Rabu, 17 Juni 2020
BONGGAN GELEM DADI UWONG
KHITBAH
bersama empat orang sahabat
dan seseorang yang tak perlu umpama.
Niat utama silaturrahmi ke rumah bintangku dulu
Aku agak lupa tempatnya
Hingga ku putuskan mampir di warung siomay
Sembari kirim WA kepada bintangku
Gang 8 sebelah mushola
Bukan
Seberang jalan sebelah TPA
Ku temui juga alamat lengkapnya
Sebelum beranjak dari warung siomay
Seseorang yang tak perlu umpama memesan tiga butir kelapa
Untuk kolak nanti sore menu berbuka
Sampai juga di rumah bintangku
Aku ragu
Kenapa ramai seperti ada acara khusus
Aku dipandu masuk
Seorang lelaki berkata
Ia tidak akan melangkah
Maksudnya
Menuju kamu
Aku tak paham
Kulihat sekelilingnya
Semua hidangan tersaji lengkap
Begitupun para sesepuh
Ini acara apa
Apakah lamaran
Siapa untuk siapa
Bukankah bintang telah menemukan langitnya
Dan gelap telah bersama seseorang yang tanpa umpama
Aku menoleh
Dimanakah empat sahabatku
Akan datang suatu masa ketika harta dan shodaqoh tidak lagi dibutuhkan,
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرَ فِيْكُمُ الْمَالُ، فَيَفِيضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُهُ مِنْهُ صَدَقَةً وَيُدْعَى إِلَيْهِ الرَّجُلُ فَيَقُولُ: لاَ أَرَبَ لِي فِيهِ.
"Tidak akan tiba hari Kiamat hingga harta menjadi banyak pada kalian, harta itu terus melimpah sehingga membingungkan pemiliknya siapakah yang mau menerima shadaqah darinya, lalu seseorang dipanggil kemudian dia berkata, ‘Aku tidak membutuhkannya."
(Shahiih al-Bukhari , kitab al-Fitan (XIII/81-82, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab az-Zakaah, bab Kullu Nau’in minal Ma’ruuf Shadaqah (VII/97, Syarah an-Nawawi).
Sebelum masa itu datang, mari salurkan infak dan shodaqoh anda untuk pembangunan Masjid Al-Huda Dk. Gumelar, Desa Kutosari, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Terima Kasih
Dan seseorang yang tak perlu umpama
Aku datang bersama mereka
“yang sekarang mengalami LDR, bersyukurlah, setidaknya kalian LDR hanya beda kota atau beda negara saja”
Wabah Covid 19 membuatku harus bekerja dari rumah, sementara anak-anak juga belajar di rumah. Mestinya ini menjadi berkah bagiku yang intensitas pertemuan dengan anak selama ini kurang.
Pagi ini, Hari Minggu tidak ada tugas yang menunggu. Untuk menahan anak agar tidak keluar rumah kami membuat papercraft Yamaha M1 milik Valentino Rossi. 34 lembar A4 sudah aku cetak. Urusan memotong kami kerjakan bersama, cukup bagus untuk melatih motorik halus anak. Sementara melipat dan menempel menjadi tugasku. Sembari membuat papercraft, aku mendengarkan radio BSP FM, hingga terdengar sebuah lagu yang liriknya mengingatkanku pada seseorang. Aku tidak tahu itu lagu siapa, mungkin lagu baru atau paling tidak lagu tahun 2004 ke atas, maklum sudah lama tidak update musik.
Penasaran, aku ambil HP Candybarku Andromax Prime, kucari di google dengan kata kunci aku di sini dan kau di sana hanya berjumpa via suara, ternyata lagunya RAN ini liriknya :
Dekat di Hati
Dering telfonku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini
Tawa candamu menghibur saat ku sendiri
Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu
saat kita akan berjumpa
Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
Dia Rara, aku mengenalnya melalui surat pembaca di majalah Annida. Aku mengirim surat untuknya dengan alasan Rara punya perpustakaan pribadi, tentunya itu juga impianku. Yah, smalllibrary yang berarti perpustakaan kecil mulai aku rintis. Mungkin karena aku tidak terlalu percaya bahwa perpustakaan yang aku rintis akan menjadi besar, atau justru aku berpikiran bahwa sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil terlebih dahulu. Barangkali dengan menjalin persahabatan dengan Rara bisa memecahkan permasalahan yang mungkin muncul dalam pengelolaan perpustakaan tersebut.
Beberapa bulan tidak ada balasan sampai aku lupa pernah berkirim surat untuknya. Hingga satu sms masuk dari adiknya, ia menjelaskan bahwa Rara sudah bekerja di Bintan Kepulauan Riau sehingga tidak sempat membalas suratku. Aku merasa dekat dengan keluarganya, ibunya dan kedua adiknya meski via aksara dan suara, ayahnya sudah tiada. Sementara Rara, belum ada kabar apapun.
Pada Bulan Agustus 2007, pertama kali Rara menelfonku. Suaranya lembut, sumringah, menyenangkan. Hari-hari berikutnya, hampir tiap dini hari Hpku berbunyi. Maklum seringnya ia bekerja shift malam, dan waktu istirahatnya digunakan untuk menelfonku, sekedar say hello atau bercerita panjang lebar. Ada saja cerita yang ia suguhkan, tentang dirinya, keluarganya, teman-temannya, bahkan kekasihnya. Aku tak terganggu sedikitpun, malah aku yang merasa terhibur dalam kesendirianku. Aku heran mengapa bisa berbincang senyaman ini, meski aku tak yakin bila bertemu nanti rasanya akan sama.
Ternyata benar, Januari 2009 di lereng Sindoro kami bertemu, tapi endingnya tidak sama dengan lagu. Aku tak pandai merangkai kata. Diam. Tenggelam dalam abstraksi yang kuciptakan. Mungkin, Rarapun demikian. Aku tak berani memimpikan yang lebih jauh lagi. Ah, wanita membuatku terlena meski aku tak sepenuhnya memuja, wanita hadirkan rindu meski pertemuan membuatku jenuh.
Barangkali aku salah menyimpulkan atas kediaman Rara. Mungkin kepekaanku saja yang terlalu tinggi, padahal aku telah berusaha menekan kepekaan ini, atau justru aku yang tak punya kepekaan sedikitpun. Kami tidak hanya LDR beda kota, tapi beda hati juga.
Ada yang hilang dari perasaanku/yang terlanjur sudah ku berikan padamu// suara Ipang mengalun. Menghentikan nostalgiaku.
Aku tak kehilangan apapun. Meskipun hubunganku tidak seperti dulu lagi, ternyata Rara punya rencana lain. Aku tahu dari ibunya. Bagaimana kalau aku dijodohkan dengan teman terbaik Rara katanya.
Rara memang baik hati. Ia telah memilihkan untukku teman terbaiknya. Bidadari dari kaki Gunung Tidar, yang sekarang menjadi istriku, ibu dari kedua anakku.
Tentang istriku, tidak saya ceritakan di sini. Kalau mau dengar ceritanya mampir saja di smalllibrary yang kini telah kuubah namanya menjadi cafebook; bukunya sih sudah ada, cafenya yang belum punya. Tapi tenang saja, saya masih punya secuil kopi papua dan beberapa potong singkong untuk teman nongkrong. Eh, inikan musim corona. Lain kali saja nongkrongnya.
Tiba-tiba kita mengeja peta
Entah untuk apa
Mau kemana
Kau mengajakku
Mengarungi samudera biru
Tak perlu Al, tak perlu
Karena tak ada dua kapal berlayar
dengan satu nahkoda
atau justru kau tawarkan dirimu
untuk bergabung di kapalku
jangan Al, jangan
lagipula bukankah ada yang mengajakmu bersama
maka terima saja, kita berlayar dengan kapal masing-masing
ah… khayalanku saja yang terlalu tinggi
ini cuma mimpi di ujung dini hari
24 Juli 2017
Tiba-tiba entah kemana
Hanya aku
Terpaku
Mimpi dini hari Rabu Legi di Bulan Mei 2020
LDR
“yang sekarang mengalami LDR, bersyukurlah, setidaknya kalian LDR hanya beda kota atau beda negara saja”
ALYA
Sabtu, 07 September 2019
KETIKA HARTA TIDAK LAGI DIBUTUHKAN
Langganan:
Postingan (Atom)
PAK HAJI
Saya tidak pernah tahu nama beliau. Orang-orang di terminal hanya memanggilnya Pak Haji. Saya juga tidak ingat nomor angkot yang beliau kemu...


