?” tanya Ayusya, sebenernya pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan yang basi. Sering kali di ucapkan entah disinetron, cerpen,atau novel-novel bergenre remaja. Tapi mau bagaimana lagi kalau keadaannya memang demikian. Rossa hanya diem aja, sembari tarik nafas panjang dan sesekali menghembuskannya. Kalo ada masalah ngomong dong, kali aja aku bisa bantu” desak Ayu lagi yang punya nama Ayusya Septy Maharani.
” Hmmmmghhh,...!, temen idolaku tewas yu!” kata Rossa dengan nada datar. Ayu mengerutkan keningnya dengan penuh tanda tanya
” Siapa Ros,...Rudi, Roni, atau Andi?”.
”Bukan temen Yoga, tapi temen Rossi. Lagian siapa yang ngidolain Yoga”. Hehe...padahal dari kelas satu dulu Rossa ngejar-ngejar Yoga si bintang basket loh, tapi giliran sekarang dah jadi ceweknya biasa aja tuh.
”wow...exciting!!! kamu punya idola baru ya? Atau jangan- jangan Rosihan Anwar kelas 2.4 yang punya julukan Ocit”. Rasa penasaran Ayu tak terbendung, beberapa pertannyaan menyerang Rossa.
Demi mendengan pernyataan Ayu tadi, Rossa uring-uringan.
”nggak ada sejarahnya aku yang cantik gini ngidolain cowok macam ocit. Udah kecil, dekil, item lagi...iiih najiiis tralalaaa! Amit-amit deh”.
Itu tuh yang dinamakan tomboy feminis, meskipun casingnya tomboy, tapi ngakunya cantik. Tapi emang bener cantik ding.
” Ye...siapa bilang gak ada sejarahnya, lha wong Ande-ande lumut yang cakep aja malah milih Kleting Kuning yang jewlek dibanding saudaranya.”
”udah-udah, gak perlu dibahas, lagian itukan Cuma cerita dongeng. Mendingan kita kekantin aja sekarang,...!”
”Ross...!”.
”Apa?”
”Liat deh kesini” begitu Rossa menoleh, tiba-tiba ...
”THEEENG!!!” seru ayu sambil menjentikan jarinya kehidungnya sendiri sebagai ungkapan kemenangan atas Rossa.
”satu-kosong” seru Ayu lagi.
” Sialan,...awas loh tunggu pembalasanku,...! heheheheh!” loh kok kaya mak lampir dalam misteri gunung merapi.

Kantin, 09.21 am
Kehilangan, satu kata yang mungkin sulit untuk diterjemahkan. Tapi bukan lantaran kehilangan, Rossa jadi sedih. Justru efek dari kehilanganlah yang membuatnya sedih. Loh bukannya itu sama juga dengan efek kehilangan?. Tak taulah, Rossa sedih bukan karena kehilangan seseorang, ia hanya sedih memikirkan orang yang ditinggalkan.
”Woi,... ngelamun aja, tuh es jeruknya diminum! Yang lalu biarlah berlalu. Emangnya temen siapa sih yang meninggal?”
”Temen Rossi, pembalap motogp. Masa kamu gak tahu?”
”oh...kirain temen oc....”
Belum sempet nglanjutin kata-kata tersebut, Rossa sudah siap dengan karet gelang yang mau di jepretin ke muka Ayu.
”nyadar non, diem-diem gitu ocit juga pembalap loh!”
”haah, ocit pembalap yah bener aja!!!”
”beneran, suer. Ocit tuh pemuda berbadan gelap, hahaha...dua-kosong”
Kali ini rossa hanya diam, bener-bener diam. Hanya saja diamnya bukan menunjukkan ketenangan, melainkan amarah yang tak bisa di bendung: mungkin. Ya Rossa melotot, menampakkan taringnya yang cantik, karena justru taring yang tak setajam punya drakula itulah yang membuat senyumnya mertambah manis. Menyeringai bak srikandi (gak kejem nyebut srigala). Ayu keki juga ternyata, salah tingkah, tak ada jalan lain kecuali ambil langkah seribu. Tapi sayang, bagaimana mau ambil langkah seribu, sementara ayu masih ngutang limaribu sama ibu kantin, ketahuan ngemplang ya!!!
Melihat ayu kebingungan alis rossa yang tadinya mirip bulan sabit kembar menakutkan kini kembali datar. Seringaian yang nanggal sepisanpun (salah ya) kini kini berubah menjadi bulan separuh dan sesaat kemudian langsung purnama. Rossa tertawa ngakak. ”ketipu,,,,!!!, Dua-Satu”
”ah kamu nakut-nakutin aja,.....! tapi syukurlah kamu bisa tertawa lagi”
” iya... itukan berkat Ayu. Oleh karena itu nih tak kasih foto idolamu,kamu memang sahabatku yang pualinggggg baik..Mwah!!!!(ih norak ah)
Ketika di buka ternyata selembar uang limaratusan.


DAIJIRO KATOH IN MEMORIAM, 2003

GEORGY PORGY

GEORGY PORGY…..YA ENGGAK LAH……..!

Sabtu kemarin, siang gak begitu panas karena matahari sedang asik bermain dengan awan. Atik ketawa sendiri melihat matahari ber-cilukba-ria, sambil mendengarkan lagu Ciluk Baa yang dinyayiin oleh Maisy, maklum, Atik Lagi Kepengen mengingat masa lalu yang hampir-hampir dilaluinya tanpa adanya beban. Memang nostalgia memberikan kenyamanan tersendiri bagi seseorang, itung-itung sebagai refresh saat mengerjakan Skripsi.
Masih terlintas jelas ketika ia pertama masuk TK, SD, SMP, berbeda jauh ketika masuk SMA, dan masuk perguruan tinggi yang pakai acara perploncoan segala. Sampai sekarang Atik gak ngerti maksud kegiatan tersebut, hebatnya apa kaya sekolah negara saja. Padahal pas udah jadi pelajar beneran juga belum tentu serius belajar. Nggak terus jadi hebat, kuat mental,dan tahan cobaan, terus terang kebanyakan malesnya. Apa sih tujuan program seperti itu diadakan? jawaban mereka sudah pasti begini “soalnya agar para siswa nantinya cinta pada sekolah ini, mentalnya kuat. Inikan sebagai tes mental. Sebagai cobaan. Supaya begini, agar begitu…..bla-bla-bla” padahal tes mental yang sebenarnya ada pada kehidupan yang sedang kita jalani. Bagaimana kita menghadapi segala cobaan yang menerpa pada diri kita. Itu baru namanya tes mental! Bukan seperti Ospek, Mapras, PPS, atau Masta. Norak! Yang ada di kegiatan tersebut cuma sandiwara belaka, kepura-puraan, gila hormat, gila perhatian. Memerintah ini-itu, marah-marah, membentak-bentak tanpa alasan yang jelas (pura-pura galak ni yee!). Memangnya nggak ada cara lain apa.
Ada juga yang bilang sebagai perkenalan antara senior dan murid baru. Kalau Cuma itu sih nggak perlu pakai push-up, muka dicorang-coreng kayak Josh Harnet dalam Film Black Hawk Down atau seperti Naruto Uzumaki. Puncak kegiatan pada malam hari, mereka menamakan malam itu sebagai malam keakraban dimana seakan-akan dunia di balik, gantian peserta membalas kekejaman panitia. Tapi anehnya gak ada satupun yang komplain. Mereka memaafkan begitu saja. Itupun masih dimarahin juga, kesal kali ya, sandiwaranya berjalan gak sesuai sekenario.
Hal semacam itu juga yang terjadi ketika pertama masuk perguruan tinggi yang mereka beri nama OSPEK, PPS atau MASTA, paling itu-itu aja sama seperti di SMA.
Tiba-tiba saja dikagetkan oleh suara “BRAK…!”. Untung jantung Atik gak copot…hehe… emang robot? Robot aja gak ada jantungnya. Gak biasanya Occa pulang segitu garangnya, meskipun ia punya senyum drakula,dengan dua taring indahnya. Senyum itu bukannya nyeremin tapi malah bertambah manis. Occa tak pernah lupa mengucap salam ketika masuk rumah, tak pernah juga membanting pintu segitu kerasnya. Belum lagi ketika masuk kamar,ia kembali membanting pintu, hingga gantungan pintu yang bertuliskan ”OCCA CUTE” bergoyang beberapa kali.
Atik nggak habis pikir, sebenarnya apa sih yang ia permasalahkan, guru, tugas sekolah, teman, keluarga. Sepertinya tidak, kalaupun iya, permasalahan itu takkan mampu merubah kesantunan Occa.
“Assalamu’alaikum, Occa, boleh kakak masuk?” Tanya Atik sambil mengetuk pintu.
“kum salam, masuk aja!” jawab Occa masih sedikit dongkol.
“emang Occa kenapa ?, tidak seperti biasanya”. Tanya Atik selembut mungkin.
“Nggak ada apa-apa kak!” jawab Occa sembari menunjukan separuh senyum untuk menghilangkan kesan dongkolnya.
“Syukurlah, tapi gak mungkin loh kalo gak ada apa-apa.” Selidik Atik “ ada apa sih?”
“Ada udang di balik batu” jawab Occa sekenanya.
“Tangkap aja,lumayan bisa buat lauk” keduanya saling tertawa.
“Kak, sebenernya Occa masih sebel ni sama ketua IPM di sekolah. Mentang-mentang jadi ketua kalau nyuruh-nyuruh gak bisa ditawar. Makanya temen-temen bilang dia tuh kayak pensil, gak ada toleransinya sama sekali. Udah gitu dia selalu bilang,” tugas seperti itu kan ringan, masak nggak mau? memalukan” sebenarnya sih bukan masalah berat atau ringan, tapi perasaan!”
“Wah adekku dah gede nih!dah bawa-bawa perasaan segala….”
“ Ih kakak, apaan sih!”
“Hayo ngaku…” ledek Atik
“Kakak…” teriak Occa manja sambil mukul kakaknya dengan bantal bermotif Minnie mouse
“Maksudnya gini, pada upacara senin depan aku di daulat untuk membaca teks janji pelajar Muhammadiyah”
“Bagus dong, memang apanya yang berat?”
“Memang gak ada beratnya kalau sekedar membaca, tapi konsekwensinya…..” kata Occa masih menggantung, seolah-olah mengajukan pertanyaan pada kakaknya tentang konsekuensi dari janji pelajar tersebut. Memang, Occa bukanlah gadis biasa. Dulu semasa SD Occa sudah terbiasa tampil dimuka umum baik sebagai mayorete Drumband Surya Gita Swara atau jadi panitia PHBI (Peringatan Hari Besar Islam)
“Coba kakak cermatin, berat bangetkan?” kata Occa sambil menyerahkan teks janji pelajar Muhammadiyah

JANJI PELAJAR MUHAMMADIYAH
1.Menegakkan dan menjunjung tinggi perintah agama Islam
2.Homat dan patuh pada orang tua dan guru
3.Bersih lahir batin dan teguh hati
4.Rajin belajar, giat bekerja serta beramal
5.Berguna bagi masyarakat dan Negara
6.Sanggup melangsungkan amal usaha Muhammadiyah

Layaknya Shinichi Kudo (itu loh detektif conan sebelum minum APTX 4869) dengan tangan kanan mengepal, sementara ibu jari menopang dagu dan telunjuk ditekuk menyentuh ujung hidung. Sementara tangan kirinya memegang teks janji pelajar Muhammadiyah.
“sepertinya tidak begitu berat bagi Occa. Coba, bagian mana yang berat bagi Occa?
Menegakkan dan menjunjung tinggi perintah agama Islam, sebagai pelajar Muhammadiyah harus senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjahi larangan-larangan Allah bukankah Occa sudah melakukannya?.
Hormat dan patuh pada orang tua dan guru, orang tua adalah orang yang melahirkan, mendidik, dan mengasuh kita dari kecil. Terlebih ibu. Bahkan dalam surat Al-Isra’ ayat 23 di tegaskan bahwa kita tidak boleh berkata “AH”. Kalo berkata ah saja tidak boleh, apalagi membantah atau menghardik. Nyatanya Occa gak pernah membantah orang tua atau guru kan? Bagaimanapun juga guru adalah orang tua Occa di sekolah.
Bersih lahir batin dan teguh hati kita harus bersih baik fisik maupun hatinya, positif thinking men kata Atik menunjukkan tiga jarinya.” gak kayak kamu, jelek-jelekin ketua IPMnya”
“Jadi Occa gak pantes ya baca teks janji pelajar Muhammadiyah”.
“Eh…bukan gitu. Kakak yakin Occa Cuma kesel sama ketumnya. Tapi sekarang dah gak lagi kan?” Lanjut ya…selain positive thinking, kita juga harus optimis dalam menghadapi sesuatu. Tidak goyah dalam aqidah. Sekarang banyak loh aliran-aliran sesat. Tapi kalo Occa gaulnya ma anak-anak SDInya IPM insya Allah aman.
Rajin belajar, giat bekerja serta beramal. Rajin belajar tidak hanya di sekolah saja, rajin ke perpustakaan, ikut kajian GJDJnya SDI IPM baik di sekolah maupun di ranting desa, itu sudah termasuk belajar. Giat bekerja serta beramal bukan hanya bekerja yang menghasilkan uang saja, atau beramal dengan materi semata, Occa ikut IPM juga termasuk bekerja, bukankah yang namanya organisasi itu adalah kumpulan beberapa orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan yang sama, disitulah lahan kerja dan amal Occa.
Berguna bagi masyarakat dan negara secara tidak langsung ketika Occa aktif di IPM sudah termasuk berguna bagi masyarakat dan negara. Lihat saja kegiatannya, baik perkaderan, bakti sosial,atau seminar-seminar dalam rangka ikut mensukseskan program pemerintah.
Sanggup melangsungkan amal usaha muhammadiyah, IPM sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha muhammadiyah, kamulah yang akan melanjutkan perjuangan muhammadiyah 20 tahun mendatang,ya dimulai dari sekarang ini. Itu adalah tugas mulia.
“Apa yang masih Occa khawatirkan? Mungkin Abu jahal tidak mau mengucap dua kalimat syahadat karena tahu konsekwensi yang harus dijalani yaitu meninggalkan tuhan selain Allah. Sementara apa yang Occa khawatirkan ketika janji pelajar yang Occa ucapkan sudah dilaksanakan”.
“Gimana? Masih mau nolak tugas itu? Berarti Occa tidak ber ke-IPM-an dong!”
“Ya enggak lah…..masak ya enggak sih!” kata Occa sambil menggerakkan kepala dan kedua tangannya seperti salah satu gerakan dalam senam Indonesia Sehat.
***
Sebuah masalah seperti halnya air mengalir,ia akan selalu mencari celah untuk masuk dalam pribadi masing-masing, silih berganti, datang tanpa diundang dan pergi tanpa permisi, satu terselesaikan, datang lagi masalah lain yang berlipat ganda. Tapi hal itu takkan menjadikan kita larut dalam permasalahan tersebut. Anggap saja masalah yang menimpa sebagai tryout dalam menghadapi ujian kehidupan. Seperti halnya kita belajar mati-matian menghadapi UASBN yang secara tidak langsung kita menamakannya Macan. Bukankah UASBN hanya menentukan hasil dari tiga tahun kita belajar kenapa mesti takut menghadapinya, lalu bagaimana dengan ujian kehidupan yang sesungguhnya.
Masih saja pikiran-pikiran seperti itu menerawang, ada rasa kepuasan tersendiri ketika bisa bermanfaat bagi orang lain. Bukankah Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Tidak berlebihan juga bila dalam janji pelajar muhammadiyah ada teks yang berbunyi berguna bagi masyarakat dan negara.
Atik selalu saja begitu, menjelajah waktu. Bukan berarti Atik ingin seperti Doraemon atau Nobita yang bisa dengan seenaknya menjelajah waktu dengan mesin waktu yang ada di kantong ajaibnya. Hahaha disatu sisi film kartun membuai anak-anak bahkan seorang mahasiswa sekelas Atik, banyak anak-anak yang males ngaji karena gak mau ninggalin film kartun favoritnya. Tapi siapa sangka disisi lain film kartun menyumbangkan inspirasi bagi kemajuan teknologi, nyatanya HP 3G (baca: tri ji) sudah ada sejak jaman Kura-Kura Ninja.

I’ve become so numb, I can’t feel you there, become so tired, so much more aware………..

Vokal Chester Benington menghentak keras dari kamar Ikal, tapi sekeras-kerasnya tape recorder, gak bakalan bikin mangga tetangga sebelah pada jatuh. Maklum anak SMK Audio video jadi home theaternya dibuat sedemikian rupa sehingga ngalahin sepeker masjid.
”Ikal, kalau nyetel tape jangan ngganggu tetangga sebelah dong!” Cegah Atik pada Ikal. Bukan karena rambutnya ikal, tapi karena memang nama aslinya Haikal.
“Bukan maksud ngganggu tetangga sebelah, tapi gimana lagi, namanya juga lagi marah”.
“Tapi kalau marahnya sampai ngganggu tetangga bukan termasuk orang yang beriman loh!”,
PRANG!!!!! Gantian jam dinding yang jadi sasaran
“Heeeeh, dibilangin juga. Dari pada marah-marah, nih benerin radio ajah”.
Pelampiasan kemarahan seseorang memang berbeda-beda, ada yang secara frontal, diam seribu bahasa, atau bahkan banyak makan, bias juga sebaliknya nggak doyan makan. Tapi yang namanya marah tetep aja nggak ada untungnya.
“Oh, jadi masalahnya nggak pede toh jadi ketua panitia fortasi, suka grogi kalau tampil di muka umum. Tampil di muka umum memang butuh nyali gede, emang sih ada beberapa orang yang kepedeannya tinggi dari sononya. Pede tuh gak menclok begitu aja, ia tumbuh dari pengalaman. Orang bilang, orang yang biasa berhasil pasti punya kepercayaan diri tinggi tapi pengecualian tetep aja ada, kaya kamu tuh. Meskipun jarang sekali gagal pedenya juga gak naik-naik”.
“Itu terjadi karena cara kita memandang kegagalan maupun kesuksesan yang terjadi pada diri kita”.
“Kita…elo aja kalee gue enggak”!
POK!!! satu pukulan lembut mendarat di kepala Ikal ”cowok si cowok, demen mama mia juga ternyata!”
“Aduh…ye sirik, suka - suka gue dong!” gitu deh kalo Ikal keliatan aslinya, maklum anak laki atu-atunya.
“Maksudnya cara memandang, pake lups atau mikroskop kak?” Tanya Ikal sambil bengong.
“Pake sedotan!, maksudnya adalah memandang penyebab kesuksesan maupun kegagalan pada diri kamu, itu yang disebut Locus of Control. Misalkan ketika kamu menghadapi ulangan nih, kamu dah belajar dengan keras, dan nilai kamu bagus. Kamu bilang kabegjan (bejo/untung) berarti kamu pake eksternal locus of control. Artinya penyebab kesuksesan atau kegagalan ditentukan oleh pihak luar.
Beda lagi ketika gagal padahal dah belajar sekuat tenaga kamu bilang tidak belajar. Padahal gagalnya disebabkan karena demam, itulah yang disebut Internal Locus of Control yaitu memandang kesuksesan atau kegagalan disebabkan oleh diri sendiri”
“Jadi solusinya….”
“Solusinya ya kamu harus adil dalam menggunakan locus of control tersebut. Kalo memang itu kesuksesan datang dari kamu, ya akui saja. Begitu juga dengan kegagalan. Jadi tidak menyalahkan diri sendiri maupun orang lain. Jangan mencari kambing hitam lah. Iya kalo kambing yang warnanya hitam, bisa buat korban tuh!”
“Kok nggak nyambung ya?” sambil garuk-garuk kepala
“Ya udah kalo memang gak nyambung, gak usah disambung - sambungin. Ntar malah korslet lagi!”
“Emangnya kabel min plus?”
“Yang terpenting, mulailah dari diskusi kelas yang ringan – ringan aja dulu, sampaikan pendapat atau gagasan. Bila georgy porgy muncul, tarik nafas dalam-dalam, tahan sampai keluar dengan sendirinya. Dijamin georgy porgy pergi karena bau. Hehehe….!
“Gak lucu, eh emangnya georgy porgy apaan si kak? ”
“Grogi tauk? Ayo mulai latihan, ngomong sama cermin. Untuk mengontrol emosimu tarik nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Ikal, kamu bukan anak kecil lagi kan. Ben Parker (pamannya Petter Parker) bilang kekuatan besar menuntut tanggung jawab besar. Lakukan perubahan dari diri sendiri, dari hal yang terkecil, dan pada saat ini juga. Gimana?”
“Georgy porgy,…ya enggak lah, masa ya toyibah….!”

qolamul_ghozi@yahoo.co.id

*) Cerita ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama maupun cerita, anggap saja disengaja.

Inspirated : - Hilman, serial LUPUS “cinta olimpiade”1987,Gramedia Jakarta
Abigael Wohing Ati, Georgy Porgy, itu soal nyali!,Koran Remaja tren,semarang.
Dan pembicaraan dengan beberapa personel PD IRM.
Thanks 4 ol
***


Minggu, 15 Januari 2012

KSATRIA BOCAH HITAM LX

KSATRIA BOCAH HITAM LX

“Keyakinan belum tentu sepenuhnya benar, tapi kebenaran perlu diyakini sepenuhya”



Sumber dari segala sumber konflik di negara kita salah satunya adalah keyakinan. Setiap individu punya keyakinan sendiri-sendiri yang dianggapnya benar. Bahkan demi mempertahankan keyakinannya seringkali manusia berlaku tidak adil. Menghujat, menghakimi, dan menyalahkan orang lain yang berbeda dengan dirinya maupun kelompoknya. Agaknya manusia mulai sadar, bahwa hidup di negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika mesti memahami perbedaan. Mungkin kesalahan pendidikan ditingkat paling dasar; yaitu keluarga, anak-anak telah diajari bersaing dengan yang lain, menghalalkan segala cara untuk menang, bukan bekerjasama. Dengan demikian sebab kegagalan diri selalu ditimpakan pada orang lain.



Perbedaan warna kulit di negara lain misalnya telah menempatkan seseorang lebih tinggi dan lebih rendah dari yang lain. Padahal menilai seseorang bukan dari fisik saja, bukankah Bilal bin Rabbah sama derajatnya dengan Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, karena derajat seseorang dilihat dari ketakwaannya.



Seperti yang terjadi di negara Matalari Tertib, Pangeran Matalari; Ketoro Minamin, sang Ksatria Bocah Hitam LX punya anak yang berkulit hitam dan biru. Mestinya Ksatria Bocah Hitam hanya kostum saja, tapi yang ini benar-benar menurun pada kulit sang anak. Kalau kita lihat Ketoro Minamin yang berkulit putih, mestinya anak nya juga putih, Di negara Matalari Tertib tak ada satupun orang yang berkulit hitam. Apalagi dua anak yang lahir hampir bersamaan mempunyai kulit yang berbeda. Karena keanehan tersebut, mereka diusir dari negaranya dan singgah di negara ini, Negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika yang katanya masih saudara muda.



Meski bersaudara, mereka mempunyai sifat yang berbeda. Bocah Biru bersifat agresif, suka marah, makanya dia disebut sebagai Pangeran Kemarahan LX BIYU (maklum anak-anak, belum fasih mengucap kata biru). Bocah Hitam yang minder sering meratapi nasibnya, berlarut-larut dalam kesedihan, tapi justru ketika mengalami kesedihan yang teramat sangat, dia punya kekuatan yang luar biasa, dan suka mengembara untuk mencari makna hidup yang sesungguhnya, makanya ia disebut Pangeran Kesedihan LX SOBO (Sobo dalam bahasa Jawa artinya berkelana).



Lama mereka berpisah meski masih satu negara. Akhirnya mereka dipertemukan kembali di sebuah mushola, musholanya para super hero. Di situlah mereka menetap. Sebagai seorang pengembara, Sobo tahu persis arah kiblat yang sesungguhnya. Hal ini didukung pula dengan kedalaman ilmunya yang ia dapat dari negara asalnya. Melihat kondisi mushola yang tidak pas arah kiblatnya, Sobo menyampaikan kepada Biyu. Dasar Biu seorang agresif, pada malam itu juga lantai mushola digaris dengan spidol meski Sobo sudah mencegahnya.

“Tidak semudah itu menyampaikan kebenaran, kita perlu musyawarah dulu dengan super hero lain”

“Tidak perlu, toh mereka buta akan hal ini. Kalau mereka tanya, kita tunjukkan buktinya” begitulah keras kepalanya Biyu.



Esoknya, jamaah subuh dikejutkan oleh garis shof yang miring 23 derajat dari kondisi semula. Robocop mencak-mencak, ia merasa dilecehkan. Bahkan mungkin kalau Ironman masih hidup bakal jadi perang di mushola itu. Dengan besar hati, Sobo mulai menjelaskan hal ihwal munculnya dua garis miring tersebut

“Mohon maaf sebelumnya mbah Robocop, tak terkecuali para jamaah. Munculnya garis ini memang kami sengaja, kami hanya mempraktekan ilmu yang sudah kami dapat” belum selesai bicara langsung dipotong oleh Robocop.

“Lancang kalian! Kalian pikir saya orang bodoh? Mushola ini sudah saya ukur dengan alat yang paling canggih. Kalian mau coba merubahnya? Kalian pikir kalian ini siapa? Kalian hanya bocah, bocah wingi sore, yesterday afternoon boy. Ilmu kalian belum ada apa-apanya dibanding saya”

“Sekali lagi kami mohon maaf, kami memang salah, melakukan hal ini tanpa musyawarah, tetapi dengarlah, mushola ini kiblatnya ke arah negara perompak. Coba perhatikan, miring 1 derajat saja terjadi penyimpangan sejauh 183 Km, apalagi sampai 17 derajat” Sobo mencoba menjelaskan.

“Ah yang penting kan niatnya, nawaitunya mustaqbilal qiblat, gusti Alloh yang tahu. Tak perlu dengan alat, alat itu buatan manusia, bisa juga salah”

“Maaf mbah, tadi mbah adzan shubuh kok tepat waktu, mbah tahu dari mana?”

“lhah, lihat jam dong!”

“Jam juga buatan manusia kan mbah?”

“####!!!!$$$$?????”

“Perlu jamaah ketahui, bahwa lempengan bumi kita telah bergeser, sehingga arah kiblatpun bergeser. Mbah Robocop tidak salah, waktu beliau menentukan arah kiblat sudah benar, namun...”

“Ya ya ya.... jadi begitu ya?”

“Ya, sayapun belum tentu benar, tapi sebagai makhluk yang berakal, kita selalu mencari kebenaran atas dasar ilmu. Ilmu agama penting, ilmu dunia juga penting. Kita hanya berusaha berijtihad, benar atau salah biar Alloh yang menilainya. Yang jelas ketika ijtihad kita salah, kita masih mendapat satu pahala”

Penjelasan Sobo tadi cukup menenangkan jamaah, namun masih menimbulkan tanya bagi Biyu.

“Bo, memangnya sampai sejauh itu dampak pergeseran bumi?”

“Ah, tidak juga. Sebetulnya ini masalah klasik. Di negara ini sudah ada orang yang mempelopori lebih dulu jauh sebelum negara ini merdeka. Namun orang-orang pada saat itu masih terlalu kaku dalam menerima pendapat orang lain, bahkan tega-teganya sampai merobohkan mushola yang dibangun karena beda arah kiblatnya”

“Emang kalo dipiki-piki, masalah di negara ini kok gada abis-abisnya ya Bo?”

“Ember....!”lanjut Sobo

“Bagaimana bisa negara yang berbhineka tunggal ika masih saja terjadi konflik”

“Antar suku, agama, ras, dan golongan” Sobo menambahkan.

“Jangan-jangan negara ini belum sepenuhnya merdeka, Bo?” kata Biyu

“Bagaimana kalau kita jajah lagi, Yu?”

“Yuk mari!”

Ui...ui...ui...! Tantib, Satpol PP, Razia.....Ui...Ui...Ui....

“Bo...tunggu akika Bo....”

“Aduh jatuh!”

“Sepokat gue lepas nih!”





Ketoro Ngarange, @01.25a.m. Dec, 28th 2011

Selasa, 10 Agustus 2010

IRONMAN

Kisah superhero jauh dari pakem yang sesungguhnya
IRON MAN

“Hidup tanpa kritik, layaknya makan tanpa krupuk.
Hidup penuh kritik seperti kuda lumping makan beling”

Sebuah kritikan sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Tanpa kritik mungkin hidup ini datar-datar saja, tak ada kemajuan yang berarti, bahkan bisa jadi justru lepas kendali. Kendati demikian hidup penuh kritik bukan berarti lebih baik, bisa jadi justru menghambat kemajuan itu sendiri; stagnan.
Di sebuah desa, desanya para Super Hero hiduplah macam-macam Super Hero dari golongan hewan. Saya tidak tahu kenapa lebih banyak hewan yang menjadi Super Hero, bukan manusia. Padahal di situ adalah desanya para manusia. Sebut saja mereka Batman, Robin, Spiderman, Scooby, Silver Hawk, Thunder Cats sekeluarga (Lion-o, Cheetaraa, Phantero, Tigra, dkk), Batgirl, Catwomen, dkk. Sesuai namanya meskipun mereka Super Hero tetap saja punya sisi ke-binatangan-nya. Misalnya; batman yang suka keluar malam, Robin suka berkelana, Spiderman suka merayap dan menunggu mangsa ia tidak mau susah-susah tinggal pasang jaring saja. Tanpa disebut satu per satu, silahkan dipikir sendiri sisi kebinatangan mereka masing-masing.
Selain binatang, disana hidup juga Super Hero yang memang dari golongan manusia. Sebut saja Ironman, Robocop, Zoroo, Robin Hood, Superman, wonder women dkk.
Dalam film, Ironman maupun Robocop sama-sama manusia yang berbaju besi jadi tidak heran bila mereka punya sifat yang sama: keras kepala. Zoroo dan Robin Hood juga hampir sama, sama-sama merampok orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada fakir miskin. Yang paling berbeda justru Superman, dia bukan manusia super seperti dalam cerita, dia hanyalah seorang super angkot saja.
Suatu hari mereka berencana membuat sebuah mushola. Saya salut atas usaha mereka. Meski mereka bukan manusia seutuhnya, tapi mereka berusaha untuk menyembah sang pencipta. Pada rapat yang pertama, muncul beberapa usulan, Spiderman mengusulkan untuk penggalangan dana pasang jaring saja, bisa di jalan, di pasar, atau di keramaian. Menurut Batman yang punya kemampuan ekolokasi ia akan terjun langsung meminta donator masyarakat. Sedangkan Robin mengusulkan untuk mencari dana bantuan pemerintah, kebetulan ia juga aktivis LSM jadi punya banyak link di pemerintahan.
Rapat pertama berjalan lancar, begitu pula tindak lanjutnya. Mereka bekerja sesuai jobnya masing-masing.
Konflik mulai muncul ketika pondasi mushola mulai dibangun. Ironman mencak-mencak gara-gara galian pondasi masuk pekarangannya. Terlebih Zoroo yang dituduh menggali tanah tersebut. Syahdan, pada saat itu juga Zoroo bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di mushola itu sebelum Ironman mati. Agaknya tidak hanya Sudah menjadi sifat dasar Ironman, dia laksana setrika, haus pujian, ia menganggap bahwa baju yang rapi karena jasanya, tanpa melihat jasa detergen, air, ember, dan alat-alat lain pada saat mencuci. Ia tidak berfikir nantinya mushola untuk siapa yang jelas ia ingin berdirinya mushola itu atas jasanya. Bagaimana masyarakat akan menilai seperti itu kalau pekarangan yang tergali saja membuatnya mencak-mencak.
Ditengah pembangunan ternyata mushola itu kekurangan kayu. Dengan mudah Robinhood menjarah hutan jati milik pemerintah, dia pikir inikan bukan untuk kepentingan pribadi, jadi sah-sah saja. Sementara Superman membantu mengangkut kayu-kayu itu. Pembangunan dilaksanakan secara cepat oleh kawanan Thunder Cats dan pemasangan atap dilakukan oleh Silver Hawk. Super Hero wanita seperti Batgirl, Cat women dan Wonderwomen menyediakan konsumsinya.
Mushola sudah jadi, mereka kebingungan untuk menentukan siapa muadzin, dan imamnya. Semua menolak, Super Hero perwakilan dari binatang mengusulkan untuk jadi imam dari golongan manusia saja karena manusia lebih sempurna dari mereka. Untuk muadzin mereka mengusulkan Scooby yang suaranya keras.
Tanpa ditunjuk, Ironman langsung mengajukan diri. Ia paling sempurna diantara super hero lainnya, terutama dari golongan manusia. Zoroo dan Robin Hood, mereka adalah pencuri mana mungkin jadi imam. Robocop juga sebetulnya sudah mati tapi dihidupkan lagi tidak mungkin solat dipimpin oleh mayat. Wonder woman jelas tidak mungkin, emansipasi wanita tidak berlaku dalam hal ini. Sementara superman menolak, cukup ia jadi super angkot saja tidak mau jadi super mushola.
Formasi ini berlangsung selama bertahun-tahun. Ironman sebagai imam dan Scooby sebagai muadzinnya berjalan lancar tanpa ada kendala. Hingga suatu ketika, entah mengapa Ironman tidak muncul juga padahal sudah lewat 15 menit adzan maghrib berkumandang. Akhirnya jama’ah mendaulat Scooby untuk jadi imam. Entah bagaimana ceritanya surat al-Kafirun yang dibaca pada rokaat pertama tidak selesai-selesai, muter-muter tak sampai sampai, membuat jama’ah tertawa terpingkal-pingkal. Solat jamaah rusak, Scooby malu, ia bersumpah tak kan lagi solat berjamaah sebelum Ironman dimakan cacing tanah.
Sudah dua super hero yang lari dari jamaah, zoroo dan Scooby. Peristiwa itu memang sungguh memalukan bagi Scooby ditambah dengan kemarahan ironman membuat suasana menjadi tambah panas selaksa setrika. Scooby dan jamaah kena marah. Esokna jamaah semakin berkurang. Hanya superhero kecil yang sesekali menggantikan adzan dengan suara putus-putus, itupun dilakukan karena tak ada yang menjadi muadzin. Lagi-lagi kena marah, bahkan tidak hanya dari ironman saja, Robocop ikut-ikutan memarahinya. Superhero kecil malas ke moshola, orang tuanya juga.
Sekarang tinggal Ironman dan Robocop yang semakin renta saja yang jamaah. Kadangkala muadzin dan imam didominasi mereka berdua meskipun jamaah tak sampai satu shof penuh. Sementara yang muda kadung kecewa dengan sikap Ironman dan Robocop kepada mereka semasa belia.
Mushola kecil yang dibangun atas kebersamaan, kerukunan antar manusia dan binatang kini telah kehilangan ruhnya seakan-akan mushola itu hanya milik Ironman dan Robocop saja. Ironman mulai sakit-sakitan, Robocop yang ambil kendali, kini ia sadar bahwa melarang anak-anak adzan menyusahkan dirinya sendiri karena tak ada lagi yang mengganti.
Hari itu, tepatnya malam rabu Ironman meninggal dunia. Tak ada duka maupun tangis, tak hanya rela tapi perasaan lega bahkan diselingi kutukan-kutukan dari masyarakat lainnya. Selepas itu jamaah semakin banyak, orang-orang kembali ke mushola, Scooby, Zorroo telah kadaluarsa masa sumpahnya. Ironman telah mati, jamaah mushola ramai kembali.

Depan Baiturrohman, akhir Sya’ban 1431 H

Ada yang bisa dipetik dari cerita tadi? Silahkan dikomentari. Matur nuwun

Senin, 01 Februari 2010

BOM DI MAM PEKAJANGAN

BOM DI MAM PEKAJANGAN
Sebuah nostalgi sepuluh tahun silam

Jauh sebelum ada bom di Legian Bali 12 Oktober 2002 silam, Hotel J.W. Mariot 5 Agustus 2003, bahkan baru baru ini hotel itu kembali jadi sasaran pemboman. MAM Pekajangan, sekolah yang dikelilingi pohon kelapa dan pohon mangga sudah lebih dulu jadi sasaran BOM.
Masih teringat jelas di benakku ketika aku memutuskan sekolah di MAM Pekajangan Jujur itu bukan pilihanku. melihat jarak yang cukup jauh, lagi pula aku tak begitu tertarik. Bukan karena bukan sekolah favorit, bahkan terlalu favorit Sebelum bermetamorfosis menjadi MAM Pekajangan, Madrasah Mualimien Muhammadiyah adalah sekolah yang sangat terkenal di berbagai penjuru. Entah mengapa bisa berubah menjadi Madrasah Aliyah. Mungkin karena tuntutan zaman. Apalagi di zaman seperti sekarang ini orang tak lagi memikirkan masalah pendidikan Agama, sehingga keberadaan Madrasah Aliyah termarjinalkan dari sekolah-sekolah umum. Ditambah dengan dukungan pemerintah secara besar-besaran tentang Sekolah Menengah Kejuruan, sehingga tumbuh kembang SMK laksana cendawan dimusim penghujuan. wah wah, sepertinya akan ada produksi buruh secara besar-besaran nih. Bukankah iming-iming dari SMK adalah lulus langsung kerja, benar-benar deh!
Tapi saya yakin kemunculan SMK-SMK Muhammadiyah di Kabupaten Pekalongan akan menjadi aset tumbuh kembangnya kader-kader muda Muhammadiyah yang siap menjawab tantangan zaman, tidak sekedar menjadi buruh di perusahaan asing, ketika habis kontrak kembali menjadi pengangguran. Saya yakin output dari Sekolah Muhammadiyah lebih unggul dari sekolah lain, meskipun tidak mesti ditulis diatas kertas sebagai tolak ukur lulus atau tidaknya seseorang. Nilai tetap saja nilai, hanya angka-angka di atas kertas saja.
Terlepas dari favorit atau underdog, mungkin ini memang jalan Tuhan. waktu itu tak pernah terpikir dibenakku untuk sekolah lagi, meskipun DANEM SMP ku tergolong tinggi. ya... semula aku ingin sekolah di SMA Negeri Doro saja. Saya berpikir untuk biaya harian saja, kalau sekolah dekat banyak keuntungannya. yah paling tidak bisa berangkat naik sepeda meskipun gak punya uang saku. Tapi ternyata keinginanku tak sejalan dengan pikiran bapak. Menurut bapak, dari pada sekolah di SMA Negeri lebih baik mondok saja. Wah, kalau ini justru sangat jauh lagi dari bayanganku semula. Rasa-rasanya masih ada trauma yang tinggal di benakku ketika masih di SMP 4 Kedungwuni (sekarang SMP 3) dihukum berdiri didepan kelas gara-gara tidak hafal 20 sifat wajib bagi Allah, padahal pada waktu saya di MIM Kutosari, sifat wajib bagi Allah ada 13. Gak kebayang deh kalau sampai mondok, harus berapa kali dapat hukuman?
Melihat teman-teman sibuk mendaftar kesana kemari, saya hanya diam diri di rumah. Menimbang harus mondok, madrasah, atau tidak sekolah sama sekali. Pernah terlintas untuk tidak sekolah saja. Terlebih ketika mendengar bahwa waktu pendaftaran telah usai. Semua sekolah sudah menutup pendaftaran, memang tahun itu waktu pendaftaran sangat singkat. Mungkin bersamaan dengan pelaksanaan pemilu 1999. tapi ternyata sekolah yang satu ini tak ada batas pendaftaran. bahkan setelah mendaftar saya langsung disuruh berangkat tanggal 17 Juli 1999 langsung memakai seragam SMA.
Hari pertama masuk sekolah, kami sempat kebingungan, pasalnya dimana-mana anak yang baru masuk sekolah masih memakai seragam biru putih, sementara kami langsung mengenakan seragam SMA seperti pada umumnya. Sekolah tanpa pagar bumi telah menanti, ya benar-benar tanpa pagar bumi maupun gerbang sekolah. Hanya pohon mangga dan pohon kelapa yang berdiri megah mengelilingi sekolah itu, menyiratkan sebuah keluasan. Luas fikir, luas amal dan luas segalanya. Nyatanya aku bisa leluasa sekolah disitu.
Tahun pertama aku jalani dengan semangat yang membara. Entah karena masih terbawa nostalgi masa lalu atau iklim belajar yang berbeda. Sungguh luar biasa, sekolah ini masuk lebih awal dari sekolah lain yang umumnya masuk jam 7 pagi. MAM Pekajangan masuk pada pukul 06.45 dengan alokasi waktu 15 menit untuk tadarus Al-Qur’an, mungkin karena inilah siswa-siswi di MAM Pekajangan hampir tidak ada yang nakal. Saya benar-benar merasakan hal yang berbeda di sekolah ini. Meskipun,...yang namanya remaja tetap saja ada keusilannya.
Pernah sekali waktu pada saat pelajaran matematika, kebetulan gurunya galak banget, kata temen-temen sih.... tapi bagiku tidak, beliau termasuk salah satu guru favoritku. Sebut saja bu DK, nama aslinya sih Dewi Kartika. Bu DK juga guru SMA 3 Pekalongan pada saat itu. Yah....tadarus yang biasanya hanya 15 menit, dibuat sampai setengah jam membaca surat Yasiin.
Pada jam olah raga, pak Tri Martono yang mengajar. Kebetulan musim hujan, olah raga sepak bola di lapangan becek. Wal hasil, setelah itu semua anak laki-laki mbolos. Tapi kembali lagi ke sekolah pada jam ke-7 setelah semua pakaian kering. Atas kejadian itu, tidak ada lagi pelajaran olah raga untuk kami sampai kami kelas III, sebagai gantinya, setiap hari Rabu pulang lebih awal.
Pak Sunaryo Slamet, guru Fisika dan Kimia juga tidak lepas dari keusilan siswa, beliau lebih suka memandang ke bawah ketika mengajar sehingga sering di usili murid-muridnya. Padahal menurut saya itulah bentuk dari gadhul bashar beliau kali ya, mengingat beliau masih lajang, takut kecanthol muridnya kaleee...
Bu Nur Tavifah guru bahasa Indonesia kami, juga guru bahasa Indonesia di SMA Muhammadiyah 2 Pekalongan ketika mengajarpun tidak begitu diperhatikan oleh siswa lain. Tapi bagiku asik kok mendengarkan bu guru berbicara bahasa Indonesia berlogat Tegal.
Pak Shodiqien Syafi’ie guru Sosiologi dan biologi agaknya guru yang paling disukai murid-muridnya, dengan metode pembelajaran yang berbeda membuat siswa asik dalam belajar Sosiologi. Adapun pada saat pelajaran Biologi, saya merasa lebih senang lagi karena mendapat dispensasi tidak mencatat materi pelajaran, ya karena aku diberi tugas khusus menggambar anatomi hewan atau penampang tumbuhan untuk tugas kuliah beliau.
Pak Sumarto Maksum, kepala sekolah sekaligus guru Aqidah Akhlak adalah guru yang sangat sabar,...beliau hampir tidak pernah marah. Tidak sabar bagaimana coba, naik motor saja bisa disalip dengan sepeda. Hehehe...
Pak Syukron Madani, guru besar kami... haha ya memang guru besar karena beliau guru yang bertubuh paling besar di MAM Pekajangan. Beliau guru Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an menjadi sangat menyenangkan, karena disela-sela mengajar pasti ada sisipan cerita-cerita lucu yang membuat pikiran fresh.
Bu Roichun, guru fiqih kami, meski beliau perempuan umurnya juga sudah tua, tetapi semangatnya tetap muda. Pernah beliau bersepeda dari Batang ke Pekajangan untuk mengajar kami. Beliau sempat kebingungan ketika mengintrogasi 3 siswa yang ketahuan mbolos. Satu orang menjawab pergi ke acara ulang tahun temannya bernama Siska. Siswa yang kedua menjawab pergi kerumah Donna, dan siswa ketiga mengatakan pergi ke rumah Mea. Sebetulnya pergi kemana sih.....? dijawab aja sekenanya pergi ke rumah Amelia Donna Siska.
Pak Sulaiman Achmad, guru Antrophologi. Paling suka meninggalkan tugas catatan kepada para muridnya. Kemudian diteliti satu persatu di depan kelas. Kalau kebetulan menjumpai draft surat cinta di dalamnya, tidak sungkan-sungkan dibacanya sehingga si empunya merah padam.
Pak Kismun, guru sejarah kami. Mungkin kalau disamakan dengan tokoh wayang beliau adalah Bilung atau Togog, tokoh wayang yang ngemong Bala Kurawa. Lagian, pak Kismun sering menyebut kami Bala Kurawa mungkin karena saking usilnya kali ya!
Pak Tajuddin Arghubi, guru bahasa Arab biasa di panggil pak TA. Tapi sepulang dari Makkah al-Mukarromah beliau menyebut dirinya TAM yang artinya sempurna. Dulu pertama kali diajar pak TA setiap siswa disuruh perkenalan dengan bahasa Arab. Ada teman yang dari MTs Wali Songo ketika menyebut sekolahnya semua di bahasa Arabkan menjadi almadrosatul mutawasithoh al islamiyah waliyun tis’ah kontan saja menjadi bahan tertawaan teman-teman.
Pak Anwar, guru Ekonomi dan Akuntansi merangkap di SMUHA, pernah membuatku menangis, ketika aku ditanya apakah sudah melihat hasil rapor cawu itu, aku jawab saja sejujurnya belum bisa melihat hasil rapor karena masih nunggak infaq bulanan selama 4 bulan. Kata beliau aku mendapat nilai Akuntansi tertinggi.
Satu cerita yang tak terlupakan, tepatnya tanggal 24 April 2001. Saat itu pelajaran Bahasa Inggris, bu Eva Farida yang mengajar. Kata teman-teman sih beliau mirip Dina Lorenza. Ada ciri khas dari bu Eva ketika mengajar. Yaitu tidak pernah tidak mengucapkan kata ”yah”... dalam dua jam pelajaran mungkin 50an kata yah yang keluar bahkan saya dan teman sebangku sering kali iseng menghitungnya....hehehe.
Ketika semua sedang berkonsentrasi, tidak tahu konsentrasi dalam hal apa, bisa memperhatikan pelajarannya, atau yang mengajar, atau malah menghitung kata yah tadi... tiba-tiba dikejutkan oleh suara yang lumayan keras....titititit berkali-kali (awas loh membacanya jangan dipenggal-penggal) yah hampir semua siswa berhamburan keluar kalau saja bungkusan yang ada di laci meja salah satu siswi tidak buru-buru dibawa keluar. Yah...kotak itulah yang semula dianggap sebagai bom, ternyata kado yang berisi jam wekker yang alarmnya masih aktif. Wah...dibongkar lagi deh kadonya, jadi gak surpraise dong. Huffff... untung saja bukan bom beneran ya!
Yah,....(loh kok malah ikut-ikutan bu Eva nih) meski tidak sedikit siswa yang usil, alhamdulillah mereka semua jadi orang. Meskipun MAM Pekajangan di cap sebagai sekolah buangan karena hampir tiap tahun pasti ada anak-anak nakal atau drop out dari sekolah lain yang ternyata masih bisa diterima di situ, tapi saya mengatakan MAM adalah sekolah yang paling peduli. Yah hanya MAM Pekajanganlah yang berani mengambil resiko itu, kalau anak yang drop out tidak diterima lagi di sekolah, akan jadi apa mereka coba?. Tapi nyatanya anak-anak pindahan dari sekolah lain justru merasakan betah sekolah di situ. Yah karena para guru di MAM Pekajangan tidak hanya mengajar dengan akal mereka, tetapi dengan hati mereka juga, dengan keikhlasan mereka, dengan ketulusan mereka, do’a-do’a yang tulus dari mereka, sehingga kami para muridnya yang bisa dikatakan durhaka selama menjadi murid bisa menjadi seperti ini.
Terima kasih Ayahanda/Ibunda guru MAM Pekajangan tahun 1999 s.d 2002. bu Nur Hajaroh guru bahasa Indonesia,Ekonomi, Akuntansi ku di kelas I. Pak Dawari, Guru Matematikaku saat kelas I yang rajin sholat dhuha, aku yakin dalam do’a mu kau pintakan supaya kami menjadi anak-anak yang pintar. Pak Budi, sebagai pengganti pak Sunaryo untuk sementara pada saat beliau melanjutkan studi. Pak Irfan Guru SKI pada saat kelas III. Pak Sumairi Sundrus guru Tata Negara yang disiplinnya melebihi tentara Belanda. Mohon berjuta maaf bila kelakuan kami sempat menoreh luka di hati, meski saya yakin pendendam bukan sifat engkau. Maafkan kami ayahanda dan ibunda guru. Mohon maaf bila ada bapak/ibu guru yang belum saya sebut.
Terima kasih Ayahanda/Ibunda guru MAM Pekajangan tahun 1999 s.d 2002. Baktimu terus ku kenang, ijinkan aku meneruskan cita-citamu, mencerdaskan kehidupan bangsa. Restui aku agar istiqomah di jalan ini, ajari aku menjadi orang sepertimu yang senantiasa tulus, ikhlas, dan sabar dalam menghadapi murid seperti kami pada saat itu.
31 Januari 2010,23:16 tidak terasa sudah 8 tahun ternyata.

Sabtu, 23 Januari 2010

MALAM PERTAMA

MALAM PERTAMA

Setahun sudah aku menunggunya. Lamaran tahun lalu belum sepenuhnya diterima. Saya bilang belum diterima karena memang tidak ada kata penolakan. Jadi selama setahun itu saya merasa sedang melewati sebuah titian yang tak berujung, menanti kepastian yang tak kunjung datang.
Sebetulnya aku tidak terlalu percaya diri untuk melamarnya. Apa sih yang diharapkan dari seorang pengangguran seperti saya. Yang meninggalkan amanah karena tuntutan kerja. Ya aku meninggalkan organisasi yang aku tekuni dari kelas 2 SMP. Waktu kelas 3 SMA aku terpilih sebagai ketua. Periodeku 2 tahun lamanya, tapi selepas lulus aku merantau ke Jakarta.
Di mana-mana orang yang tidak bekerja seperti tak ada nilainya. Bersyukurlah bagi siapapun yang sudah bekerja, sesusah apapun, sekecil apapun bayarannya, setidaknya masih lebih baik dari seorang tuna karya. Maka, meski tanpa pengalaman aku mengadu nasib ke Ibu Kota. Biarlah jadi tukang cuci piring, dari pada tukang cuci uang. Aku bayangkan hari-hari yang menyenangkan di sebuah restoran. Tapi bayangan tetap saja bayangan, tetap hitam tanpa wujud yang nyata. Di sanapun tetap saja menganggur. Bukan karena restorannya tidak rame, tapi lebih parah lagi. Restoran yang dijanjikan tidak benar- benar ada. Percuma kalau putus asa, apa saja kulakukan untuk bertahan hidup disana. Sudah 3 hari belum dapat kerja sementara saku dari rumah kian menipis. Singkatnya, aku dapat kerja di konveksi milik orang cina pada hari ke-4, tapi pagi harinya langsung dipecat. Semena-mena, menjadi raja di negara saya. Memangnya punya hak apa dia di Indonesia? Tapi ya sudahlah, saya malah bersyukur bias lepas dari sana. Buat apa di terus-teruskan kalau malah membuat sengsara, sehari saja tidak bisa apa-apa selain membersihkan benang dan melipat kaos lalu memasukkannya kedalam bungkus. Masih untung sehari semalam dibayar sepuluh ribu rupiah.
Hari berikutnya aku terdampar dalam dunia warna-warni, duniaku dulu. Memang tempatnya tidak terlalu bersih, tapi bagiku permasalahannya bukan pada tempat tapi suasana. Dinding yang penuh cat, gambar, tulisan, membuatku memutuskan untuk tinggal di situ. Ya di sebuah sablon kain. Tempat produksi kaos bermerk dan daster ekspor ke timur tengah. Dilihat dari ukurannya saja sudah kentara, bila dibentangkan setinggi saya 163 cm ditambah bentangan tanganku ke atas, yah hamper dua meteran. Tapi toh bayaranya tak seberapa. Per hari cuma dua belas ribu rupiah. Bisa di bayangkan nilai uang segitu di ibu kota. Maka demi menekan pengeluaran tiap hari makan 2 kali. Pagi dan malam hari. Sementara siangnya cukup sepotong roti. Tapi aku merasa senang, meskipun tiap malam mesti dilangkahi werog (tikus besar:sebesar kelinci kaleee). Warna-warni yang membuatku betah disitu. Meskipun sama-sama bekerja pada orang cina, tapi koh asiong lebih perhatian dibanding bos konfeksi yang dulu. Bekerja disini aku jadi lebih berotot, kalau produksi kaos mesti angkat-angkat triplek tiap hari. Kalau yang diproduksi daster, mesti loncat-loncat naik ke atas meja untuk jemur dasternya, yah jadi mirip-mirip tobey meguire gitu deh.. itu loh pemeran spiderman wkwkkkkkk :-D . Tapi saying….kerja disana hanya berlangsung lima bulan. Selepas pasar tanah abang kebakaran kami dipulangkan.
Di rumah kembali seperti dulu lagi. Nganggur, atau paling-paling ke sawah, sekedar panen kacang, ketimun, atau menyemprot tanaman itu. Kegiatan rutin yang harus ku jalani tiap harinya tanpa mendapat sepeserpun dari hasil panen. Tapi aku masih bias mencukupi kebutuhanku kalau ada pesanan dekorasi. Hasilnya pun bias kunikmati berhari-hari, bahkan untuk menambah modal hingga sedikit demi sedikit usaha dekorasiku semakin berkembang. Kesibukan masih terbagi antara sawah dan dekorasi. Sampai-sampai aku lupa pada lamaran tahun lalu.
Ya hari ini lamaranku dipertanyakan lagi. Masihkah aku punya niat untuk melamarnya? Aku mulai bimbang, jangan-jangan seperti tahun kemarin, tak ada keputusan, menggantung selama setahun. Haruskah aku melamarnya lagi? dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya kembali mengajukan lamaran, hasilnya……..DITERIMA.
Pada malam pertama lamaran saya diterima, kembali saya berpikir apakah saya sudah siap dipanggil bapak oleh anak-anakku nanti? Bukan anak dari istri, tapi dari orang tua wali. Ya karena saya melamar sebagai guru di SD Muhammadiyah Wonosari.

Lebih banyak cerita di jendelakamarkita.blogspot.com

Kamis, 25 Juni 2009

ANAK ITU BERNAMA GIGIH

ANAK ITU BERNAMA GIGIH
Oleh: Abdul Sukur (www.jendelakamarkita.blogspot.com)

Apa yang kita lihat terlebih dahulu dalam mengenali seseorang? Tentu saja wajah. Tapi bagi saya tidak, karena saya termasuk anak yang pemalu, lebih parahnya minderlah, sehingga lebih sering melihat ke bawah dari pada ke atas. Hal itulah yang membuat saya berbeda dengan yang lain, yaitu cara mengenali seseorang tidak seperti teman-teman pada umumnya, saya lebih mudah mengenalinya melalui sepatu. Saya sampai hafal sepatu teman-teman saya semasa di SMP Negeri 4 Kedungwuni, yang sekarang berubah menjadi SMP N 3 Kedungwuni. Dari situ saya mengambil kesimpulan sendiri bahwa anak yang memakai sepatu merk Speed warna hitam adalah anak yang cerdas. Katakanlah teman SMP saya, kakak kelas saya Agus Setiawan pake sepatu itu, dia anak cerdas. Lantas teman sekelas saya Ristiningsih juga memakai sepatu itu, dia juga juara kelas. Memang sih itu kesimpulan ngawur yang tanpa dasar. Tapi tetap saja melekat sampai SMA. Selama SMA ku habiskan waktu di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Pekajangan, itu pun cara mengenal seseorang juga masih lewat sepatu. Hehe…kayak gak ada kerjaan aja ngamatin sepatu.
Meskipun sudah SMA tetap saja tubuh saya tidak seperti pada umumnya. Yah, masih panteslah bergaul sama anak kelas enem SD. Bahkan saat Fortasi (Forum Ta’aruf dan Orientasi, kalo di sekolah negeri namanya Masa Orientasi Siswa pada waktu itu) saya termasuk siswa termuda, terkecil, dan terimut.
Kembali kemasalah sepatu,...
Satu ketika pulang sekolah, dalam angkutan desa (kol guwo, dulu belum pake mikrolet untuk trayek Kedungwuni - Doro) tepat di depanku duduk seorang anak pake sepatu Speed warna hitam. Saya langsung menyimpulkan bahwa anak tersebut adalah anak yang cerdas, yang selalu juara kelas. Ketika kuluruskan pandang, tertangkap oleh mata sosok tubuh tegap, gagah, atletis, termasuk besar untuk ukuran anak SMP bahkan bisa dikatakan lebih besar dia dibandingkan dengan saya pada saat itu. Saya sempat berpikir negatif tentangnya, “Anak SMP kok dah segede ini. Pasti masuk TKnya telat, anaknya manja, sehingga sering tidak naik kelas semasa SD. Tapi dia pakai sepatu Speed warna hitam berarti dia anak cerdas”. Kulihat lagi dengan teliti, baru ku ketahui anak itu bernama GIGIH, GIGIH SETIANTO lengkapnya, itu yang aku tangkap dari papan nama di bajunya. Saya pikir orang tuanya salah ngasih nama mungkin. Mestinya dikasih nama GAGAH saja, mungkin itu lebih tepat. Lagian gak kelihatan gigihnya, orang pendiam gitu. Masih ingat pelajaran Bahasa Indonesia kan? Peribahasa “air tenang menghanyutkan” ya itulah Gigih. Dia siswa SMP N 1 Kedungwuni, Termasuk SMP favoritlah.
Next………..
Kisah ini dimulai dari debut kepemimpinan di Ikatan Remaja Muhammadiyah, aku mulai mengenalnya lebih dekat saat kegiatan IRM. Katakanlah saat kegiatan Gema Romadlon di Rogoselo, saat itu dia sebagai Sekretaris PR IRM Wonosari dan saya Ketua IRM Ranting Kutosari. Berlanjut Musyawarah Cabang, Dia sebagai Sekretaris dan saya sebagai Sekbid KPSDM. Ternyata kepemimpinan pasca Muscab ke-7 bisa dikatakan berhenti total. Sehingga setahun kemudian diadakan Konpiran dan dia sebagai Ketua Umumnya menggantikan Irmawan Wiryo Pranoto yang study di luar kota. Atas inisiatif bersama, untuk membangkitkan ghiroh berorganisasi maka diadakanlah kegiatan tadabbur alam ke perkebunan the Pagilaran. Diluar dugaan, peserta membludak hingga 100% dari yang di targetkan. Dengan modal semangat dan beberapa rupiah sisa kegiatan tadabbur alam, mulailah diadakan Musyawarah Cabang Bersama, yah Muscab Istimewa, karena selain IRM, arena Muscab itu juga milik Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah. Hasil Muscab ke-8 tersebut, terpilihlah Gigih Setianto sebagai Ketua dengan suara terbanyak 39 dari 50 pemilih.
Proses Muscab ke-8 membuat persahabatan ini semakin erat, bagaimana tidak. Laporan pertanggungjawaban hanya dibuat oleh 2 orang, saya dan Gigih. Mungkin atas dasar itulah aku dipilih sebagai Sekretaris. Masa-masa indah di Pimpinan Cabang IPM Doro. Rapat pimpinan rutin tiap bulan. Biasanya malam kamis, minggu kedua atau kalau tidak tiap tanggal 17. Seperti biasa dengan menu rapat sego megono mbak Ida. Saya berani menjamin bahwa kepemimpinan Gigih Setianto adalah sample Ikatan Remaja Muhammadiyah yang Ideal, semua Bidang berjalan sesuai lahan garapnya masing-masing, namun ketika ada event besar toh bisa saling membantu antar bidang. Pada kepemimpinan Irmawan Gigih bisa jadi IRM dengan struktur terlengkap satu satunya di Indonesia : mungkin. Tiap Bidang punya Lembaga, taruhlah bidang Kaderisasi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (KPSDM) yang dikepalai Irmawan Tohirin ( Sekarang Perangkat Desa Kutosari), punya lembaga Laboratorium Mental yang mengkaji permasalahan intern organisasi maupun personal anggota sekaligus sebagai mediator problem solving. Bidang Studi Dakwah Islam yang dikepalai oleh Andi Rusfianto (Alumni Ponpes Gontor, Almarhum), punya Sekolah Sosial yang dinamai dengan Social Relegius Institute (SRI) dengan dosen-dosen Bapak-bapak Muhammadiyah Cabang Doro. Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) yang dikepalai oleh Fahmi Abdurrozaq (owner Schoolmart) punya lembaga penerbitan bulletin bulanan IRMAGAZINE dan kelompok studi Bahasa Inggris IRMeC (Ikatan Remaja Muhammadiyah English Club) . Bidang Apresiasi Seni dan Budaya dikepalai oleh Andi Musta’in (sekarang caleg salah satu partai) mempunyai kelompok Pecinta Alam yang diberi nama IRMAPALA yang dideklarasikan di Puncak Gunung Condong pada 2 Oktober 2005 oleh Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Remaja Muhammadiyah Doro , Gigih Setianto. Disamping itu juga mempunyai 3 lembaga Istimewa: 1. Lembaga Kewirausahaan yang di ketuai oleh Sobirin ( Sekarang Pengusaha percetakan “Paradise”). Lembaga ini mempunyai Rumah Usaha “SMART” (Surya Manunggal ART) yang beralamat di Jl. Raya Simpang Tiga Kutosari (Sekarang Depo isi Ulang "AMS" milik PCM). 2. Lembaga Kepanduan diketuai oleh Mahfudh Fauzi ( Sekarang Guru SMK Muhammadiyah Doro). 3. Lembaga Jaringan Eksternal, di ketuai oleh Saiful Muttaqin (aktifis Pemuda Muhammadiyah yang lebih aktif di IRM, sekarang damai di surga). 4. Korps Irmawati yang diketuai oleh Nur Hidayah (sekarang Kepala MI Muhammadiyah Kutosari).
Kepemimpinan di PC IPM Doro mengalami transisi juga ketika 4 personilnya masuk Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah Kab. Pekalongan. Mahfudh Fauzi sebagai anggota Bidang HA, Andi Rusfianto sebagai anggota BUMI, Abdul Sukur (saya sendiri…) sebagai Ketua Bidang Apresiasi Seni dan Budaya, dan tentunya Gigih Setianto sebagai Ketua Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah Kab. Pekalongan. Tidak diragukan lagi kegigihannya dalam memimpin Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah Kab. Pekalongan bersama sekretaris PD IRM Kab. Pekalongan, Kharisma Tiarawati, dan teman-teman yang lain sehingga PD IRM Kab. Pekalongan berhasil menyabet beberapa prestasi membanggakan untuk tataran Jawa Tengah, bahkan Ketua Umum Pimpinan Pusat IPM, Moh. Mudzakkir, mengucapkan kesalutannya kepada PD IRM Kab. Pekalongan. Persis Sama gigihnya ketika dia berperang melawan jalanan untuk menimba ilmu di perguruan tinggi. Dia rela menempuh jarak 22 km tiap harinya untuk kuliah di STAIN Pekalongan, jarak yang cukup jauh untuk ukuran sepeda federal yang digenjot tiap harinya baik panas maupun hujan, sehat atau sakit. Dia amat setia pada sepeda federalnya itu, sampai-sampai ia tidak pernah naik angkot atau bonceng teman.
Selain setia pada sepeda federalnya, dia juga sangat setia kawan. Pernah satu ketika, saat persiapan kegiatan Pengkaderan Khusus Kemuhammadiyahan saya, Gigih dan Abdillah yang membagi undangan. Karena hanya 3 orang dan dua kendaraan, maka jalur selatan - barat saya yang pegang dan jalur utara- timur Abdillah dan Gigih yang pegang. Saya pulang lebih awal karena hanya dua surat saja yang saya antarkan, PC IRM Wonopringgo dan PC IRM Karanganyar, tapi tidak langsung pulang, melainkan mampir dulu dirumah Mahfudh Fauzi. Ternyata sampai disitu ban motor saya bocor, lantas saya sms dia, “bos ban e bocor kye !”, tak ada balasan saya pikir juga masih sibuk. Eh ternyata mencari saya dulu. Padahal bocornya kan nggak di jalan. Yah paling tidak itu bisa dijadikan contoh. Yang lain tentunya lebih banyak lagi.
Dari kecil dia memang cerdas. Kecerdasan itu tidak didapatnya dengan mudah. Ia cerdas karena rajin membaca. Bahkan Gigih Setianto yang ketua OSIS di SMPnya sekaligus juara kelas sempat hafal buku paket karena seringnya dibaca. Disamping itu, Bu Ukhrowiyah, guru Agama semasa SD (di SD Muhammadiyah Wonosari) mengatakan hal yang sama, bahwa Gigih adalah anak yang cerdas. Tak terkecuali Pak Jarkasi yang pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Wonosari, juga mengatakan hal itu. Kecerdasannya tidak hanya di SD, atau SMP saja, bahkan ia termasuk lulusan terbaik SMK N 3 Pekalongan (STM JOETEX) tahun 2005. Di STAIN pun demikian, nilainya selalu cumlaude meskipun disibukkan dengan organisasi tingkat Kabupaten.
Yah, dialah Gigih Setianto yang lahir pada hari Ahad, 26 Juli 1987, anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak M. Kuswani dan Ibu Nur Khayah. Semua hari yang ada memang baik, tapi ada keistimewaan tersendiri bagi orang yang lahir hari ahad. Dalam bahasa Inggris, Ahad disebut Sunday, atau kalau dikembalikan lagi kedalam bahasa Indonesia berarti hari matahari, maka tak heran Gigih Setianto mempunyai sifat-sifat matahari, menerangi dunia tanpa pilih bagian bumi mana yang harus disinari, pekerja keras, santun, berwibawa, setia, cerdas dan kebaikan-kebaikan lain yang belum sempat kuketahui. Ya…anak itu bernama Gigih. Nantikan episode ke-2 dengan cerita yang lebih canggih. Nyuwun pamit nggih, sanes wekdal mugi kepanggih.
Alas Kembang, 1 Rajab 1430 H @ 03:12 a.m.
tulisan ini telah diedit pada 5 Oktober 2023 12.09

MARI BERSYUKUR GAES!

 Bersyukur itu tidak selalu berarti menerima apa adanya.Kadang yang ada memang sudah cukup untuk disyukuri.Tapi kalau bisa ditambahkan sesua...