Jumat, 15 Juli 2022

KAYA DINA BADA

 


Tanggal 26 Nopember 2021 dina sing tek nteni. Atiku bungah banget yakin, bisa ngajak kanca-kanca maring Banyumas. Janjane inyong isin, angger kegiatan FKKS bisane teka ijen bae. Lah piwe maning, laka sing gelem diajak. Pokoke piwe carane nggone eklan. Inyong eklan nek Maharaja kuwi MI paling maju, bilingual class, duwe kebon melon, kepalaeh ngganteng pisan, kaya artis Korea sisih lor, ya beda tipis lah, luwih kandel Kang Indra. Kapan ora pada ya padakpadakna karo presidene Korea sisih Lor. Kejaba kuwi nek bisa mangkat Dina Jumat, apan diajak maring kebon melon duweke Mahadia, kepalaeh wadon tapi setrong kaya Nini Dakem, jenenge Welas Rarasati. Embuh kuwe sapane Nini Dakem.

Wengi Jumate inyong videocall nang grup WA sing anggotane mung uwong enem. Inyong dewek, Tadz Azam Kepala SDM PK Paesan, Tadz Nurdin Sholeh Kepala SDM Tanjungkulon, Tadzah Junaenah Kepala SDM Pangkah, Tadzah Rahma Kepala SDM Tahfizhul Quran Wonokerto, siji maning Tadzah Umi Isrotun Kepala SDM 3 Pekajangan. Disepakati mangkat sekang Paesan jam 10.00. Inyong, Bu Jun, Bu Umi langsung maring Paesan. Bu Rahma ngenteni nang Kajen ngarep Gedung Dakwah Muhammadiyah Kab. Pekalongan.  Pak Soleh ngenteni nang tugu 0km Kajen.

Jam sepuluh punjul mulai mangkat maring Banyumas lewat jalur Kajen – Kesesi – Bodeh - Pemalang. Mampir jumatan nang masjid sing esih dibangun, bejane inyong gawa sajadah, jamaah sing teka keri pada ora olih enggon. Bar Jumatan, mampir madhang nang Randudongkal, eh jebule ketemu tanggane dewek bos kayu sing pada wae lagi madhang, jarene bar mulih seka Guci.

Kira-kira jam setengah papat, rombongan wis tekan Maharaja. Langsung disambut para bidadari Maharaja. Rombongan liya kaya-kayane wis pada siyap maring Green House.

Mari pada rampung solat asar, bidadari kuwe mau nggawakna inyong pecel sak kranjang. Langsung pada dipangan nang jero Avanza. Pecel combrang, lontong, lan bakwan. Hemmm enak tenan....!

Tekane green house jebul rombonganku teka paling disit. Kok esih sepi, apa uwis rampung ya acarane.  Liyane pada maring greenhouse inyong ming ning galengan ngentekna pecel mau. Nembe sak emplokan, rombongan liyane pada teka. Mangkat disit urung mesti tekan disit ya. Kaya slogane mobil Carry, Carry – carry puwo sing penting disit, hahaha.

Bali sekang greenhouse disambut sajian makan malam tahu gecot, ya kaya ketoprak, tahu campur, apa lontong tahu lah. Mari kuwi peserta pada sharing. Masing-masing perwakilan Kabupaten/Kota nyampeake bestpractice e dewek-dewek. Gilirane inyong, bingung apan nyapekakae apa, lha wong best kabeh koh, gayane padahal ora eneng best-best e kejaba luwih tuwa sekolaeh.

Maju mundure sekolahan salah sijine peran kepala sekolah, mung kepala sekolah kuwi dudu Supermen, ora kudu bisonan (nompak Yamaha Bison maksudeh) ya kadangkala Avanzanan senajan dudu Avanzane dewek. Jan pokoke diskusine gayen pisan nganti ora eling wektu.

Mari kuwi isuke diajak Kang Indra maring Bendung Gerak Serayu, sarapan ana kana menune soto karo lontong, ora lali mendoane. Ana sing nyletuk, ndene lontong maning – lontong maning, kaya dina bada bae. Wes lah ora usah reang gari mbadog bae koh, rewes.

Pamitan seka Maharaja, disambut senyuman para bidadarine Maharaja, jarene para bidadari yang buruk tinggalkan saja, yang baik silahkan dibawa. Piwe kiye Kang Indra, bidadarine baik-baik kabeh, apan tek gawa  ora eneng enggone.

Ketrangan foto: Lagi pada sarapan lontong ana Bendung Gerak Serayu
Fotone njukut sekang FBne Ustadz Heru Nugroho (Piyantune sisih tengen ngagem rompi) 
Sing kiwa anggo kaos ijo kuweh Kang Indra Kepala Sekolaeh Maharaja.
Kyai Pamuji Raharjo (Ketua FKKS SD/MI Muhammadiyah Jawa Tengah) ngagem batik kaliyan kopiah.

Minggu, 08 Mei 2022

KAROMAH SANG KYAI


 

“Bayang – bayang selalu ada bersama cahaya”

 

Selasa, 18 Agustus 2020 saya mendapat pesan dari Ustadz Daryono berupa Konsep Susunan Organisasi FKKS SD/MI Muhammadiyah Jawa Tengah. Namaku tercantum dengan amanah wakil Pemberdayaan Teknologi Komunikasi dan Informasi.

Selagi saya mampu, saya berusaha tidak menolak amanah. Namun karena susunan organisasi tersebut ada di tingkat wilayah tentu banyak yang lebih mumpuni. Sayapun mencoba merekomendasikan nama lain yang memang lebih mumpuni di Kabupaten Pekalongan, ternyata nama yang saya rekomendasikan sudah tidak mengajar lagi karena mendapat beasiswa S2.

Meskipun saya pribadi siap, namun tetap butuh pertimbangan dari orang lain. Rekan guru dan Dikdasmen Ranting mengijinkan. Istri juga mengijinkan. Maka saya mantapkan, Insya Allah siap bergabung dengan orang-orang hebat.

Rabu, 19 Agustus 2020 Jam 06.00 saya siap melaju karena sudah janjian jam 07.00. Ketika saya tinggalkan uang yang tinggal selembar di dompet untuk istri saya, dia tidak mau menerimanya. Buat cekelan saja katanya,  lagi pula masih ada uang belanja untuk hari ini. Padahal saya bisa saja mampir sebentar di ATM untuk mengambil uang. Namun dicegah juga, jangan biarkan Ustadz Daryono menunggu katanya. Sayapun urung mengambil uang di ATM.

Saya melaju mengendarai Prima istimewa dengan kecepatan sedang. Mampir sejenak di sekolahan untuk copy KTAM. Jam 06.58 sampai di stasiun, segera saya kabarkan. Saya tunggu di halte depan stasiun Pekalongan. Saya kira Ustadz Daryono datang dari arah barat setelah menjemput Ustadz Wahyudi di Ponpes Al-Manar Pemalang. Ternyata lewat tol. Ini yang kedua kalinya kata Tadz Daryono. Kalau sudah dua kali, biasanya yang ketiga dan seterusnya akan mudah.

Waktu menunjukkan pukul 07.19 Ustadz Wahyudi menghubungiku, menyebutku Syaikh. Sangat berlebihan, memangnya Syaikh cap apa yang tidak hafal juz amma. Pukul 07.30 Ustadz Daryono menghubungiku memastikan lokasi penjemputan. Kemudian pada jam 07.38 Ustadz Wahyudi bertanya pintu keluar tol dan minta shareloc. Pukul 07.40 Ustadz Daryono mengabarkan kalau pintu keluar tol Kajen ditutup. Tepat pukul 07.51 kami bertemu.

Di SD Mapan disambut oleh Ustadzah Alifia bersama mitra kerjanya dengan penuh suka cita. Sementara saya merasa gagap gempita. Iya gagap, bertemu orang-orang hebat. Dari sekian peserta saya hanya mengenal beberapa nama. Ustadz Sukaryo - SDM Sudagaran Wonosobo, meski berkali-kali singgah dan sempat separuh hatiku tertinggal di Jalan Dieng KM.9, namun pertama kali merasakan lezatnya mie ongklok justru di SDM Sudagaran. Ustadz Mustaqim - Mutual Dua Kota Magelang, kota di mana sepenuh hatiku tertambat di situ. Dan, Ustadz Daryono SD Musabangga yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, karena beliau lakonnya dalam cerita ini.

Inti acaranya biar diceritakan yang lain saja, karena telah kita saksikan bersama betapa hebatnya Sang Hafidzah Cilik yang tentu di balik kehebatannya ada guru-guru yang hebat pula.. Tentang semangat para penggerak, Ustadz Latif dan Ustadzah Welas yang berangkat paling gasik tapi sampai paling akhir. Meski paling akhir tapi tetap tepat waktu, waktunya makan siang. Syaikh Pamuji (kalau yang ini Syaikh aseli), dan Kyai Mas Jamaluddin Kamal (jangan lupa dal nya tasydid ya) sebagai lokomotifnya, biar kita-kita yang jadi batu baranya.

Tak biasanya sesiang ini sudah makan 3 kali. Sebelum berangkat saya sempatkan sarapan sego megono. Dalam perjalanan, jam 09.30an sarapan lagi nasi padang ditraktir oleh Ustadz Wahyudi. Dan makan siang, ayam kecap atau apa ya yang lezatnya luar biasa jamuan dari Ustadzah Alifia. Betul-betul over dosis bagi saya yang kapasitas lambungnya terbatas. Hingga sajian coffebreak tidak tersentuh sama sekali. Maka tak heran bila dalam perjalanan pulang saya terlelap.

Saya tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Ustadz Wahyudi dan Ustadz Daryono di balik kemudi Datsun Go. Baru saya ketahui bahwa ternyata, Ustadz Daryono mentransfer ilmu dan jurus -jurusnya kepada Ustadz Wahyudi, sementara saya masih terlelap. Rugi dong, di atas roda yang sama dengan orang hebat malah terlelap.

Tapi tidak juga, saya berkesempatan bicara apa adanya, jujur saya katakan kepada Ustadz Daryono bahwa saya merasa tidak mampu mengemban amanah ini. Meskipun saya tahu di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Saya tahu itu. Tapi saya tetap merasa bayang-bayang besar mengikutiku, tentang kemampuan yang terbatas, bagi tugas yang belum tuntas, banyaknya amanah yang belum tertunaikan, baik di sekolah, Pemuda Muhammadiyah, dan sebagai panitia pembangunan Masjid Al-Huda Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kutosari yang membutuhkan dana setidaknya 1,5M sementara dana yang sudah terkumpul sekitar 700an Juta dengan progres pembangunan mencapai 70%. Tentu saja yang 25%nya belum terbayar,  dan lain sebagainya. Namun dengan tenang Ustadz Daryono mengatakan, “Selama antum berjalan menuju cahaya, bayang-bayang tetap ada di belakang antum. Ketika antum menjauhi cahaya justru bayang-bayang itu akan menghadang di depan antum, bukan mengikuti di belakang lagi. Jadi, teruslah melangkah menuju cahaya maka bayang-bayang itu akan hilang dengan sendirinya ketika antum menjadi bagian dari cahaya tersebut”.  Terima kasih Ustadz, Insya Allah saya kembali mantap.

Tok – tok - tok..., sepertinya ada tamu Tadz. Seketika saya terbangun dan melihat Ustadz Daryono dan Ustadz Wahyudi sedang menggedor pintu, bagasi, ban dan seluruh bagian Datsun Go-nya karena ada yang tidak beres. Sementara saya masih bingung sendiri di dalamnya.

 Jadi, yang tadi itu cuma mimpi ya?. Yah,... barangkali begitulah Karomah Sang Kyai, tetap bisa adil membagi ilmunya meskipun berbeda dimensi. Kalau beda dimensi saja bisa berbuat adil, bagaimana dengan yang nyata ya? Sungguh luar biasa.

Mudisar, 28 Agustus 2020. 02:04

 

 

Kamis, 10 Februari 2022

PANEN MELON MAHADIA


 dening Dul Sukur
(Wakil Ketua Bidang Teknologi, Komunikasi dan Informasi FKKS SD/MI Muhammadiyah Jawa Tengah)

Rasane uwis sesasi punjul ora krungu glowehane Nini Dakem. Mula, 26 Nopember 2021 wingi inyong maring Banyumas. Jebul Nini Dakem lagi sibuk-sibuke panen melon. Sing jarene melon golden aroma.

Gene melon duwe omah barang ya, ana payone, ana pagere, nanging ora thukul sakjroning lemah. Jarene kuwi sing diarani melon hidroponik, mergo ditandhur kanthi media banyu.

Nang kana uwis rame mbanget, ana Pak Pahri Ketua PP FGM, ana Pak Pamuji Raharjo ketua FKKS SD/MI Muhammadiyah Jawa Tengah, lan ketua FKKS SD/MI Muhammadiyah Kabupaten/Kota se- Jawa Tengah, pokoke ruame mbanget.

“Ni, melone didum gratis apa?”

“Ya didol lah”

“Pira?”

“Telung puluh ewu sekilo!”

“Njajal siji kene”

Barang uwis dijukutna melon sing bobote sekilo patang ons, ternyata, wujude melon cuilik.

“Nini, iki melon apa jeruk?”

“Lha weruhe rika apa?”

“Melon sak upil kok patang puluh loro ewu”

“Angger upile rika gedhene sak melon, tek bayar 11T”

“Hahaha...aja sewot bae lah Ni”

“Rika durung icip kok muni larang, cicip disit kana, angger ora enak ora usah bayar”

Barang uwis tek cicipi, rasane kok beda karo melon biasa. Melone Nini Dakem luwih gurih, luwih manis, sekang aromane bae, jan mingin-mingini pokoke.

“Bener kandane rika Ni, iki melone renyah mbanget. Manis pisan, pantes regane larang. Tapi ya, janjane ora pati larang ari rasane seenak ini. Inyong yo wani bayar satus ewu patang kilo”

“Patang kilo satus rong  puluh ewu, Dul !” Nini Dakem ngegas karo nunyul endhasku.

Senin, 19 April 2021

AL-HUDA

 

Masjid ini sudah ditempati, namun belum sepenuhnya jadi. Masih terbuka kesempatan infak dan amal jariyah dari anda semua. 

MARI BERSYUKUR GAES!

 Bersyukur itu tidak selalu berarti menerima apa adanya.Kadang yang ada memang sudah cukup untuk disyukuri.Tapi kalau bisa ditambahkan sesua...