Saya tidak pernah tahu nama beliau. Orang-orang di terminal hanya memanggilnya Pak Haji.
Saya juga tidak ingat nomor angkot yang beliau kemudikan. Warna angkotnya pun sudah memudar dari ingatan. Wajahnya juga demikian. Yang masih tersisa hingga hari ini hanyalah satu percakapan singkat pada pertengahan tahun 1999.
Saat itu saya dan sahabat saya, sebut saja Nadhif, baru lulus SMP. Sejak kecil kami hampir selalu bersama. Ketika belajar di Madrasah Ibtidaiyah, kami sekelas. Persaingan kami juga tidak pernah jauh-jauh dari angka satu dan dua. Waktu itu masih menggunakan sistem caturwulan, sehingga dalam setahun ada tiga kali pembagian rapor. Kalau saya mendapat peringkat pertama, ia peringkat kedua. Caturwulan berikutnya bisa berganti. Begitulah seterusnya.
Lulus dari MI, kami melanjutkan ke SMP yang sama. Hampir setiap hari saya menunggunya, lalu berangkat sekolah bersama. Setelah lulus SMP, kami kembali memilih sekolah yang sama, Madrasah Aliyah Mu'allimin. Kebersamaan itu seolah berlanjut begitu saja tanpa pernah direncanakan.
Suatu hari, setelah turun dari angkot di terminal, Pak Haji bertanya kepada kami.
"Sekolah di mana?"
"Mu'allimin," jawab saya.
Beliau langsung menatap saya sambil tersenyum.
"Wah... calon ustaz ini."
Lalu beliau menoleh kepada Nadhif.
"Kalau yang ini calon politikus."
Kami hanya tersenyum. Saya tidak terlalu memikirkan ucapan itu. Kami baru saja lulus SMP. Masa depan masih terlalu jauh untuk ditebak.
Waktu berjalan sebagaimana mestinya.
Saya memilih jalan menjadi guru. Dunia pendidikan menjadi tempat saya mengabdikan diri. Sementara Nadhif menekuni usaha kerupuk yang ia rintis sendiri. Kehidupan kami tetap berjalan, meski tidak lagi selalu berangkat bersama seperti dulu.
Suatu ketika, desa kami membuka seleksi perangkat desa.
Yang mengajak saya mendaftar justru Nadhif.
Belakangan saya tahu alasan utamanya cukup sederhana: mengurangi saingan.
Hahaha...
Mungkin ia menganggap status saya sebagai guru akan membuat calon lain berpikir dua kali. Padahal saya sendiri tidak pernah benar-benar berniat menjadi perangkat desa. Saya sudah merasa cukup dengan profesi yang saya jalani.
Ternyata dugaan itu memang ada benarnya. Mendengar saya ikut mendaftar, beberapa calon memilih mengundurkan diri. Hingga akhirnya hanya tersisa dua nama: saya dan Nadhif.
Menjelang pemilihan, giliran saya yang mengundurkan diri.
Akhirnya ia menjadi perangkat desa.
Kalau dipikir-pikir, ini bukan pertama kalinya jalan kami saling bersinggungan.
Dulu, ketika pemilihan Pimpinan Ranting Ikatan Remaja Muhammadiyah, ada tiga calon ketua. Salah satunya adalah Nadhif. Namun pada hari pemilihan ia tidak hadir. Namanya kemudian digantikan oleh saya.
Yang terjadi justru di luar dugaan.
Saya terpilih menjadi ketua.
Kadang saya berpikir, andaikan hari itu ia datang, mungkin cerita kami akan berbeda lagi.
Meski begitu, saya selalu merasa bahwa dalam urusan berkompetisi, kepercayaan dirinya lebih besar daripada saya. Di sekolah kami memang sering bergantian menjadi peringkat satu dan dua, tetapi saya tahu ia tidak pernah gentar menghadapi persaingan.
Kini, setelah lebih dari seperempat abad berlalu, saya baru memahami mengapa percakapan singkat di terminal itu masih saya ingat.
Bukan karena Pak Haji mampu meramal masa depan.
Boleh jadi beliau hanya membaca kesan sesaat dari dua anak yang baru lulus SMP. Atau mungkin hanya bercanda kepada penumpangnya.
Entahlah.
Yang saya tahu, saya benar-benar menjadi guru.
Dan Nadhif benar-benar mengabdikan diri sebagai perangkat desa.
Saya tidak pernah bertemu lagi dengan Pak Haji.
Entah beliau masih mengemudikan angkot atau tidak. Entah beliau masih mengingat dua anak yang pernah turun di terminal pada suatu pagi di tahun 1999 atau tidak.
Namun satu kalimatnya tetap tinggal di kepala saya.
Kadang sebuah percakapan hanya berlangsung beberapa detik.
Tetapi membutuhkan puluhan tahun untuk menemukan maknanya.
Gambar diambil dari https://www.madjongke.com/2022/02/mengenang-mobil-colt-t100-modifikasi.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar