Senin, 03 Februari 2025

MISTERI SIRIH KEMBAR

“Daun sirih yang tulang daunnya bertemu dalam satu ujung dapat mengantarkan kita ke dalam mimpi seseorang, berani coba?”

Pada tahun 1990an televisi adalah barang mewah. Di desa hanya beberapa orang saja yang memilikinya. Namun ketiadaan itu justru mempererat persaudaraan. Para tetangga bisa berkumpul tiap malam dalam satu tempat, meskipun pemilik televisi juga ada yang tidak berkenan; kalau tidak mau dikatakan pelit. Bukan apa-apa sih, kadang penonton juga tidak tahu diri membawa makanan, minuman, bahkan merokok yang akhirnya mengotori rumah pemilik TV.

Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, satu saudara tiri dan dua saudara kandung. Ayahku seorang pedagang, pedagang apa saja terutama hasil perkebunan. Bila musim durian tiba, rumahku penuh dengan buah durian, biasanya teman-temanku ikut melangsir dari rumah sampai ke angkutan. Setelah selesai, ayahku membelah beberapa durian untuk kami makan. Waktu itu harga durian Rp 200,00 – Rp 500,00.

Sebagai anak bungsu, hampir semua permintaanku dipenuhi, kecuali mainan. Maka suatu kali aku minta TV, dibelikan aku TV Sharp 14` hitam putih kalau tidak salah harganya Rp 300.000,00 pada waktu itu.

Televisi membuat aku menjadi anak rumahan. Bagaimana tidak, tanpa keluar rumahpun teman-teman sering main kerumahku. Apalagi kalau malam Jum’at . Acara favorit kami Combat dan film horor Friday 13th. Combat dimulai lebih awal, selisih beberapa jam sebelum Friday 13th.

Seberapa menyenangkannya dirumah, anak-anak tetap saja ingin bebas bermain di luar. Biasanya selisih waktu tersebut kami gunakan untuk bermain petak umpet atau kucing-kucingan. Entah karena kelelahan atau ketakutan, sebelum film horor usai kami terlelap.

Hari Kamis adalah hari yang paling menyenangkan bagi kami. Pelajaran di sekolah hanya 2 : Orkes dan Kertangkes. Sekolah kami sekolah pinggiran yang gurunya tidak genap enam. Maka setiap hari Kamis pelajaran Orkes untuk siswa kelas 1 – 6 bermain bersama. Biasanya bermain bola kasti, atau dibagi dua yang putra sepak bola, yang putri bola kasti atau lompat tali.

Usai pelajaran kami diperbolehkan main di sungai yang sangat jernih dengan syarat pulang membawa batu. Kata Pak Guru batu itu dikumpulkan untuk membuat taman sekolah. Diantara kami tidak ada yang terpaksa melakukannya. Bagi kami mendapat perintah guru adalah suatu kehormatan. Pulang dari sungai pelajaran kertangkes. Biasanya menggambar bebas dan yang sudah selesai boleh pulang lebih dulu.

Entah ide dari siapa, siang itu mereka berencana menginap di rumahku untuk mencoba suatu rahasia. Kata salah satu temanku, daun sirih yang tulang daunnya bertemu dalam satu ujung bisa mengabulkan permintaan kami lewat mimpi. Maka kamipun berburu daun sirih tersebut. Mereka menyebutnya sirih kembar.

Setelah kami menemukan daun sirih kembar, kemudian kami menuliskan nama sendiri dan nama seseorang yang ingin kita temui lewat mimpi kemudian ditaruh di bawah bantal. Ah ternyata dulu aku pernah tertarik kepada seseorang. Seperti apa ya dia sekarang?. Hampir-hampir aku tak ingat lagi wajahnya. Maklum dia bukan orang sini, lagi pula hanya 1 tahun ia sekolah disini. Yang ku ingat pasti dari dia, putih, manis, sesuai dengan namanya, serta hidungnya keringetan, sesuatu yang unik bagiku masa itu. Hmmm....Kau tau apa yang terjadi setelah itu?

Aku pikir aku bakal mimpi bertemu dengannya persis di pilem-pilem India Bazigar atau Afsana Pyar ka, nyanyi-nyanyi, nari-nari, guling-guling di rerumputan. Ternyata,... kau tau tidak apa yang akan terjadi setelah itu? Kalau kau tahu kasih tahu aku ya?

gambar dari tokopedia

MAC GYVER JUNIOR

Dulu, dulu sekali saya pernah mendapatkan gelar Mc. Gyver Junior. Seingatku waktu kelas 4 atau kelas 5 MI. Sore itu kami mau bermain bola, namun bola kami pecah. Kami ingat bahwa sekolah punya bola baru yang tidak boleh kami pinjam. Maka kamipun berencana meminjam bola tersebut tanpa ijin. Caranya dengan membuka jendela kantor Kepala Sekolah. Memanfaatkan sebilah bambu pagar dan plastik es yang ditarik sehingga menjadi seutas tali untuk dijadikan simpul, saya mulai beraksi. Tubuh slimku diangkat, dan tangan kecilku masuk ventilasi jendela. Simpul plastik saya arahkan ke grendel jendela, sekali tarik jendelapun terbuka. Kami masuk mengambil bola yang dimaksud.

Waktu itu sepak bola memang olah raga favorit kami, yah meskipun setiap kali main saya selalu kebagian jadi keeper. Maklum, saya termasuk tipe lelaki yang setia. Gawang saja dijaga, apalagi anak mertua. Sementara teman lain lebih memilih jadi penyerang, yang suka menembak, tak peduli diterima atau ditolak.

Setelah selesai bermain bola, kami kembalikan ke tempat semula. Melihat stempel di meja, teman-temanpun mulai bermain dengan stempel, lengan kiri kanan dicap dengan stempel gudep 71/72. Esoknya kami ketahuan, gara-gara dengan bangganya pamer tato tunas kelapa. Kami disidang, dan diganjar hukuman tawaf keliling sekolah entah berapa kali banyaknya.

Kemarin, saya berangkat lebih pagi dari biasanya, terlihat Pak Mul petugas kebersihan di tempat saya bekerja sedang melakukan sesuatu di depan pintu kelas 2. Ternyata pintunya tidak bisa dibuka dari luar karena slot pintunya rusak. Sementara pintu tembus ke kelas sebelah tertutup rak buku. Sayapun mencoba kemampuan lama saya. Bermodal rantai dan kabel bekas yang saya temukan di gudang, sayapun melakukan cara yang sama seperti saat meminjam bola tanpa ijin.

Tenang saja, kali ini kepala sekolah tidak akan menyidang dirinya sendiri. Pintupun bisa dibuka dari dalam, tepat ketika satu dua anak mulai berdatangan.

Gambar diambil dari https://encrypted-tbn2.gstatic.com/

Minggu, 31 Maret 2024

PAK CIK

“Semua gambar diawali dari sebuah titik”

Pak Cik aku memanggilnya, bukan sebutan paman dalam Bahasa Melayu. Beliau adalah Pak Mucikno, Guru Matematikaku saat duduk di kelas 2B SMP Negeri 4 Kedungwuni (sekarang SMP 3). Mungkin bagi sebagian siswa Pak Cik termasuk salah satu guru yang ditakuti, meskipun aku tak yakin mereka benar-benar takut, mungkin lebih kepada mata pelajarannya saja yang tidak disukai. Suatu ketika, Bu Hesti Nurhayati Guru Bahasa Indonesia kami tidak masuk kelas, Pak Cik yang menggantikan. Kalau tidak salah materi saat itu membuat puisi. Saya berkesempatan membacanya pertama kali, karena memang nama berawalan A selalu nomor 1 di daftar hadir. Saya masih ingat betul puisi yang saya bacakan.

Menangis tiada artinya

Airmata tiada guna

Meskipun betapa sedihnya

Menghadapi kenyataan

Tuhan telah menentukan hidup ini

Tiada yang mampu menghindari

Biarlah semua terjadi

Mungkin harusnya begitu

Tak usah menyesali diri

Yang lalu biar berlalu

Takkan mungkin selamanya menderita

Esokpun pasti ada bahagia

Sesungguhnya jalan ini masih panjang

Dunia inipun masih luas terbentang

Hanya waktu yang belum sampai saatnya

Mungkin suatu hari nanti

Tercapai sudah segalanya

Pak Cik memuji saya habis-habisan, tapi aku tak terlalu bangga. Bahkan lebih tepatnya malu. Itu bukan puisi karya saya sendiri, tapi lirik lagu yang saya hafal dari soundtracknya Saint Seiya.

Mungkin dari situ saya mulai belajar puisi, memperbanyak kosa kata, padan kata, metafora, dan sebagainya.

Pagi ini saya bertemu beliau lagi, dalam acara lokakarya orientasi PGP di SMA 1 Kedungwuni. Pada sesi perkenalan, setiap peserta diminta menggambar sebuah benda dan menerangkan artinya. Pak Cik menggambar titik di sebuah kertas, beliau menjelaskan bahwa sebuah gambar diawali dari sebuah titik. Titik-titik membentuk garis, bisa lurus atau lengkung, kemudian membentuk bangun, tekstur, bahkan warnapun terbentuk dari gabungan berbagaimacam titik. Namun titik tetaplah titik, tidak akan berubah apapun bila kita berhenti, pada, satu, titik.

Mudisar_Ceria, 23 Maret 2024

Rabu, 25 Oktober 2023

DEWI KUNTI _ WELAS ASIH

Saya tidak suka menonton pagelaran wayang, tapi saya sangat tertarik dengan cerita dan segala filosofi di dalamnya. Maka ketika di Wisma Rarasati saya melihat sebuah buku tentang wayang yang ditulis oleh Ki Dalang Subur Widadi ayahanda Bu Welas Rarasati, langsung saya baca. Pada salah satu sequelnya ditulis tentang Dewi Kunti.

Dewi Kunti adalah ibu dari 3 orang pandawa, Yudhistira, Werkudara, dan Arjuna. Nakula dan Sadewa lahir dari rahim Dewi Madrim. Meskipun Nakula dan Sadewa bukan anak kandung Dewi Kunti, Dewi Kunti mengasihinya melebihi cinta kasihnya kepada putranya sendiri.

Suatu ketika, Nakula dan Sadewa kelaparan. Tidak ada makanan. Maka Dewi Kunti menyuruh kedua putranya Werkudara dan Arjuna mencari makanan untuk adiknya.

Arjuna kembali lebih dahulu membawa dua bungkus nasi rames dan menyerahkan kepada ibunya. Sebelum disuapkan kepada Nakula dan Sadewa, Dewi Kunti bertanya asal-usul nasi rames tersebut. Arjuna menceritakan bahwa nasi tersebut pemberian dari Kepala Desa Kedungwuluh karena merasa kasihan dengan Nakula dan Sadewa. Dewi Kunti menolaknya. Ia tidak mau memberi makanan kepada Nakula dan Sadewa atas dasar belas kasihan seseorang.

Werkudara datang terlambat karena harus membereskan dua raksasa di Cilacap. Membawa dua bungkus nasi padang untuk Nakula dan Sadewa. Tidak lupa Dewi Kunti menanyakan asal usul nasi tersebut. Werkudara menceritakan hal ihwal dua bungkus nasi padang yang ada pada genggamannya. Nasi tersebut adalah pemberian dari Bupati Cilacap sebagai hadiah karena Werkudara berhasil menumpas dua raksasa. Sang Bupati menawarkan putrinya yang bernama Teh Ikah sebagai hadiah, namun Werkudara menolak. Ia hanya minta dua bungkus nasi padang saja untuk makan siang kedua adiknya.

Dewi Kunti menerima nasi padang yang dibawa Werkudara, kemudian memberi nasihat kepada para putranya bahwa kita semua harus bekerja keras, jangan menggantungkan belas kasih orang lain dengan cara meminta-minta.

Belajar juga dari keluarga FKKS SD/MIM Jawa Tengah ketika Rapat Kerja di Wisma Rarasati, Banyumas. Kita membawa makanan khas daerahnya masing-masing, saling memberi. Bukan karena rasa kasihan, tapi memang karena rasa welas asih yang telah mendarah daging. Dudu sanak, dudu sedulur nanging bisa semanak semedulur.

Cerita ini sebagian fiktif belaka, kalau ada kesamaan nama dan tempat, anggap saja disengaja.

BERENDAM SAMBIL KULIAH

Pagi yang dingin mengajakku menarik selimut kembali, menawarkan kehangatan di baliknya. Namun hangat mentari dan aroma laut mampu membujukku untuk menyisirnya. Pendirianku goyah ketika melihat Tadz Indra Principal Maharaja sedang asyik masyuk berenang keliling kolam. Maka saya putuskan berenang saja. Pakaian basah kemarin sore yang saya tiriskan di balkon, saya pakai kembali. Berjalan santai menuruni anak tangga dari lantai tiga sebagai pemanasan agar tidak terjadi cedera. Saya tidak bawa handuk saat itu. Catat ya, tidak bawa handuk. Jadi kalau nanti ada yang kehilangan handuk dengan asumsi ketinggalan di kolam, itu bukan saya.

Sampai di bibir kolam, saya melakukan pemanasan lagi. Peregangan mulai kepala, pundak, lutut, kaki. Kepala, pundak, lutut, kaki. Kepala, pundak, kepala, pundak, kepala, kepala, kepala. Kepala saja terus yang piknik, gurunya gak pernah diajak. Sebelum nyemplung ke kolam secara kaffah, usahakan kaki terlebih dahulu masuk ke air. Ini penting dilakukan karena menurut hasil survey di 138 negara, 9 dari 10 perenang yang mendahulukan kepala masuk kolam, terjadi cedera ; minimal benjol. Selain daripada itu, mendahulukan anggota tubuh bagian bawah ketika berenang memastikan tubuh tidak kaget ketika terjadi perubahan suhu. Konon kabarnya mandi yang diawali dengan menyiram kepala terlebih dahulu, rentan terkena masuk angin.

Sambil kungkum, Tadz Indra mulai bercerita. Dulu, sebelum perut segede blebedan sarung, renang muter kolam 10 kalipun terasa ringan. Sampai suatu ketika, berenang diiringi manula yang sedang jalan santai di tepi kolam, Tadz Indra berusaha mendahului namun terkejar. Lagi, dan lagi. Hingga memutuskan untuk mengikuti manula tersebut, dengan berenang santai. Tanpa terasa, lebih dari dua puluh putaran. Niat untuk mendahului atau merasa hebat sendirian ternyata salah. Mungkin kita kuat, tetapi kekuatan bisa dikalahkan oleh konsistensi. Dan bergabung dengan orang-orang hebat, salah satu cara untuk menjaga konsistensi tersebut.

Cerita Tadz Indra tersebut mengingatkanku pada dua orang penebang kayu. Seorang pemuda yang gagah dan kuat serta orang tua yang terlihat lemah. Satu, dua pohon telah ditebang oleh seorang pemuda. Sementara orang tua belum menyelesaikan satu pohonpun. Seorang pemuda menebang terus tanpa lelah. Sementara orang tua mengasah kapaknya setiap kali berhasil menebang satu pohon. Di akhir cerita, hasilnya tidak jauh berbeda. Seorang pemuda heran padahal telah mengerahkan seluruh tenaga tanpa istirahat, sementara orang tua selalu istirahat setelah selesai menebang satu pohon. Orangtuapun berkata, “Kamu melupakan satu hal anak muda, kapan terakhir kali kamu mengasah kapakmu? Sementara saya selalu mengasah kapak setiap kali istirahat”. Barangkali kegiatan kita kali ini seumpama istirahat sambil mengasah kapak. Serius atau santai di FKKS seperti tidak ada bedanya. Rapat yang serius bisa saja sambil guyonan dan kungkum santai membicarakan hal yang serius.

Pangandaran, 29 November 2022

Empowering & Leadership

  “Bila ada bursa jual beli organ tubuh manusia, yang paling mahal adalah otak, jarang dipakai sih. Sementara, yang paling murah adala...