Tampilkan postingan dengan label Ibrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibrah. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Februari 2025

MAC GYVER JUNIOR

Dulu, dulu sekali saya pernah mendapatkan gelar Mc. Gyver Junior. Seingatku waktu kelas 4 atau kelas 5 MI. Sore itu kami mau bermain bola, namun bola kami pecah. Kami ingat bahwa sekolah punya bola baru yang tidak boleh kami pinjam. Maka kamipun berencana meminjam bola tersebut tanpa ijin. Caranya dengan membuka jendela kantor Kepala Sekolah. Memanfaatkan sebilah bambu pagar dan plastik es yang ditarik sehingga menjadi seutas tali untuk dijadikan simpul, saya mulai beraksi. Tubuh slimku diangkat, dan tangan kecilku masuk ventilasi jendela. Simpul plastik saya arahkan ke grendel jendela, sekali tarik jendelapun terbuka. Kami masuk mengambil bola yang dimaksud.

Waktu itu sepak bola memang olah raga favorit kami, yah meskipun setiap kali main saya selalu kebagian jadi keeper. Maklum, saya termasuk tipe lelaki yang setia. Gawang saja dijaga, apalagi anak mertua. Sementara teman lain lebih memilih jadi penyerang, yang suka menembak, tak peduli diterima atau ditolak.

Setelah selesai bermain bola, kami kembalikan ke tempat semula. Melihat stempel di meja, teman-temanpun mulai bermain dengan stempel, lengan kiri kanan dicap dengan stempel gudep 71/72. Esoknya kami ketahuan, gara-gara dengan bangganya pamer tato tunas kelapa. Kami disidang, dan diganjar hukuman tawaf keliling sekolah entah berapa kali banyaknya.

Kemarin, saya berangkat lebih pagi dari biasanya, terlihat Pak Mul petugas kebersihan di tempat saya bekerja sedang melakukan sesuatu di depan pintu kelas 2. Ternyata pintunya tidak bisa dibuka dari luar karena slot pintunya rusak. Sementara pintu tembus ke kelas sebelah tertutup rak buku. Sayapun mencoba kemampuan lama saya. Bermodal rantai dan kabel bekas yang saya temukan di gudang, sayapun melakukan cara yang sama seperti saat meminjam bola tanpa ijin.

Tenang saja, kali ini kepala sekolah tidak akan menyidang dirinya sendiri. Pintupun bisa dibuka dari dalam, tepat ketika satu dua anak mulai berdatangan.

Gambar diambil dari https://encrypted-tbn2.gstatic.com/

Jumat, 15 Juli 2022

KAYA DINA BADA

 


Tanggal 26 Nopember 2021 dina sing tek nteni. Atiku bungah banget yakin, bisa ngajak kanca-kanca maring Banyumas. Janjane inyong isin, angger kegiatan FKKS bisane teka ijen bae. Lah piwe maning, laka sing gelem diajak. Pokoke piwe carane nggone eklan. Inyong eklan nek Maharaja kuwi MI paling maju, bilingual class, duwe kebon melon, kepalaeh ngganteng pisan, kaya artis Korea sisih lor, ya beda tipis lah, luwih kandel Kang Indra. Kapan ora pada ya padakpadakna karo presidene Korea sisih Lor. Kejaba kuwi nek bisa mangkat Dina Jumat, apan diajak maring kebon melon duweke Mahadia, kepalaeh wadon tapi setrong kaya Nini Dakem, jenenge Welas Rarasati. Embuh kuwe sapane Nini Dakem.

Wengi Jumate inyong videocall nang grup WA sing anggotane mung uwong enem. Inyong dewek, Tadz Azam Kepala SDM PK Paesan, Tadz Nurdin Sholeh Kepala SDM Tanjungkulon, Tadzah Junaenah Kepala SDM Pangkah, Tadzah Rahma Kepala SDM Tahfizhul Quran Wonokerto, siji maning Tadzah Umi Isrotun Kepala SDM 3 Pekajangan. Disepakati mangkat sekang Paesan jam 10.00. Inyong, Bu Jun, Bu Umi langsung maring Paesan. Bu Rahma ngenteni nang Kajen ngarep Gedung Dakwah Muhammadiyah Kab. Pekalongan.  Pak Soleh ngenteni nang tugu 0km Kajen.

Jam sepuluh punjul mulai mangkat maring Banyumas lewat jalur Kajen – Kesesi – Bodeh - Pemalang. Mampir jumatan nang masjid sing esih dibangun, bejane inyong gawa sajadah, jamaah sing teka keri pada ora olih enggon. Bar Jumatan, mampir madhang nang Randudongkal, eh jebule ketemu tanggane dewek bos kayu sing pada wae lagi madhang, jarene bar mulih seka Guci.

Kira-kira jam setengah papat, rombongan wis tekan Maharaja. Langsung disambut para bidadari Maharaja. Rombongan liya kaya-kayane wis pada siyap maring Green House.

Mari pada rampung solat asar, bidadari kuwe mau nggawakna inyong pecel sak kranjang. Langsung pada dipangan nang jero Avanza. Pecel combrang, lontong, lan bakwan. Hemmm enak tenan....!

Tekane green house jebul rombonganku teka paling disit. Kok esih sepi, apa uwis rampung ya acarane.  Liyane pada maring greenhouse inyong ming ning galengan ngentekna pecel mau. Nembe sak emplokan, rombongan liyane pada teka. Mangkat disit urung mesti tekan disit ya. Kaya slogane mobil Carry, Carry – carry puwo sing penting disit, hahaha.

Bali sekang greenhouse disambut sajian makan malam tahu gecot, ya kaya ketoprak, tahu campur, apa lontong tahu lah. Mari kuwi peserta pada sharing. Masing-masing perwakilan Kabupaten/Kota nyampeake bestpractice e dewek-dewek. Gilirane inyong, bingung apan nyapekakae apa, lha wong best kabeh koh, gayane padahal ora eneng best-best e kejaba luwih tuwa sekolaeh.

Maju mundure sekolahan salah sijine peran kepala sekolah, mung kepala sekolah kuwi dudu Supermen, ora kudu bisonan (nompak Yamaha Bison maksudeh) ya kadangkala Avanzanan senajan dudu Avanzane dewek. Jan pokoke diskusine gayen pisan nganti ora eling wektu.

Mari kuwi isuke diajak Kang Indra maring Bendung Gerak Serayu, sarapan ana kana menune soto karo lontong, ora lali mendoane. Ana sing nyletuk, ndene lontong maning – lontong maning, kaya dina bada bae. Wes lah ora usah reang gari mbadog bae koh, rewes.

Pamitan seka Maharaja, disambut senyuman para bidadarine Maharaja, jarene para bidadari yang buruk tinggalkan saja, yang baik silahkan dibawa. Piwe kiye Kang Indra, bidadarine baik-baik kabeh, apan tek gawa  ora eneng enggone.

Ketrangan foto: Lagi pada sarapan lontong ana Bendung Gerak Serayu
Fotone njukut sekang FBne Ustadz Heru Nugroho (Piyantune sisih tengen ngagem rompi) 
Sing kiwa anggo kaos ijo kuweh Kang Indra Kepala Sekolaeh Maharaja.
Kyai Pamuji Raharjo (Ketua FKKS SD/MI Muhammadiyah Jawa Tengah) ngagem batik kaliyan kopiah.

Minggu, 08 Mei 2022

KAROMAH SANG KYAI


 

“Bayang – bayang selalu ada bersama cahaya”

 

Selasa, 18 Agustus 2020 saya mendapat pesan dari Ustadz Daryono berupa Konsep Susunan Organisasi FKKS SD/MI Muhammadiyah Jawa Tengah. Namaku tercantum dengan amanah wakil Pemberdayaan Teknologi Komunikasi dan Informasi.

Selagi saya mampu, saya berusaha tidak menolak amanah. Namun karena susunan organisasi tersebut ada di tingkat wilayah tentu banyak yang lebih mumpuni. Sayapun mencoba merekomendasikan nama lain yang memang lebih mumpuni di Kabupaten Pekalongan, ternyata nama yang saya rekomendasikan sudah tidak mengajar lagi karena mendapat beasiswa S2.

Meskipun saya pribadi siap, namun tetap butuh pertimbangan dari orang lain. Rekan guru dan Dikdasmen Ranting mengijinkan. Istri juga mengijinkan. Maka saya mantapkan, Insya Allah siap bergabung dengan orang-orang hebat.

Rabu, 19 Agustus 2020 Jam 06.00 saya siap melaju karena sudah janjian jam 07.00. Ketika saya tinggalkan uang yang tinggal selembar di dompet untuk istri saya, dia tidak mau menerimanya. Buat cekelan saja katanya,  lagi pula masih ada uang belanja untuk hari ini. Padahal saya bisa saja mampir sebentar di ATM untuk mengambil uang. Namun dicegah juga, jangan biarkan Ustadz Daryono menunggu katanya. Sayapun urung mengambil uang di ATM.

Saya melaju mengendarai Prima istimewa dengan kecepatan sedang. Mampir sejenak di sekolahan untuk copy KTAM. Jam 06.58 sampai di stasiun, segera saya kabarkan. Saya tunggu di halte depan stasiun Pekalongan. Saya kira Ustadz Daryono datang dari arah barat setelah menjemput Ustadz Wahyudi di Ponpes Al-Manar Pemalang. Ternyata lewat tol. Ini yang kedua kalinya kata Tadz Daryono. Kalau sudah dua kali, biasanya yang ketiga dan seterusnya akan mudah.

Waktu menunjukkan pukul 07.19 Ustadz Wahyudi menghubungiku, menyebutku Syaikh. Sangat berlebihan, memangnya Syaikh cap apa yang tidak hafal juz amma. Pukul 07.30 Ustadz Daryono menghubungiku memastikan lokasi penjemputan. Kemudian pada jam 07.38 Ustadz Wahyudi bertanya pintu keluar tol dan minta shareloc. Pukul 07.40 Ustadz Daryono mengabarkan kalau pintu keluar tol Kajen ditutup. Tepat pukul 07.51 kami bertemu.

Di SD Mapan disambut oleh Ustadzah Alifia bersama mitra kerjanya dengan penuh suka cita. Sementara saya merasa gagap gempita. Iya gagap, bertemu orang-orang hebat. Dari sekian peserta saya hanya mengenal beberapa nama. Ustadz Sukaryo - SDM Sudagaran Wonosobo, meski berkali-kali singgah dan sempat separuh hatiku tertinggal di Jalan Dieng KM.9, namun pertama kali merasakan lezatnya mie ongklok justru di SDM Sudagaran. Ustadz Mustaqim - Mutual Dua Kota Magelang, kota di mana sepenuh hatiku tertambat di situ. Dan, Ustadz Daryono SD Musabangga yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena beliau lakonnya dalam cerita ini.

Inti acaranya biar diceritakan yang lain saja, karena telah kita saksikan bersama betapa hebatnya Sang Hafidzah Cilik yang tentu di balik kehebatannya ada guru-guru yang hebat pula.. Tentang semangat para penggerak, Ustadz Latif dan Ustadzah Welas yang berangkat paling gasik tapi sampai paling akhir. Meski paling akhir tapi tetap tepat waktu, waktunya makan siang. Syaikh Pamuji (kalau yang ini Syaikh aseli), dan Kyai Mas Jamaluddin Kamal (jangan lupa dal nya tasydid ya) sebagai lokomotifnya, biar kita-kita yang jadi batu baranya.

Tak biasanya sesiang ini sudah makan 3 kali. Sebelum berangkat saya sempatkan sarapan sego megono. Dalam perjalanan, jam 09.30an sarapan lagi nasi padang ditraktir oleh Ustadz Wahyudi. Dan makan siang, ayam kecap atau apa ya yang lezatnya luar biasa jamuan dari Ustadzah Alifia. Betul-betul over dosis bagi saya yang kapasitas lambungnya terbatas. Hingga sajian coffebreak tidak tersentuh sama sekali. Maka tak heran bila dalam perjalanan pulang saya terlelap.

Saya tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Ustadz Wahyudi dan Ustadz Daryono di balik kemudi Datsun Go. Baru saya ketahui bahwa ternyata, Ustadz Daryono mentransfer ilmu dan jurus -jurusnya kepada Ustadz Wahyudi, sementara saya masih terlelap. Rugi dong, di atas roda yang sama dengan orang hebat malah terlelap.

Tapi tidak juga, saya berkesempatan bicara apa adanya, jujur saya katakan kepada Ustadz Daryono bahwa saya merasa tidak mampu mengemban amanah ini. Meskipun saya tahu di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Saya tahu itu. Tapi saya tetap merasa bayang-bayang besar mengikutiku, tentang kemampuan yang terbatas, bagi tugas yang belum tuntas, banyaknya amanah yang belum tertunaikan, baik di sekolah, Pemuda Muhammadiyah, dan sebagai panitia pembangunan Masjid Al-Huda Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kutosari yang membutuhkan dana setidaknya 1,5M sementara dana yang sudah terkumpul sekitar 700an Juta dengan progres pembangunan mencapai 70%. Tentu saja yang 25%nya belum terbayar,  dan lain sebagainya. Namun dengan tenang Ustadz Daryono mengatakan, “Selama antum berjalan menuju cahaya, bayang-bayang tetap ada di belakang antum. Ketika antum menjauhi cahaya justru bayang-bayang itu akan menghadang di depan antum, bukan mengikuti di belakang lagi. Jadi, teruslah melangkah menuju cahaya maka bayang-bayang itu akan hilang dengan sendirinya ketika antum menjadi bagian dari cahaya tersebut”.  Terima kasih Ustadz, Insya Allah saya kembali mantap.

Tok – tok - tok..., sepertinya ada tamu Tadz. Seketika saya terbangun dan melihat Ustadz Daryono dan Ustadz Wahyudi sedang menggedor pintu, bagasi, ban dan seluruh bagian Datsun Go-nya karena ada yang tidak beres. Sementara saya masih bingung sendiri di dalamnya.

 Jadi, yang tadi itu cuma mimpi ya?. Yah,... barangkali begitulah Karomah Sang Kyai, tetap bisa adil membagi ilmunya meskipun berbeda dimensi. Kalau beda dimensi saja bisa berbuat adil, bagaimana dengan yang nyata ya? Sungguh luar biasa.

Mudisar, 28 Agustus 2020. 02:04

 

 

Senin, 08 Januari 2018

KULDESAK


Sebenarnya adakah jalan buntu?
ketika persoalan semakin menghimpit,
segala kemampuan telah dikerahkan,
dan tak mungkin lagi ada bantuan dari orang-orang.

Benarkah jalan keluar tak ada lagi?

Selama nafas masuk dan keluar rongga dada,
permasalahan tetap ada.
Tapi bukan berarti kematian sebagai jalan keluar,
bisa jadi justru sebagai jalan masuk menuju siksa;
yang benar-benar tak ada jalan keluarnya.

Rabu, 13 September 2017

BAJA

“Sekuat – kuatnya baja, akhirnya patah juga”

Hari itu ada penjual arit dan alat pertukangan mampir di sekolahan. Saya tidak begitu tertarik karena biasanya barang yang di iderkan harganya lebih mahal dari harga pasar. Kalaupun lebih mahal sebetulnya sih tidak terlalu, karena kita dimudahkan tanpa meluangkan waktu dan biaya transportasi serta parkir ketika harus ke pasar. Namun saya berubah pikiran ketika pedagang menawarkan harga 25 ribu rupiah, menurut saya itu harga sudah murah dibanding harga pasaran yang 35ribu rupiah, belum lagi biaya lain-lain yang harus dikeluarkan apabila beli di pasar.

Saya memilih satu arit bagong untuk menebas semak-semak karena memang saya belum punya. Sedangkan arit biasa untuk potong rumput saya sudah punya. Saya pilih yang gagangnya kayu keras, karena yang di jual di pasar kelemahannya ada pada gagangnya, sering pecah. Akhirnya saya putuskan beli satu dengan gagang kayu jati. Saya coba menyayat ke punggung arit lain yang ada di sekolah, luar biasa, semuanya tergores namun arit yang ada di sekolah saya coba goreskan di arit yang saya beli tidak tergores sedikitpun. Saya bayar dengan harga pas tanpa menawar.

Sesampainya di rumah, saya coba babat semak di kebun. Ternyata tidak setajam yang saya perkirakan, maklum masih baru belum diasah ulang. Saya asah setajam-tajamnya saya coba untuk memotong kayu yang lebih keras, bahkan ujungnya sempat mengenai batu, namun tidak bengkok sedikitpun. Benar-benar kuat arit ini. Padahal arit yang saya punya ketika kena batu sedikit saja sudah bengkok. Lalu saya coba untuk memotong bambu. Dalam waktu singkat patah, bukan bambunya, tapi aritnya.

Ternyata sekuat-kuat baja akhirnya patah juga, justru ketika memotong bamboo, bukan batu yang sama-sama kerasnya.

Doro, 11 September 2017

Rabu, 06 September 2017

KOLEKTIF KOLEGIAL

“Kalo cuman elo yang aktif, elo juga yang bakal ketiban sial”

Malem ini sebetulnya gue udah ngantuk, lampu udah gue matiin, tinggal nge-off-in mata; merem. Belom sempet gue merem, terdengar ketukan dan salam, gue jawab lalu gue persilain masuk. Ternyata dua adekku nganterin undangan, ada pesta katanya. Ya pesta dua tahunan yang gue sendiri pernah jadi ketua panitianya. Agendanya bulan ini, tinggal beberapa hari lagi, sebenernya sih gue keberatan coz dah punya agenda di tanggal yang sama. Namun, bagaimanapun juga gue pernah menjadi bagian dalam pesta itu, ngerasain susahnya jadi panitia. waktu rapat yang dateng cuman empat. Kalopun sampe sebelas, amblas satu persatu hingga tinggal tujuh, itu jumlah maksimal.

Sedikit ngenang masa taon 2008an, ngomongin panjang, lebar, luas, tinggi, dan isi. Panjang jalan yang mesti ditempuh para aktivis, kadang kagak nyadar tubuh dan isi kantong kian menipis. Mesti lebar pantat nungguin temen mo molai rapat, belom datang udah bilang telat, rapat jam satu datang jam empat, gimana kagak lebar nih pantat. Luas, elu-elu pade kudu awas, kudu punya agenda pribadi sebelom pribadimu diagendakan, yakin yang namanya organisasi kagak ada ngetemnya, justru ngetemnya tuh kebanyakan karena nungguin temen-temen yang pada mau rapat. Waktu rapat nih biasanya yang dibicarakan tinggi-tinggi sekali kiri-kanan nggak liat-liat lalu jatuh ke jurang (kayak lagu naik-naik ke puncak gunung aja ya?) ya emang gitu sih, maklum darah muda darahnya para remaja yang selalu merasa gagah tampil di muka bilangnya ogah (sembari bersenandung kidungnya Wak Haji Oma Irama). Lah kalo kayak gini gimana visi yang tinggi bakal tercapai? Okelah gak usah tinggi-tinggi yang penting berisi, kalo gini tumbuh ke atas apa ke samping? Apapun bolehlah yang penting pas ada kegiatan jangan menyamping, orang jawa bilang “Melu keplok ora melu tombok”. Ternyata apa yang gue rasain juga dirasain oleh adek-adek gue. Gak iklas kali ye! Iklas gak iklas, coba bayangin. Yang punya organisasi pelajar, anggotanya pelajar, yang merancang program juga pelajar, bisa-bisanya waktu semesteran malah mikirin rapat kegiatan, gak heran kalo dulu ada plesetan IRM (Ikatan Remidi Matematika), hahaha. Kalo gue sih matematika gak pernah remidi, maklum gue anak IPS, mo ambil computer takut kesetrum. Nah ini nih yang bikin kolektif kolegial gak berjalan gimana mestinya. Biasanya yang aktif mesti terlibat dalam setiap program bidang meski bukan bidangnya sendiri. Kalo tidak terlihat mesti dicurigai, udah molai mementingkan diri sendiri, gak loyal lagi, gak setia sumpah janji pas pelantikan, kudu mentingin organisasi di atas kepentingan pribadi dan golongan, what? Lo kira organisasi penjara baru? Organisasi tuh memerdekakan, bukan membelenggu. Meringankan, bukan merongrong keuangan. Menggembirakan, bukan menggeringkan badan, maklum kebayang dulu beratnya cuman 35Kg, Alhamdulillah sekarang udah nambah, 45Kg sudah, namun selalu ditolak kalo mo donor darah).

So, kalo cuman elo yang aktif, elo juga yang ketiban sial, bukan kolektif kolegial namanya. Kolektif kolegial gak sekadar pimpinan yang aktif, elo-elo pade para anggota juga kudu aktif, pan elo juga yang milih pimpinan. Jadi kagak ada lagi peribahasa “ringan sama dijinjing, berat elo yang pikul”. Udah saatnya kite serukan “ Bersatu kita teguh, bercerai jangan sampai!” (nyarinya lagi susah soalnya, hehe).

Dimanapun jari ini melompat, antara pertengahan Desember 2016 – 6 September 2017 (00:44)

*) sorry, sengaja keluar dari pakem Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadi tidak patut ditiru ya!

KACAMATA TEMBUS PANDANG


“Pada saat tertentu kita perlu menutup mata kepala, mengoptimalkan indera bathin dan kekuatan pikiran untuk menemukan jalan yang sesungguhnya (Abdul Mubarok - Founder Omah Cendekia)”

Abdul Mubarok, Founder Omah Cendekia dan Sap7a Warna Plakat dan Trophy adalah teman saya semasa di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) (sekarang IPM). Pertama kenal ketika PD IRM Kabupaten Pekalongan menjadi tuan rumah Musyawarah Wilayah Ikatan Remaja Muhammadiyah Jawa Tengah. Mas Barok begitu sapaan akrabnya menjadi sekretaris eksekutifnya mas Nasyith yang jadi Ketua Panitia Penyelenggaranya. Dia kelihatan lebih tua dari usianya, dengan rambut gondrong sebahu, kumis khas Alejandro Zorro. Ah hampir-hampir seperti Bang Iwan Fals waktu muda. Mas Barok ini gudangnya sulapan dan cerita lucu, di sela-sela istirahat kegiatan IRM selalu saja ada cerita lucu.

Alkisah di Negeri Antah barantah hiduplah seorang cewek yang malu punya pacar pelo, gak bisa bilang R. Sudah berkali-kali ia dibuat malu oleh kekasihnya yang tidak bisa bilang R. Maka untuk menghindari huruf R mereka mesti diskusi dulu ketika mau melakukan sesuatu. Urusan makan misalnya paling pesannya bakso, soto, mie ayam, teh manis, kopi susu, pokoknya yang tidak ada huruf Rnya.

Tapi lain dari biasanya, malam ini si cewek mau nasi goreng. Sang cowok mesti menghafal dulu, sambil jalan sembari berbisik nasi gorrrrreng, nasi gorrrreng, nasi gorrrreng. Sampai di tempat sang cowok pesan “nasi gorrrreng 2 Bang!”, si cewek tersenyum melihat perubahan sang cowok yang sudah mulai bisa bilang R. “Minumnya Mas?” Tanya Abang Nasgornya. “Es Jeyuk”. “Arrrrgghhhh!” si Cewek Histeris “Kita putus!”.

Kita memang tak pernah menduga apa yang akan terjadi nanti, meskipun kita telah berusaha mempersiapkannya sejak awal. Tidak ada manusia yang sempurna, pun tak ada manusia yang selalu salah. Pada saat tertentu kita perlu menutup mata kepala, mengoptimalkan indera bathin dan kekuatan pikiran untuk menemukan jalan yang sesungguhnya. Tak perlu kacamata tembus pandang yang bisa melihat jauh ke depan tanpa terhalang. Bisa jadi halangan yang ada di depan mata justru tidak terlihat, yang membuat kita tersandung, jatuh, dan terjatuh lagi.

Kamis, 24 Mei 2012

KATAK

"Dibolak-balikpun, katak tetap saja katak" Banyak definisi ketika menyebut kata katak, misalnya saja binatang amphibi, binatang yang ber metamorfosis sempurna, atau binatang yang enak dimakan bagi sebagian orang. Atau bisa saja disebut sebagai binatang yang tidak bisa berjalan karena memang bisanya melompat. Melompat-lompat merupakan hal yang wajar bagi katak. Tapi bagaimana jika yang melompat-lompat adalah kanak-kanak, pasti sudah buru-buru dicap hiperaktif,pecicilan,gak bisa diam atau sebutan-sebutan lain yang lebih kasar tentunya. Bisakah kita melarang katak untuk tidak melompat? Jika demikian tutup saja dengan tempurung. Lalu bagai mana dengan anak yang hiper aktif? Apakah harus dijadikan katak dalam tempurung juga? Bila hal ini yang terjadi, orang yang melakukannya bisa saja disebut sebagai penjahat. Bagaimanapun juga katak tetap saja katak, dibaca dari belakangpun tetap saja katak, begitupun kanak-kanak, ah binatang yang jujur nyanyiannya lebih jujur ketimbang kampanye. Bagaimana dengan ibu? Nah itulah, mestinya ibu berperan sebagai ibu saja, jangan berubah jadi bui bagi anak-anaknya. Kalau masa kanak-kanak saja sudah merasa dibui, bisa saja masa remajanya seperti residivis. Kalau masa kanak-kanak sudah dikurangi jatah bermainnya, bisa jadi akan mencari kepuasan saat dewasa nanti. Bila sejak kanak-kanak sudah disibukkan dengan les ini-itu bisa jadi masuk sel karena bermain itu-ini. Pistol-pistolan sampai pistol beneran, pedang-pedangan sampai pedang beneran, perang-perangan sampai perang beneran, orang-orangan sampai orang beneran. Nah kalo udah mempermainkan orang nih yang bahaya. Memang sih tidak semuanya begitu, karena potensi anak kan beda-beda jadi biarkan mereka berkembang sesuai tingkat perkembangannya. Cukupi kebutuhan mereka dengan porsi yang berbeda sesuai kebutuhannya. Tapi kalo urusan cinta dan kasih sayang, porsinya harus sama.

Minggu, 15 Januari 2012

BOTOL KECAP

BOTOL KECAP

“Jangan bermimpi mendapat tempat tertinggi bila raga tak berisi”



Selepas makan malam, istriku menaruh botol kecap yang isinya telah aku habiskan. Botol itu terbuat dari plastik, dengan tutup warna merah,sepertinya lebih berat dari badannya. istriku menaruhnya di rak piring paling atas. Tiba-tiba botol itu jatuh, menimpa benda-benda yang ada di bawahnya. Menimbulkan suara riuh.

Mungkin hal seperti ini hanya peristiwa yang tak bermakna, dan kita mudah saja untuk mengabaikan. Tapi akan menjadi lain bila kita mencoba untuk mencari falsafah dibalik itu.Botol kecap itu jatuh bukan tanpa sebab, kemungkinan karena tutupnya lebih berat, atau bisa juga karena botol itu telah kosong.

Teringat olehku tokoh wayang yang sangat terkenal, sebut saja Arjuna. Ksatria paling tampan di keluarga Pandawa. Arjuna dikisahkan sebagai ksatria yang lemah lembut, namun sakti mandraguna, sehingga tak jarang pada pentas wayang orang Arjuna lebih banyak diperankan oleh wanita. Arjuna oleh Sunan Kalijaga digunakan sebagai lambang puasa sebagaimana rukun Islam. Memang, Sunan Kalijaga menggunakan media wayang untuk berdakwah Pandawa Lima adalah lambang rukun Islam. Puntadewa putra pertama mempunyai jamus Kalimasada dilambangkan sebagai rukun Islam pertama yaitu mengucap dua kalimat syahadat, putra kedua Wrekudara(Bima) dikisahkan selalu berdiri baik didepan raja maupun rakyat jelata, itu artnya shalat harus didirikan oleh siapapun,Bima juga mempunyai kuku Pancanaka sebagai lambang mengacungkan jari ketika solat. Arjuna lambang Puasa . Nakula dan Sadewa anak kembar, melambangkan zakat dan haji karena sama-sama untuk orang yang mampu.

Kata Pak Nur Bowo guru kesenianku waktu SMP, Arjuna berasal dari kata Her dan Jun. Her artinya air, dan Jun adalah wadah air yang terbuat dari tanah, bentuknya mirip guci tapi alasnya tidak datar.Bila Jun tersebut diletakkan dalam keadaan kosong, takkan bisa berdiri tegak. Semakin banyak air yang diisikan, semakin stabil jun tersebut.

Mungkin sama halnya dengan kita. Raga kita yang 80%nya terdiri dari air tentunya tidak cukup bila di isi air saja. Mengingat di dalam raga kita juga terdapat ruh yang juga butuh di isi, siraman rohani. Siraman rohani bisa kita dapat melalui majelis taklim,buku, radio, TV, maupun internet. Dengan bertambahnya iman kita, kita akan semakin stabil. Baik atau buruk yang menimpanya tidak terlalu dibesar-besarkan. Bahkan Rasulullah bersabda bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang menimpa seorang mukmin adalah baik, bila mendapat nikmat ia bersyukur, bila mendapat cobaan ia bersabar.

Bila kita perhatikan, berapa banyak korban yang disebabkan karena kurangnya iman; korupsi ruang dan waktu, merampas harta dan nyawa, menjual ayat dan kehormatan, ah terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Bahkan mungkin aku termasuk didalamnya. Bukankah iman itu bisa naik dan turun?

Mari kita isi botol kecapnya supaya tidak jatuh lagi. Atau kita buang saja ke tempat sampah? Setidaknya bisa dimanfaatkan oleh pemulung untuk mendapatkan rupiah.

Kitalah botol kecap itu, bila kita tidak bersedia refill iman kita, boleh jadi kita akan menjadi sampah masyarakat. Untuk sampah yang satu ini, pemulungpun takkan sudi mendekatinya.



“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya(neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh; bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya” (Q.S. Attin:4-6)



My room, 3/1/12 @ 01.26 am

Selasa, 10 Agustus 2010

IRONMAN

Kisah superhero jauh dari pakem yang sesungguhnya
IRON MAN

“Hidup tanpa kritik, layaknya makan tanpa krupuk.
Hidup penuh kritik seperti kuda lumping makan beling”

Sebuah kritikan sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Tanpa kritik mungkin hidup ini datar-datar saja, tak ada kemajuan yang berarti, bahkan bisa jadi justru lepas kendali. Kendati demikian hidup penuh kritik bukan berarti lebih baik, bisa jadi justru menghambat kemajuan itu sendiri; stagnan.
Di sebuah desa, desanya para Super Hero hiduplah macam-macam Super Hero dari golongan hewan. Saya tidak tahu kenapa lebih banyak hewan yang menjadi Super Hero, bukan manusia. Padahal di situ adalah desanya para manusia. Sebut saja mereka Batman, Robin, Spiderman, Scooby, Silver Hawk, Thunder Cats sekeluarga (Lion-o, Cheetaraa, Phantero, Tigra, dkk), Batgirl, Catwomen, dkk. Sesuai namanya meskipun mereka Super Hero tetap saja punya sisi ke-binatangan-nya. Misalnya; batman yang suka keluar malam, Robin suka berkelana, Spiderman suka merayap dan menunggu mangsa ia tidak mau susah-susah tinggal pasang jaring saja. Tanpa disebut satu per satu, silahkan dipikir sendiri sisi kebinatangan mereka masing-masing.
Selain binatang, disana hidup juga Super Hero yang memang dari golongan manusia. Sebut saja Ironman, Robocop, Zoroo, Robin Hood, Superman, wonder women dkk.
Dalam film, Ironman maupun Robocop sama-sama manusia yang berbaju besi jadi tidak heran bila mereka punya sifat yang sama: keras kepala. Zoroo dan Robin Hood juga hampir sama, sama-sama merampok orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada fakir miskin. Yang paling berbeda justru Superman, dia bukan manusia super seperti dalam cerita, dia hanyalah seorang super angkot saja.
Suatu hari mereka berencana membuat sebuah mushola. Saya salut atas usaha mereka. Meski mereka bukan manusia seutuhnya, tapi mereka berusaha untuk menyembah sang pencipta. Pada rapat yang pertama, muncul beberapa usulan, Spiderman mengusulkan untuk penggalangan dana pasang jaring saja, bisa di jalan, di pasar, atau di keramaian. Menurut Batman yang punya kemampuan ekolokasi ia akan terjun langsung meminta donator masyarakat. Sedangkan Robin mengusulkan untuk mencari dana bantuan pemerintah, kebetulan ia juga aktivis LSM jadi punya banyak link di pemerintahan.
Rapat pertama berjalan lancar, begitu pula tindak lanjutnya. Mereka bekerja sesuai jobnya masing-masing.
Konflik mulai muncul ketika pondasi mushola mulai dibangun. Ironman mencak-mencak gara-gara galian pondasi masuk pekarangannya. Terlebih Zoroo yang dituduh menggali tanah tersebut. Syahdan, pada saat itu juga Zoroo bersumpah tidak akan menginjakkan kaki di mushola itu sebelum Ironman mati. Agaknya tidak hanya Sudah menjadi sifat dasar Ironman, dia laksana setrika, haus pujian, ia menganggap bahwa baju yang rapi karena jasanya, tanpa melihat jasa detergen, air, ember, dan alat-alat lain pada saat mencuci. Ia tidak berfikir nantinya mushola untuk siapa yang jelas ia ingin berdirinya mushola itu atas jasanya. Bagaimana masyarakat akan menilai seperti itu kalau pekarangan yang tergali saja membuatnya mencak-mencak.
Ditengah pembangunan ternyata mushola itu kekurangan kayu. Dengan mudah Robinhood menjarah hutan jati milik pemerintah, dia pikir inikan bukan untuk kepentingan pribadi, jadi sah-sah saja. Sementara Superman membantu mengangkut kayu-kayu itu. Pembangunan dilaksanakan secara cepat oleh kawanan Thunder Cats dan pemasangan atap dilakukan oleh Silver Hawk. Super Hero wanita seperti Batgirl, Cat women dan Wonderwomen menyediakan konsumsinya.
Mushola sudah jadi, mereka kebingungan untuk menentukan siapa muadzin, dan imamnya. Semua menolak, Super Hero perwakilan dari binatang mengusulkan untuk jadi imam dari golongan manusia saja karena manusia lebih sempurna dari mereka. Untuk muadzin mereka mengusulkan Scooby yang suaranya keras.
Tanpa ditunjuk, Ironman langsung mengajukan diri. Ia paling sempurna diantara super hero lainnya, terutama dari golongan manusia. Zoroo dan Robin Hood, mereka adalah pencuri mana mungkin jadi imam. Robocop juga sebetulnya sudah mati tapi dihidupkan lagi tidak mungkin solat dipimpin oleh mayat. Wonder woman jelas tidak mungkin, emansipasi wanita tidak berlaku dalam hal ini. Sementara superman menolak, cukup ia jadi super angkot saja tidak mau jadi super mushola.
Formasi ini berlangsung selama bertahun-tahun. Ironman sebagai imam dan Scooby sebagai muadzinnya berjalan lancar tanpa ada kendala. Hingga suatu ketika, entah mengapa Ironman tidak muncul juga padahal sudah lewat 15 menit adzan maghrib berkumandang. Akhirnya jama’ah mendaulat Scooby untuk jadi imam. Entah bagaimana ceritanya surat al-Kafirun yang dibaca pada rokaat pertama tidak selesai-selesai, muter-muter tak sampai sampai, membuat jama’ah tertawa terpingkal-pingkal. Solat jamaah rusak, Scooby malu, ia bersumpah tak kan lagi solat berjamaah sebelum Ironman dimakan cacing tanah.
Sudah dua super hero yang lari dari jamaah, zoroo dan Scooby. Peristiwa itu memang sungguh memalukan bagi Scooby ditambah dengan kemarahan ironman membuat suasana menjadi tambah panas selaksa setrika. Scooby dan jamaah kena marah. Esokna jamaah semakin berkurang. Hanya superhero kecil yang sesekali menggantikan adzan dengan suara putus-putus, itupun dilakukan karena tak ada yang menjadi muadzin. Lagi-lagi kena marah, bahkan tidak hanya dari ironman saja, Robocop ikut-ikutan memarahinya. Superhero kecil malas ke moshola, orang tuanya juga.
Sekarang tinggal Ironman dan Robocop yang semakin renta saja yang jamaah. Kadangkala muadzin dan imam didominasi mereka berdua meskipun jamaah tak sampai satu shof penuh. Sementara yang muda kadung kecewa dengan sikap Ironman dan Robocop kepada mereka semasa belia.
Mushola kecil yang dibangun atas kebersamaan, kerukunan antar manusia dan binatang kini telah kehilangan ruhnya seakan-akan mushola itu hanya milik Ironman dan Robocop saja. Ironman mulai sakit-sakitan, Robocop yang ambil kendali, kini ia sadar bahwa melarang anak-anak adzan menyusahkan dirinya sendiri karena tak ada lagi yang mengganti.
Hari itu, tepatnya malam rabu Ironman meninggal dunia. Tak ada duka maupun tangis, tak hanya rela tapi perasaan lega bahkan diselingi kutukan-kutukan dari masyarakat lainnya. Selepas itu jamaah semakin banyak, orang-orang kembali ke mushola, Scooby, Zorroo telah kadaluarsa masa sumpahnya. Ironman telah mati, jamaah mushola ramai kembali.

Depan Baiturrohman, akhir Sya’ban 1431 H

Ada yang bisa dipetik dari cerita tadi? Silahkan dikomentari. Matur nuwun

Empowering & Leadership

  “Bila ada bursa jual beli organ tubuh manusia, yang paling mahal adalah otak, jarang dipakai sih. Sementara, yang paling murah adala...