Kamis, 18 Juni 2020
BINTANG TANPA GELAP
Gelap bukanlah yang dibutuhkan bintang
Memang dengan gelap bintang lebih cemerlang
Barang kali bumilah yang ia butuhkan
Keberanian untuk jatuh membuatnya semakin terang
Meskipun tanpa gelap
Namun aku tak ingin kau jatuh
Tetaplah bersama angkasamu meski jauh
Apa kau merasa sepi
Karena telah cukup bagiku
Melihat gemerlapmu
24/06/18. 15.31
BINTANG TANPA LANGIT
Kurasa tidak
Bahkan disekelilingmu riuh riang anak
Apa kau lelah
Tidak juga
Bintang-bintang kecilmu kulihat selalu ceria
Mungkinkah ada yang hilang darimu
Langit-langitmu
Langitmu
Sebetulnya saya bukanlah manusia. Saya seekor kera yang berevolusi menjadi manusia. Tidak usah mendebat teori Darwin, barang kali yang diteliti oleh Darwin memang keturunan saya, bukan keturunan Nabi Adam.
Ceritanya begini, di komunitas hewan ada Singa Sang Raja Hutan, Gajah Sang Patih, Kera sang Prajurit, dan hewan-hewan lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Saya termasuk prajurit yang ngeyelan, setiap kebijakan Sang Raja Hutan yang tidak berperi kehewanan pasti saya lawan. Tentu tidak dengan tangan saya, dilihat secara kasat mata jelas saya kalah. Kengeyelan saya membuat Sang Raja Hutan gerah. Padahal saya menyuarakan keberatan hewan lain, mengapa hewan harus makan hewan. Karena itulah saya diusir dari dunia fauna dan sekarang menetap di dunia fana sebagai manusia.
Tidak mudah menjadi seorang manusia, saya harus belajar berjalan tegak. Sayapun harus merelakan ekor belakang saya, sementara ekor yang lain saya sisakan untuk menyambung generasi. Dalam hal makan, saya masih mengandalkan berburu dan meramu, tentu saya tidak berburu hewan lain karena saya masih berperi kehewanan. Saya tidak bisa lagi seenaknya mengambil makanan dari pohon lain yang tidak saya tanam. Saya mesti bersabar menanam, menuai, dan apabila lahan yang saya tanami berkurang kesuburannya saya mesti berpindah tempat. Hingga akhirnya saya terdampar pada zaman ini, yang untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak hanya mengandalkan makanan. Mesti punya pakaian dan tempat tinggal. Bahkan untuk mendapatkan semua itu bisa hanya dengan menukar lembaran kertas yang mereka sebut uang.
Uang, benda ajaib yang bisa mengubah apapun. Jelek jadi cantik, klasik jadi menarik, fakir jadi tajir, Bahkan kalau punya uang yang banyak, mudah saja menjadi seorang pemimpin selama menggunakan pemilihan langsung. Mengapa? Karena yang dibutuhkan pemilih adalah uangnya, bukan yang dipilihnya. Bisa saja kemiskinan memang diciptakan agar manusia mudah dikendalikan dengan uang. Maka jangan coba-coba yang miskin menulari yang kaya. Kalau yang kaya ketularan miskin siapa yang mau berderma?
Tidak mudah hidup sebagai seorang manusia, awalnya saya mengira bahwa manusia yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, baik fisik maupun psikis mempunyai kebijaksanaan yang luar biasa ternyata sama saja. Ada yang memang bijaksana dan ada juga yang hanya bijak di sana, di sini tidak. Tapi begitulah Sang Pencipta, seadil-adilnya pemberi keadilan. Belum tentu yang adil di mata manusia ternyata tidak menurut Sang Pencipta.
Maka saya bertekad kembali menjadi kera, membawa ilmu manusia dan akan saya kembangkan di dunia satwa. Saya bercerita tentang suksesi kepemimpinan. Pemimpin tidak diwariskan tapi diciptakan. Biarkan mereka memilih pemimpinnya sendiri sesuai hati nurani. Aku kampayekan sekaligus mohon doa restu untuk mencalonkan diri, namun ternyata jawaban mereka mayoritas sama, berani bayar berapa?.
Aku berkunjung ke suatu tempat
Atau angkasa raya
Memang kau tak pernah bicara
Tapi aksara yang kau tulis dibaca dunia
Keluh tak kan menghapus peluh
Lekaslah susul angkasamu
17/11/17.00.23
Rabu, 17 Juni 2020
BONGGAN GELEM DADI UWONG
KHITBAH
bersama empat orang sahabat
dan seseorang yang tak perlu umpama.
Niat utama silaturrahmi ke rumah bintangku dulu
Aku agak lupa tempatnya
Hingga ku putuskan mampir di warung siomay
Sembari kirim WA kepada bintangku
Gang 8 sebelah mushola
Bukan
Seberang jalan sebelah TPA
Ku temui juga alamat lengkapnya
Sebelum beranjak dari warung siomay
Seseorang yang tak perlu umpama memesan tiga butir kelapa
Untuk kolak nanti sore menu berbuka
Sampai juga di rumah bintangku
Aku ragu
Kenapa ramai seperti ada acara khusus
Aku dipandu masuk
Seorang lelaki berkata
Ia tidak akan melangkah
Maksudnya
Menuju kamu
Aku tak paham
Kulihat sekelilingnya
Semua hidangan tersaji lengkap
Begitupun para sesepuh
Ini acara apa
Apakah lamaran
Siapa untuk siapa
Bukankah bintang telah menemukan langitnya
Dan gelap telah bersama seseorang yang tanpa umpama
Aku menoleh
Dimanakah empat sahabatku
Dan seseorang yang tak perlu umpama
Aku datang bersama mereka
Tiba-tiba entah kemana
Hanya aku
Terpaku
Mimpi dini hari Rabu Legi di Bulan Mei 2020
Langganan:
Postingan (Atom)
MARI BERSYUKUR GAES!
Bersyukur itu tidak selalu berarti menerima apa adanya.Kadang yang ada memang sudah cukup untuk disyukuri.Tapi kalau bisa ditambahkan sesua...



